Kejadian ini membuka kembali diskusi lama mengenai maraknya praktik premanisme berkedok pengawalan di sejumlah wilayah, terutama di kawasan-kawasan padat seperti Tanah Abang.
Modus seperti ini umumnya menargetkan sopir truk, bus, dan kendaraan besar lainnya yang dianggap mudah untuk dipalak karena membawa muatan bernilai tinggi.
Para pelaku biasanya mengaku sebagai pengawal atau pihak keamanan informal, lalu meminta uang dengan dalih untuk biaya “pengamanan” atau “izin melintas.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang membuat resah, para pelaku sering membawa kwitansi palsu atau dokumen seolah resmi, agar terlihat seperti prosedur yang sah.
Padahal, tidak ada lembaga hukum atau otoritas resmi yang pernah mengatur pengambilan biaya semacam itu di jalan raya umum.
Sopir truk menjadi kelompok yang sangat rentan karena seringkali tidak ingin berdebat atau melawan demi menghindari konflik fisik dan keterlambatan pengiriman barang.
Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku untuk terus melancarkan aksinya tanpa takut dikenai sanksi.
Tanpa penindakan tegas, praktik ini bisa meluas dan membahayakan kenyamanan serta keamanan sektor logistik nasional.
Padahal, keberadaan sopir truk sangat vital dalam menjaga distribusi barang dan stabilitas ekonomi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
Tanggapan Warganet dan Seruan Agar Polisi Bertindak Tegas
Setelah video pemalakan ini viral, respons warganet tak terbendung dan mayoritas mengungkapkan kemarahan serta kekecewaan.
Banyak yang menyerukan agar polisi segera menangkap pelaku dan memberantas sindikat serupa yang berkeliaran di jalanan.
Beberapa warganet juga menceritakan pengalaman serupa ketika mereka atau kerabatnya menjadi korban pemalakan berkedok pengawalan.
Fenomena ini tampaknya bukan kasus tunggal, melainkan pola yang telah berlangsung lama namun jarang terekspos media.
Dengan viralnya video ini, masyarakat berharap pemerintah daerah dan kepolisian benar-benar serius dalam menertibkan praktik-praktik pungli di lapangan.
Kejadian pemalakan terhadap sopir truk di Tanah Abang yang terekam dan viral menjadi sinyal bahwa praktik premanisme belum sepenuhnya hilang dari jalanan kota.
Meski tindakan pelaku terlihat terang-terangan dan terkesan sah dengan adanya kwitansi, nyatanya itu adalah bentuk pemerasan yang merugikan dan melanggar hukum.
Penyelidikan dari pihak kepolisian menjadi langkah awal yang penting, namun pelaporan resmi dari korban tetap dibutuhkan agar pelaku bisa diproses secara hukum.
Masyarakat diharapkan berani melapor jika mengalami hal serupa, demi menciptakan lingkungan jalan yang lebih aman dan bebas pungli.
Peran aktif publik dan ketegasan aparat menjadi kunci agar sopir truk serta pengguna jalan lainnya tidak lagi menjadi korban intimidasi berkedok pengawalan.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






