Novel : Bertahan di Atas Luka Part 38

- Penulis

Senin, 25 November 2024 - 14:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 38

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 38

Bayu Ramadhan.

Aku terpaku melihat Amira pulang bersama lelaki lain. Prasetya. Lelaki yang kukenal sebagai sahabat Amira dan Marisa, lelaki yang baru saja kehilangan istrinya. Ada apa sampai ia berani pergi berdua dengan istriku? Rasa lelah selama perjalanan, cuaca panas kota Jakarta, dan cemburuistri bersama lelaki lainmembuat darahku mendidih.

Aku bisa melihat wajah terkejut Amira. Ia pasti tidak menyangka aku ada di Jakarta dan sedang berdiri di hadapannya. Tiba-tiba wajah itu memucat saat Pras memanggilnya. Mata Amira memandangku dengan cemas.  Aku mengatupkan mulut menahan geram serta berkali-kali beristighfar agar setan tidak menguasai diriku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau tidak ingat tetangga, ingin sekali aku meninju wajah Prasetya. Untuk apa ia mendekati istriku? Bukankah ia tahu kalau Amira sudah bersuami? Tidak pantas rasanya seorang perempuan bersuami jalan dengan laki-laki lain di saat suaminya tidak ada. Dengan menahan marah, aku minta Amira untuk membuka pintu ruang tamu. Aku tidak bisa berlama-lama melihat mereka berdua. Jantungku berdetak cepat dan napasku memburu.  Aku memilih diam untuk meredam emosi daripada mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Kami bertengkar hebat sore itu. Amira menangis dan berkata kalau ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Pras. Ia meyakinkanku kalau hanya bersahabat dengan lelaki itu. Untuk apa bersahabat dengan lelaki? Toh, ia sudah punya Marisa, sahabat yang selalu ada untuk membantunya. Aku sungguh tidak percaya kata-kata istriku. Mungkinkah mereka pernah punya kisah asmara dulu sebelum Pras menikah dengan Safira? Apakah Pras cinta pertama istriku?

Bermacam pertanyaan yang timbul membuatku semakin frustrasi. Akhirnya malam itu aku putuskan untuk tidur di sofa dan besok aku akan pindah ke rumah kami di Depok. Biarlah untuk sementara Amira tinggal di rumah Ibu. Aku butuh menyendiri untuk menenangkan diri dan konsentrasi pada pekerjaan.

Jujur, hatiku hancur melihat mata Amira yang membengkak karena terlalu banyak menangis. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Namun, Amira telah menyakiti hatiku. Ia telah merendahkan harga diriku sebagai laki-laki dan seorang suami dengan pergi bersama laki-laki lain. Ia tidak menghargai semua usahaku untuk mempertahankan pernikahan kami. Amira memang ingin sekali berpisah denganku.  Apakah karena ada Pras?

Malam itu, setelah selesai mengetik proposal untuk memulai rencana pembukaan restoran, aku berbaring di sofa yang ada di kamar sambil memandang wajah Amira yang tertidur pulas. Wajah itu begitu putih dan bersih, sungguh sebuah kecantikan alami. Alis mata yang tebal dan hidung bangir merupakan perpaduan sempurna dengan lekukan di kedua pipinya. Aku memandangnya tanpa rasa bosan. Amarah karena cemburu mulai mereda. Amira tidak sepenuhnya salah. Ia hanya sedang merasa kecewa dengan pernikahan kami.

Sebetulnya aku ingin sekali memeluk dan menanyakan perasaan hati istriku terhadap Pras, tapi aku tak sanggup untuk mendengar jawabannya.  Aku juga teringat kata-kata Pak Farhan tentang meredam kemarahan di antara dua waktu salat. Itu berarti besok subuh, aku harus meredam kemarahanku dan berbaikan dengan Amira. Apakah aku sanggup? Sementara bayangan wajah Pras selalu menghantui dan mengejekku. Aku tidak bisa tidur, gelisah memikirkan tindakan apa yang harus kuambil.

Aku terbangun saat azan Subuh berkumandang, setelah tadi malam menderita karena tidur tidak nyenyak. Kulihat Amira sedang duduk di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena.

Kamu bisa tidur di sofa, Mas? tanyanya lembut.

Dengan mata yang masih sulit terbuka, aku mencoba duduk. Perbedaan waktu empat jam dengan Saudi membuatku merasa masih sangat mengantuk.

Bisa. Kamu udah salat Subuh? tanyaku sambil berjalan ke kamar mandi.

Belum, tadi salat malam aja. Aku nunggu Mas biar kita bisa salat bareng.

Ya sudah, aku wudu dulu.

Kami salat Subuh berjamaah. Hatiku menjadi lebih tenang dengan membaca zikir selesai salat. Memang, dengan mengingat Allah, hati kita akan menjadi tenang. Ragu-ragu Amira mencium tanganku. Ketika kutarik, tanganku telah basah oleh air mata. Tuhan, ingin sekali kurengkuh tubuh kurusnya, tapi saat terbayang wajah Pras, amarahku muncul lagi.

Amira segera menyiapkan sarapan. Lalu bersama Sasha dan Shanaz, kami menikmati makan pagi bersama.

Sha, selamat, ya! Mas dengar mau jadi manten, nih? tanyaku pada Sasha.

Gadis itu tersenyum malu.

Insyaallah, Mas. Doakan, ya! Katanya kan nggak boleh pacaran lama-lama.

Betul itu. Lebih baik segera halal, supaya kalau mau ke mana-mana berdua jadi aman. Nggak takut godaan setan. Bahaya kan kalau pergi berduaan aja, ujarku sambil melirik Amira.

Istriku itu tampak serba salah.

Iya, Mas. Mbak Mira udah ngasih tahu, makanya Sha langsung bilang ke Bintang. Iya, kan, Mbak? Sasha memandang kakaknya.

Eh, iya, Sha! Pastikan aja tanggal berapa kamu nikahnya, supaya lebih enak nyiapinnya. Amira balas memandang Sasha dengan sayang.

Naz, lo mau bareng gue, nggak? tanya Sasha.

Iya. Bentar gue ambil tas dulu, sahut sang adik.

Kedua adik kembar Amira itu sangat mirip satu sama lain. Orang bilang kembar identik. Sasha lebih tua tiga menit dari Shanaz. Mata mereka sama-sama bulat seperti mata Amira. Hidung mancung dengan alis tebal. Hanya rambut yang membedakan. Aku sempat melihat dulu sebelum mereka mengenakan jilbab. Sasha memiliki rambut hitam bergelombang, sementara Shanaz hitam lurus sebahu.

Secara sifat juga mirip, sama-sama menyukai buku dan film. Hanya saja Sasha lebih ceria, sementara Shanaz jauh lebih tenang dan tertutup. Melihat mereka pagi ini dengan gaya anak muda masa kini, mengingatkanku bahwa aku ternyata sudah semakin tua. Sasha mengenakan jilbab pashima warna krem dipadu dengan kemeja putih lengan panjang dan rok lebar coklat tua. Shanaz lebih suka memakai gamis abu-abu dengan jilbab segiempat warna senada.

Mbak, Mas, kita jalan dulu, ya! Mereka pamit dan segera menuju mobil Sasha.

Saat hanya tinggal berdua, aku segera bersiap-siap ke rumah kami.

Aku pergi dulu, ya? Kalau kamu merasa perlu nyusul, silakan! Kalau nggak, juga nggak apa-apa. Semua terserah kamu karena kamu yang berniat untuk pisah dan kamu juga yang minta kita untuk saling bicara. Aku mengambil koper dan membawa tas ransel yang berisi laptop.

Kamu bawa aja mobil kita, Mas! Amira menyusul ke ruang tamu sambil memberikan kunci mobil.

Nggak usah. Kamu nanti butuh. Aku bisa naik taksi, udah manggil tadi, tolakku.

Tak lama, sebuah taksi berwarna biru muda berhenti di depan rumah. Aku melangkah ke luar.

Mas, aku minta maaf kalau sudah menyakitimu. Aku di sini dulu aja, tapi jangan khawatir, aku nggak akan jalan sama Pras. Aku memang butuh sendirian saat ini. Nanti kalau udah siap, aku nyusul kamu ke Depok.  Tadi malam aku juga udah bilang Pak Ali untuk bersih-bersih rumah.

Terserah kamu, aja! Aku berangkat!

Hati-hati, Mas!

Sepanjang perjalanan, aku merasa gelisah. Api cemburu masih membakar hatiku. Panas dan menyakitkan. Namun, segera kuusir karena ada pekerjaan penting yang menunggu. Aku tidak mau hilang konsentrasi karena masalah rumah tangga. Kubuka laptop untuk menghilangkan pikiran buruk yang mengganggu.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, taksi tiba di rumah kami di Depok. Aku membayar dan mengambil koper, lalu berjalan menuju pintu gerbang. Rumah tampak bersih dan tanaman terlihat rapi. Sambil menenteng tas, aku mengambil kunci dan mencoba membuka pintu ruang tamu.

Mulai hari ini, rumah ini akan kembali menjadi tempat tinggalku untuk sementara, sambil mengerjakan proyek. Selain itu, aku juga akan mencari masjid untuk menghadiri kajian rutin, dan yang paling penting, segera menyelesaikan masalah dengan Amira. Tampaknya doa-doaku belum Allah kabulkan. Aku tidak tahu rencana Allah terhadap pernikahan kami, tapi yang pasti, Dia akan memberikan yang terbaik di saat yang tepat.  Aku hanya bisa bersabar, berusaha, dan berdoa.

Bagaimana kalau ternyata yang terbaik adalah aku harus berpisah dengan Amira? Allah tahu bahwa pernikahanku tidak bisa dipertahankan karena Amira ternyata bukan jodohku? Apakah aku sudah siap? Apakah Allah sengaja belum mengabulkan doaku hanya untuk memberi waktu supaya aku siap?

Astaghfirullah. Aku tidak boleh berprasangka buruk pada Allah.  Aku mengerjapkan mata yang tiba-tiba berair. Sungguh, berat sekali ujian ini. Aku masih sangat mencintai istriku, meskipun ia sepertinya sudah lelah untuk mempertahankan pernikahan kami.

-bersambung-

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB