Redaksiku.com – Fenomena budaya pop sering kali hadir di momen yang nggak terduga. Salah satunya kini terjadi di Nepal, di mana ribuan massa turun ke jalan dengan membawa bendera bajak laut One Piece atau lebih dikenal dengan Jolly Roger Straw Hat Pirates.
Uniknya, aksi ini disebut-sebut terinspirasi dari apa yang sebelumnya sempat viral di Indonesia, ketika bendera One Piece dijadikan simbol solidaritas dalam aksi protes.
Bendera berlogo tengkorak dengan topi jerami itu bukan sekadar aksesori keren, melainkan simbol perlawanan yang kini jadi ikon baru di jalanan Kathmandu, Pokhara, dan sejumlah kota besar lain di Nepal.
Awal Mula Aksi Demo di Nepal
Gelombang protes besar-besaran di Nepal meledak pada 8 September 2025. Pemicunya adalah keputusan pemerintah yang tiba-tiba menerapkan larangan total penggunaan media sosial. Akses ke platform besar seperti Facebook, Instagram, dan TikTok langsung diblokir, bikin masyarakatterutama generasi mudamerasa hak mereka dirampas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebijakan ini datang di tengah kondisi sosial yang udah panas karena masalah korupsi dan ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli. Jadi, nggak heran kalau dalam hitungan jam, protes yang awalnya kecil langsung melebar jadi aksi nasional.
Jolly Roger Jadi Simbol Perlawanan
Yang bikin aksi ini viral bukan cuma jumlah massa yang turun, tapi juga pilihan simbol yang mereka pakai. Dalam lautan manusia, terlihat jelas bendera hitam dengan gambar tengkorak tersenyum bertopi jerami dengan tulang bersilang.
Itu adalah Jolly Roger, lambang bajak laut topi jerami atau Straw Hat Pirates, kelompok yang dipimpin Monkey D. Luffy dalam anime legendaris One Piece karya Eiichiro Oda.
Buat fans anime, simbol ini udah nggak asing. Tapi, ketika dipakai dalam demonstrasi politik, maknanya jadi jauh lebih dalam. Para demonstran seolah mau bilang kalau mereka, seperti kru Luffy, adalah sekelompok orang biasa yang bersatu menentang ketidakadilan dan otoritas yang mengekang.

Terinspirasi dari Indonesia
Kalau mundur sedikit ke belakang, bendera One Piece sempat heboh di Indonesia beberapa waktu lalu. Di beberapa aksi unjuk rasa, ada massa yang juga mengibarkan simbol yang sama sebagai bentuk ekspresi bebas sekaligus tanda solidaritas.
Media asing menyebut tren itu kemungkinan besar menyebar ke Nepal lewat internet. Jadi, saat pemerintah Nepal malah memblokir medsos, bendera One Piece jadi bentuk balasan kreatif dari rakyatnya. Semacam sindiran: meski akses digital diputus, ide dan simbol tetap bisa hidup di jalanan.
Situasi di Lapangan
Menurut laporan dari The Hindu, unjuk rasa di Nepal berlangsung panas. Ribuan orang memenuhi jalan-jalan utama, sebagian membawa poster bertuliskan tuntutan, sebagian lagi mengibarkan Jolly Roger setinggi-tingginya.
Sayangnya, aksi ini juga diwarnai kekerasan. Data awal menyebutkan 23 orang tewas dan lebih dari ratusan lainnya luka-luka. Polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet buat membubarkan massa, tapi itu justru bikin situasi makin chaos.
Gedung-gedung pemerintahan jadi sasaran amukan, dan beberapa rumah pejabat dilaporkan rusak karena serangan massa.
Peran Generasi Muda
Sama seperti di Indonesia, anak muda alias Gen Z jadi motor utama gerakan ini. Mereka adalah kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial, sehingga larangan dari pemerintah otomatis bikin mereka paling marah.
Buat Gen Z, media sosial bukan cuma tempat hiburan, tapi juga ruang berekspresi, cari informasi, bahkan sarana kerja. Jadi ketika ruang itu diputus, mereka merasa langsung kehilangan kebebasan dasar.
Penggunaan simbol One Piece pun dianggap cocok, karena anime ini bercerita tentang petualangan mencari kebebasan sejati. Luffy dan kru-nya melawan otoritas-otoritas besar, mirip dengan situasi para demonstran yang menghadapi kekuasaan pemerintah.
Reaksi Publik Internasional
Video bendera One Piece berkibar di Nepal langsung viral di berbagai platform. Ironisnya, meski pemerintah sempat melarang, konten itu tetap berhasil keluar lewat berbagai jalur alternatif.
Media internasional kayak Reuters, The Hindu, sampai Times of India ramai memberitakan fenomena ini. Di Twitter (X), banyak netizen global yang menyebut aksi ini sebagai bukti bahwa budaya pop Jepang udah bener-bener mendunia sampai bisa jadi simbol perlawanan politik.
Di Indonesia sendiri, banyak netizen ikut bangga sekaligus terharu, karena simbol yang sebelumnya ramai di tanah air ternyata diadopsi oleh negara lain dalam konteks perjuangan.
Simbolisme di Balik One Piece
Kalau ditarik lebih jauh, penggunaan bendera bajak laut ini sebenarnya punya filosofi mendalam. Dalam cerita One Piece, topi jerami adalah simbol mimpi, tekad, dan kebebasan. Kru bajak laut Luffy bukanlah orang-orang sempurna, tapi mereka punya satu kesamaan: nggak mau tunduk pada aturan yang mereka anggap nggak adil.
Pesan ini resonan banget dengan semangat demonstrasi. Para massa ingin kebebasan mereka kembali, ingin pemerintah transparan, dan ingin hidup di negara tanpa korupsi.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






