Perjuangan seorang bidan desa di Jorong Sinuangon, Nagari Batang Kundur, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, menjadi perhatian publik.
Aksi heroiknya viral setelah terekam sedang menyeberangi sungai deras tanpa jembatan demi membantu warga yang membutuhkan pertolongan medis.
Insiden ini terjadi setelah satu-satunya jembatan penghubung di Batang Pasoman roboh dan belum mendapatkan penanganan darurat dari pihak terkait.
Dengan perlengkapan medis di punggung, bidan tersebut tampak menuruni tebing curam dan menyeberangi sungai berlumpur sendirian tanpa bantuan alat keselamatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kejadian ini memperlihatkan kondisi darurat di lapangan yang dialami oleh tenaga kesehatan di daerah terpencil.
Kronologi Aksi Bidan Desa yang Viral di Media Sosial

Peristiwa bermula ketika jembatan di wilayah Batang Pasoman, yang menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah di Jorong Sinuangon, dilaporkan roboh pada akhir Juli 2025.
Akibatnya, akses menuju sejumlah rumah warga, termasuk pasien yang memerlukan pertolongan medis, terputus total tanpa jalur alternatif.
Pada 1 Agustus 2025, akun Instagram @kaba.pasaman mengunggah video berdurasi singkat yang memperlihatkan seorang bidan desa melintasi medan ekstrem sendirian.
Dalam video tersebut, ia terlihat berhati-hati melangkah menuruni tebing terjal, kemudian masuk ke sungai yang dipenuhi arus deras sambil membawa tas medis.
Aksi tersebut direkam oleh warga yang berada di lokasi dan langsung menyebar luas di media sosial, mengundang reaksi dari ribuan warganet.
Reaksi Warganet dan Kondisi Infrastruktur di Jorong Sinuangon
Video tersebut menuai beragam tanggapan, mulai dari pujian atas dedikasi sang bidan desa hingga kritik terhadap kondisi infrastruktur yang dianggap memprihatinkan.
Banyak pengguna media sosial menyebut bahwa tindakan tersebut menunjukkan pengabdian yang luar biasa dari tenaga kesehatan, namun sekaligus menyoroti lemahnya perhatian pemerintah terhadap wilayah terpencil.
Komentar seperti pengabdian tak ternilai dan negara harusnya hadir muncul bersamaan dengan kekhawatiran tentang keselamatan tenaga medis di daerah sulit akses.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah mengenai langkah konkret perbaikan jembatan atau penyediaan jalur darurat.
Pihak dinas kesehatan setempat juga belum memberikan pernyataan terkait dukungan dan keselamatan petugas di lapangan.
Tantangan Bidan Desa di Wilayah Terpencil Sumatera Barat
Kejadian ini menjadi potret kondisi lapangan yang dihadapi bidan desa yang bertugas di pelosok.
Sebagai tenaga kesehatan lini pertama di pedesaan, mereka sering kali berhadapan langsung dengan risiko medan sulit dan minimnya sarana pendukung.
Beberapa wilayah di Sumatera Barat, termasuk Nagari Batang Kundur, masih mengalami kendala akses jalan, jembatan, serta alat transportasi medis.
Dalam situasi darurat, seperti saat jembatan putus atau akses terputus, bidan desa harus mengandalkan inisiatif pribadi untuk tetap menjangkau pasien.
Kondisi ini mengakibatkan pelayanan kesehatan darurat menjadi sangat bergantung pada keberanian dan kesanggupan individu petugas medis.
Penanganan Belum Dilakukan, Warga Harap Ada Respons Cepat
Warga di sekitar Jorong Sinuangon berharap agar kejadian ini mendorong percepatan pembangunan atau setidaknya penyediaan jembatan darurat.
Sementara itu, situasi di lapangan masih belum berubah, dan warga yang tinggal di seberang sungai tetap sulit menjangkau fasilitas kesehatan terdekat.
Beberapa warga menyatakan, selama ini bidan desa merupakan satu-satunya petugas medis yang rutin berkeliling memberikan layanan, termasuk dalam kondisi cuaca buruk.
Ketiadaan respons cepat dari pemerintah membuat masyarakat bergantung pada inisiatif individu tanpa jaminan keselamatan atau fasilitas penunjang.
Warga berharap, kisah yang sudah viral ini dapat menjadi perhatian serius, agar akses kesehatan di daerah tidak terus terhambat akibat infrastruktur rusak.
Penutup: Dedikasi Bidan Desa dan Urgensi Pemerintah Hadir
Kejadian yang dialami bidan desa di Nagari Batang Kundur bukanlah yang pertama di wilayah terpencil Indonesia.
Namun viralnya video ini membuka kembali diskusi publik tentang pentingnya pemerataan infrastruktur dasar, terutama akses kesehatan.
Pemerintah diharapkan segera melakukan pemetaan wilayah rawan serta memberikan dukungan maksimal kepada petugas medis di garis terdepan.
Dedikasi seperti yang ditunjukkan bidan desa tersebut patut diapresiasi, namun tidak boleh menjadi standar normal dalam sistem pelayanan kesehatan.
Kehadiran negara di wilayah pelosok bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi perlindungan nyata bagi mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa setiap hari.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






