Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 23)
Toni melamun mengenang kebersamaan dengan Erlika. Tiba-tiba seberkas energi menyusup ke dalam pikiran Toni, menghapus ingatan kebersamaan bersama wanita yang pernah menjadi pilihan hatinya. Dia tersentak, akal sehatnya bekerja, tubuhnya gemetar. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa keluarganya sedang dalam bahaya, terutama Ratih, istrinya. Namun, dia masih belum bisa membebaskan diri. Toni belum merasakan keberadaan Mpek An Cong.
Di tempat perlindungannya Mpek An Cong sedang berjuang, mencoba mencari celah di antara kekuatan kegelapan itu. Ia tahu waktunya makin sedikit, dan jika terlambat, keluarga Toni bisa hancur selamanya. Sesaat-sesaat Toni merasakan getaran lain yang mencerahkan pikiran dan meningkatkan tekad untuk lolos dari tempat itu.
Sementara di kamar tidurnya, Ratih tergolek lemah ditunggui oleh Mbok Isah. Dibujuk bagaimana pun untuk makan atau minum, Ratih tetap tidak mau. Bayangan kejadian di kamar mandi atau pun di meja makan membuatnya mual. Ninit masuk setelah selesai sarapan. Gantian Isah keluar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ninit duduk di sisi pembaringan, sambil mengelus kepala Ratih dengan sepenuh hati. Kamu mau makan apa, Sayang? Pesen bubur ayam, ya? Atau makan buah?
Tiba-tiba Isah nongol di pintu, memberi tanda agar Ndoro Putrinya keluar sebentar. Ninit mendekat, Isah berbisik perlahan, Ndoro, cobi Den Ratih diberi susu kemasan biar ndak melihat isinya!
Ah, iya Sah bener. Cepet ambil kalau ada, kalau ndak, ya suruh si Nono beli. Ratih suka yang coklat! kata Ninit semangat.
Ratih hanya mendengar sayup-sayup. Telinganya berdengung, matanya berkunang-kunang, kepalanya berdenyut. Dia mencoba memejamkan mata sambil berzikir seperti yang diajarkan ustazahnya. Ninit kembali duduk, Ratih membuka matanya yang sayu. Badan Ratih demam.
Sayang, kamu kurang minum. Semalam kurang tidur, tadi belum sarapan. Sekarang badanmu demam. Maafkan Mamah, ya. Apa masih terasa sakit? Ratih hanya mengangguk lemah. Air matanya menitik, dia ingin pulang.
Isah masuk membawa beberapa kotak susu uht rasa coklat. Ninit membujuknya, tapi Ratih tetap menolak. Pemandangan darah, air keruh dan bau, serta gumpalan cacing dan belatung yang menggeliat masih menghantui pikirannya. Dengan lembut penuh kasih, Ninit memohon untuk mencoba.
Kamu boleh membuangnya, sayang.
Akhirnya Ratih mau mencobanya. Setelah Isah membacakan ayat-ayat al-Quran, susu diminum dengan selamat. Semua senang. Ratih minta lagi, sungguh harus disyukuri, dia bisa menghabiskan tiga kemasan. Isah memberikan segelas air kemasan. Ratih memandangnya, lalu mencoba menyedotnya, ternyata tidak berubah. Ninit dan Isah merasa lega.
Mah, aku ngantuk.
Tidurlah, Sayang. Mamah di sini menunggumu.
Beberapa saat setelah Ratih tertidur, Barman menyusul masuk kamar. Dia bilang sudah memberitahu Rangga. Barman juga menjelaskan secara garis besar keadaan Ratih dan Toni.
Aku khawatir dengan keadaan Toni. Sampai sekarang Mpek Cong belum ada kabar. HP-nya juga tidak bisa dihubungi.
Coba lagi, Pah. Mungkin tadi Mpek Cong lagi bersemedi mencari keberadaan Toni.
Barman segera mengambil HP di saku celana untuk menghubungi Mpek An Cong. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, gumam Barman kepada dirinya sendiri saat panggilan tersambung.
Ada apa, Barman? suara Mpek An Cong terdengar dari seberang sana, tegas dan serius.
Ratih dalam bahaya besar, Mpek! Barusan dia pingsan, dan semuanya semakin tidak masuk akal. Kami butuh bantuanmu sekarang juga. Apa Toni masih belum ditemukan? Erlika¦ Mpek, dia pasti di balik semua ini! Barman hampir tak bisa menahan kekhawatirannya.
Mpek An Cong terdiam sejenak. Aku sedang dalam proses mencari Toni. Dia sudah terperangkap sangat dalam oleh kekuatan gelap itu, dan aku berusaha memutuskan kendali gaib. Tetapi sepertinya dukun jahat yang dibayar perempuan itu semakin meningkatkan guna-gunanya. Aku akan datang ke rumahmu secepat mungkin, tetapi kalian harus kuat. Jangan biarkan Ratih sendirian.
Hari menjelang senja, panas mentari sudah tidak terasa panas. Terdengar ketukan pintu. Barman dan istrinya buru-buru menyelesaikan doanya, mereka baru saja selesai salat Asar berjamaah. Barman membuka pintu kamar lalu keluar. Ratih terbangun, lalu bangkit duduk. Mah, Ratih kok nggak dibangunin.
Kamu nyenyak sekali, Sayang. Mamah baru mau bangunin kamu untuk salat Asar, jawab Ninit sambil mengemasi sajadah dan mukenanya. Ratih mengambil air minum di nakas membuat hati Ninit mencelos, ternyata Ratih meminumnya dengan tenang sampai habis, seperti sebelumnya. Seketika hatinya seperti diguyur air es, sejuk melegakan.
Sementara itu, di ruang tamu, Barman menyambut kedatangan besan. Rangga dan Arum menyadari suasana ketegangan di rumah itu, namun berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Apakah semuanya baik-baik saja? tanya Rangga dengan nada basa-basi sambil menjabat tangan Barman.
Di kamarnya, setelah merasa segar, Ratih berlalu menuju lamar mandi untuk wudhu. Begitu membuka pintu, Ratih melihat seekor ular hitam legam, panjang dan licin, meliuk cepat keluar dari lubang angin kamar mandi. Matanya merah menyala, seolah menyimpan niat jahat. Ular itu mendesis, suaranya tajam terdengar menusuk hingga ke tulang, menciptakan ketakutan yang tak tertahankan di dalam diri Ratih. Secepat kilat ular hitam itu meluncur ke arahnya. Ratih menjerit sekuatnya.
Toniii! tanpa sadar secara reflek Ratih berteriak memanggil suaminya dengan putus asa. Suaranya bergema di antara dinding-dinding kamar mandi, terpantul keluar lewat pintu yang masih terbuka.
Kuatnya teriakan Ratih terdengar sampai ke ruang tamu. Suara itu nyaring, menggema, seolah membawa kepanikan yang luar biasa.
Ratih! kata Arum dan Rangga terkejut.
Barman bergegas masuk ke ruang dalam, dengan wajah memucat, diikuti besannya dengan langkah cepat dan penuh kekhawatiran. Sejak dibukakan pintu rumah oleh Barman, Arum dan Rangga tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres terjadi. Utamanya karena Toni, menantunya, belum juga terlihat di mana pun.
***
Toni, yang sedang terperangkap dalam dunia gaib, tiba-tiba merasakan getaran kuat di dadanya. Itu bukan rasa sakit, bukan juga sihir yang semakin menjerat. Itu adalah getaran cinta Ratih.
Di dalam belenggu kekuatan dukun suruhan Erlika yang gelap, Toni mendengar samar-samar jeritan Ratih memanggil namanya. Jiwanya bergolak, berusaha merespons. Ada cinta dan ketakutan yang begitu besar di balik suara itu. Cinta Ratih menyelinap masuk melalui celah-celah tipis kesadarannya yang mulai kabur.
Ratih ¦. Toni berbisik lemah, matanya terbuka sedikit demi sedikit. Namun, tubuhnya masih dibelenggu oleh kekuatan misterius yang mencoba menguasainya.
Di kamar tidur tamu vila, Erlika tersenyum dingin, melihat permukaan air di baskom, yang seperti layar televisi menggambarkan keadaan Toni. Dia menyadari perlawanan yang dilakukan Toni. “Kamu tak akan bisa kabur, Toni. Kau milikku sekarang,” bisik Erlika dengan nada manis beracun.
Meskipun bisikan-bisikan Erlika menggangu akal sehatnya, Toni tetap tidak menyerah. Dalam hatinya, sekarang Ratih adalah sumber kekuatan yang sesungguhnya. Ada rasa bersalah, selama ini telah mengabaikannya. Dia pernah tergila-gila pada Erlika, menjadi budak cintanya.
Dengan usaha keras Toni mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, mencoba melepaskan diri dari rantai gaib yang menjerat tubuh dan pikirannya. Getaran cinta itu makin kuat, makin jelas, membangkitkan kekuatan dan rasa cinta yang pernah dia lupakan.
Aku harus kembali ¦ untuk Ratih, gumam Toni, matanya kini menyala dengan tekad yang bulat.
Di saat Toni mulai berusaha melepaskan diri dari cengkeraman jerat dukun sakti suruhan Erlika, Mpek An Cong, melihat celah yang dinanti-nantikannya. Dia sudah lama mencari lokasi di mana Toni disembunyikan oleh kekuatan jahat ini. Hari itu, akhirnya dia menemukannya. Mpek An Cong menerobos masuk ke dimensi gaib di mana Erlika menawan Toni.
Pertempuran gaib pun tak terhindarkan. Waktu seakan tak lagi berlaku. Angin kencang tiba-tiba mengembus, menderu di sekitar mereka, meski tempat itu gelap dan sepi. Bayangan hitam yang merupakan manifestasi kekuatan jahat, melawan cahaya kuning terang yang dipancarkan Mpek An Cong. Mereka bertempur dalam gelap dan keheningan, hanya suara ledakan energi yang terdengar samar, menghancurkan ruang kosong di sekitar mereka. Dua bayangan samar-samar dalam belitan sinar yang saling berpagut dan berkelit.
Mpek An Cong mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengusir kekuatan iblis yang telah membuat cucunya menderita. Namun, bayangan hitam manifestasi dukun wanita yang dibayar Erlika itu bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. Si dukun jahat itu tertawa dengan angkuh, sesekali mengejek. Mpek An Cong tidak terpengaruh. Dia fokus untuk segera menyelesaikan pertarungan.
Pertarungan dahsyat dua kekuatan dari aliran yang berbeda. Sihir hitam dan putih. Belitan dan patukan sinar kuning dari kekuatan Mpek An Cong melawan bayangan hitam dari dukun hitam, mengakibatkan getaran dan ledakan. Sementara serpihan-serpihan energi gaib beterbangan di sekitar dua orang sakti yang sedang bertarung.
Di tengah pertarungan antara Mpek Ancong dengan dukun suruhan Erlika, Toni yang masih dalam belitan kekuatan gaib mengerahkan segala daya. Dia berusaha keras, didukung dengan bacaan surat-surat pendek al-Quran yang dihafalnya, belenggu mulai lepas perlahan-lahan. Kesadaran dan tekadnya terus tumbuh kuat, berkat getaran cinta dari Ratih. Cinta yang disambut oleh cìnta tulus yang mulai mengakar di hati Toni, mampu menyusup ke dalam dunia gelap yang mulai retak.
***
Sementara itu, di kamarnya Ratih yang terlelap setelah mengalami serangan ular hitam dan merasa aman bersama kedua orang tuanya, terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung. Dalam mimpinya, ia berada di sebuah rumah besar yang suram, dikelilingi oleh dinding-dinding berlumuran darah. Kegelapan melingkupinya, dan setiap kali ia mencoba melangkah, lantai di bawah kakinya berubah menjadi rawa berlumpur yang menarik kakinya perlahan-lahan.
Ratih mencoba berteriak, tetapi suaranya tak keluar. Usaha kerasnya mampu membawa Ratih menyeberangi rawa. Dia berlari ke arah suaminya. Di kejauhan, Ratih melihat sosok Toni berdiri di pintu, namun setiap kali dia berusaha mendekat, Toni justru menjauh, ditarik oleh bayangan hitam yang makin membesar.
Mas! Jangan pergi! Tolong aku! ratap Ratih, tetapi Toni tak mendengarnya. Makin dia berlari, makin jauh Toni dari pandangannya, hingga akhirnya sosok itu menghilang dalam kabut tebal.
Ratih terjatuh, lumpur hitam mengikat kakinya, menariknya ke bawah. Dari balik kegelapan, suara tawa Erlika menggema memantul-mantul, menciptakan rasa takut yang menusuk hingga ke tulang.
Kau tak akan bisa merebutnya dariku, Ratih. Toni sudah menjadi milikku ¦ milikku! Ha ha ha ha¦. Tawanya bergulung-gulung menyakitkan telinga.
Seketika, Ratih terbangun dengan napas terengah-engah. Matanya terbuka lebar, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia berusaha duduk, tetapi tubuhnya masih terasa berat. Segala pemandangan mengerikan dari mimpinya terasa begitu nyata, dan ia belum sepenuhnya sadar bahwa ia sudah terbangun.
Arum dan Ninit yang menunggui sambil membaca Quran, melihat Ratih mulai bergerak segera mendekat. “Ratih? Kamu sudah bangun, Sayang?” suara keduanya penuh harap.
Ratih menatap bundanya dengan mata berkaca-kaca, masih berusaha memahami apa yang baru saja dialaminya. “Bunda ¦ Ratih ¦ Ratih melihat Mas Toni. Dia terjebak di tempat yang sangat gelap. Ada yang menariknya. Ratih takut, Bunda ¦ Ratih takut.”
Arum segera memeluk putrinya erat-erat, menenangkan Ratih yang masih diliputi ketakutan. Hatinya sakit melihat penderitaan putrinya. Dia sangat ingin membawa putrinya pulang.
Kita akan selamat, Sayang. Mpek An Cong sedang membantu. Kau harus kuat, demi Toni, demi kita semua, kata Ninit menenangkan.
Namun, di dalam hatinya, Ninit tak bisa mengabaikan kekhawatiran yang semakin membesar. Ia tahu, selama putranya masih di bawah kendali Erlika, hidup keduanya tak akan pernah kembali normal.
Ratih sendiri menyadari semuanya ada hubungannya dengan Erlika, perempuan tunangan suaminya. Toni sudah membatalkan pertunangannya, namun akhirnya dia kembali kepada perempuan itu. Ratih mulai yakin mantan tunangan suaminya yang sudah dinikah siri oleh suaminya itu memakai kekuatan black magic. Dan sekarang, Ratih sudah mulai merasakan dampak paling buruk dari sihir yang ditebar Erlika.
Sementara di tempat Toni disekap, Mpek An Cong akhirnya berhasil memukul mundur dukun wanita jahat dengan sebuah mantra yang kuat, namun bukan tanpa pengorbanan. Tubuhnya lunglai kehabisan energi. Dia sangat kelelahan. Dukun itu hanya tersingkir lenyap dalam kerimbunan lembah yang gelap sambil meninggalkan tawa mengerikan dan ancaman pembalasan dendam. Suara ancaman dan tawa mengintimidasi bergaung memantul-mantul lalu lenyap di lembah yang gelap. Mpek An Cong sadar, jika itu hanya kemenangan sementara. Setelah memandang keadaan sekeliling, dia mengenali tempat itu.
Ternyata, semua masih di dalam vila, gumamnya lirih terkulai duduk bersandar pagar teras. Di tatapnya lembah gelap dari balik pagar teras, lembah yang dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan. Dia berjengit menyadari kemungkinan Erlika juga berada di situ, Toni! panggilnya.
Setelah pertarungan dimenangkan oleh Mpek An Cong, Erlika mendengar suara lawan dari nenek dukun saktinya memanggil Toni. Begitu melihat air baskom yang bergolak mengerikan dan bayangan dukun saktinya menghilang di lembah, dia buru-buru kabur meninggalkan vila.
Aku di sini, teriak Toni lemah, namun cukup jelas terdengar.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






