Redaksiku.com – Karier gemilang kembali menghampiri sosok perwira polisi berprestasi, Irjen Pol Komjen Dwiyono, yang kini resmi menyandang pangkat baru sebagai Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol).
Kenaikan pangkatnya diumumkan secara resmi pada Senin, 6 Oktober 2025, dalam sebuah upacara di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Mabes Polri, Jakarta.
Upacara tersebut menjadi momen istimewa, karena dilakukan bersamaan dengan pelantikan 26 perwira tinggi (Pati) Polri lainnya. Momen ini sekaligus menandai babak baru perjalanan panjang Dwiyono di dunia kepolisian dan birokrasi pemerintahan Indonesia.
Dari Polisi Lapangan hingga Sekjen KP2MI
Sebelum menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwiyono dikenal sebagai sosok yang sudah malang melintang di berbagai satuan Polri. Ia resmi dilantik sebagai Sekjen KP2MI pada 5 Februari 2025 oleh Menteri P2MI kala itu, Abdul Kadir Karding.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum bergabung dengan KP2MI, Dwiyono lebih dulu mengabdi di Badan Intelijen Negara (BIN), tempat ia menempati sejumlah jabatan strategis.
Selama bertugas di BIN, ia pernah dipercaya sebagai Deputi Bidang Intelijen Pengamanan Aparatur (IA), Direktur Aparatur Negara, Direktur Respons Ancaman, hingga Direktur Deteksi Dini di bidang intelijen siber.
Karier panjangnya di dunia intelijen inilah yang membentuk citra Dwiyono sebagai sosok yang tenang, analitis, dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi kualitas yang sangat dibutuhkan dalam menangani isu perlindungan pekerja migran yang kompleks.
Perjalanan Karier di Kepolisian
Jika ditelusuri dari awal, kiprah Dwiyono di kepolisian dimulai jauh sebelum ia terjun ke dunia birokrasi. Ia memulai kariernya di Polres Metro Jakarta Utara pada tahun 1995. Perlahan tapi pasti, kariernya terus menanjak berkat kinerja disiplin dan rekam jejak yang bersih.
Pada tahun 2009, ia dipercaya menjadi Kepala Bagian Pengendalian Personel (Kabag Dalpers) di Polda Metro Jaya, sebuah posisi penting yang menangani manajemen sumber daya manusia di tubuh kepolisian daerah.
Tiga tahun kemudian, tahun 2012, Dwiyono mendapatkan kepercayaan menjadi Kapolres Banyumas. Kinerjanya yang solid membuatnya kembali dipromosikan menjadi Kapolresta Depok (2015), lalu Kapolres Metro Jakarta Pusat (2016), dan tak lama kemudian menjadi Kapolres Metro Jakarta Utara (2017).
Selain di lini operasional, Dwiyono juga pernah terlibat di bidang pendidikan kepolisian. Ia sempat menjabat sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri pada tahun 2017 posisi yang menegaskan kapasitas akademis dan kepemimpinannya di dunia pendidikan hukum dan kepolisian.
Profil Singkat: Putra Asal Demak yang Cerdas dan Visioner
Dwiyono lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 23 Juli 1972. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1994, dan termasuk dalam jajaran perwira yang dikenal tekun menempuh pendidikan berjenjang.
Setelah lulus Akpol, ia melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 2002, kemudian mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) pada tahun 2009, serta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) pada tahun 2018.
Tak berhenti di situ, Dwiyono juga mengembangkan sisi akademiknya di luar institusi kepolisian. Ia berhasil meraih gelar Magister dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2007, dan baru-baru ini menuntaskan program Doktor di Universitas Jayabaya pada tahun 2025.
Ketekunan dan komitmennya terhadap pendidikan menjadi bukti bahwa dirinya bukan hanya polisi lapangan, tetapi juga seorang intelektual yang memahami pentingnya ilmu dalam membangun sistem hukum dan birokrasi yang modern.
Laporan Harta Kekayaan Komjen Dwiyono
Sebagai pejabat publik, Dwiyono juga tercatat telah menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 16 April 2025.
Laporan tersebut telah terverifikasi secara administrasi, dan menunjukkan bahwa total kekayaannya mencapai Rp10,58 miliar.
Jumlah tersebut mencerminkan kekayaan yang wajar dan transparan untuk pejabat dengan karier panjang di dunia kepolisian dan pemerintahan.
Aset Properti
Komponen terbesar dalam laporan kekayaan Dwiyono berasal dari harta tanah dan bangunan dengan total nilai mencapai Rp5,34 miliar.
Rinciannya antara lain:
-
Tanah hasil sendiri di Pekanbaru senilai Rp90 juta.
-
Tanah seluas 10.060 m² di Subang dengan nilai Rp300 juta.
-
Tanah dan bangunan warisan seluas 952 m² di Demak senilai Rp1,75 miliar.
-
Tanah dan bangunan warisan seluas 1.296 m² di Jakarta Timur dengan nilai Rp2,9 miliar.
-
Serta tanah dan bangunan hasil sendiri seluas 9.360 m² di Subang dengan nilai Rp300 juta.
Semua aset tersebut dilaporkan dengan detail dan sudah sesuai ketentuan pelaporan KPK.
Aset Kendaraan dan Barang Bergerak
Selain properti, Dwiyono juga memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp510 juta, terdiri dari dua kendaraan pribadi:
-
Land Cruiser Jeep Hartop tahun 1981 senilai Rp350 juta.
-
Toyota Kijang Innova tahun 2013 senilai Rp160 juta.
Ia juga melaporkan harta bergerak lainnya senilai Rp698 juta, yang umumnya berupa barang-barang berharga, koleksi, atau perabot bernilai tinggi.
Simpanan Tunai
Dalam LHKPN tersebut, Dwiyono juga mencantumkan simpanan kas dan setara kas sebesar Rp4,04 miliar.
Menariknya, laporan kekayaannya menunjukkan bahwa ia tidak memiliki utang sama sekali, sebuah hal yang cukup jarang ditemukan pada pejabat publik dengan jabatan tinggi.
Dengan struktur kekayaan yang seimbang antara aset tetap dan likuid, laporan tersebut menegaskan bahwa Dwiyono merupakan figur pejabat yang tertib administrasi, transparan, dan akuntabel.
Dedikasi di KP2MI
Sebagai Sekjen KP2MI, Dwiyono memegang peran penting dalam melindungi dan memastikan kesejahteraan pekerja migran Indonesia di luar negeri.
Posisi ini menuntut kemampuan manajerial tinggi, serta kepekaan terhadap isu-isu sosial, ekonomi, dan hukum yang dihadapi para pekerja migran.
Selama menjabat, ia dikenal aktif memperkuat sistem perlindungan hukum dan digitalisasi layanan bagi pekerja migran.
Dengan latar belakang intelijen dan kepolisian, ia banyak membantu dalam penanganan kasus-kasus perdagangan manusia serta penipuan berkedok lowongan kerja luar negeri.
Beberapa program yang ia kawal juga berfokus pada pemberdayaan eks-pekerja migran dan penguatan kerja sama antar lembaga internasional dalam konteks migrasi aman dan legal.
Figur Tegas tapi Humanis
Meski berlatar belakang aparat, sosok Komjen Dwiyono dikenal memiliki sisi humanis yang kuat. Rekan-rekannya di KP2MI menilai ia sebagai pemimpin yang disiplin, komunikatif, dan mudah didekati.
Di sisi lain, ia juga tetap menampilkan ketegasan khas polisi saat berhadapan dengan situasi yang membutuhkan keputusan cepat.
Kombinasi antara ketegasan dan empati inilah yang membuatnya disegani baik oleh anak buah maupun rekan sejawat di pemerintahan.
Penutup
Kenaikan pangkat Komjen Dwiyono bukan sekadar bentuk penghargaan terhadap pengabdian panjangnya di dunia kepolisian, tetapi juga simbol apresiasi atas dedikasinya di ranah perlindungan pekerja migran.
Dengan pengalaman di intelijen, kepolisian, dan birokrasi, ia menjadi contoh pejabat yang berintegritas dan kompeten.
Melihat rekam jejak dan kekayaan yang dilaporkan secara terbuka, publik menilai Dwiyono sebagai sosok pejabat yang profesional, transparan, dan rendah hati kualitas yang jarang ditemukan di tengah dinamika birokrasi modern.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






