Rupiah Digital dan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia: Inovasi yang Terlalu Cepat

- Penulis

Minggu, 26 April 2026 - 12:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zahwah Athifah Mutiah

Zahwah Athifah Mutiah

Redaksiku.com Mengenai uang yang kita gunakan, mungkin sudah pernah terlintas bayangan dimana suatu saat nanti mata uang yang digunakan berbasis digital dalam sistem keuangan modern. Di tengah euforiadigitalisasi, tampaknya upaya Indonesia untuk masuk dalam tren global dengan merancang Rupiah Digital (Central Bank Digital Currency/CBDC) sebagai bagian dari transformasi dalam sistem keuangan.

Tentu saja inovasi ini terdengar sangat modern dan efisien serta mencerminkan adanya kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran. Akan tetapi, adabaiknya untuk mengetahui bahwa, walaupun sistemnya digital, Rupiah Digital ini masih merupakan bagian dari jumlah uang yang beredar dan sejatinya didistribusikan menggunakan sistem perbankan, sehingga tidak mungkin bagi bank umum di Indonesia hilang dalam sistem keuangan.

Mengingat narasi tentang transformasi, timbul pertanyaanyang sering kali belum dibahas, “Apakah Indonesia sudah siap dan kuat dalam sistem keuangan, atau malah berisiko karena tergesa-gesa mengejar tren global?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bank Indonesia memang memiliki argumen yang kuat. Menurut Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, tujuan dari Rupiah Digital adalah mempertahankan kedaulatan moneter di era berkembangnya digital asset berupa kripto dan stablecoin ini.

Fenomena ini juga semakin marak di tingkat global. Berdasarkan statistik dari Bank for International Settlements (BIS), hampir semua bank sentral di dunia saat ini sedang mengembangkan CBDC (Central Bank Digital Currency).

Namun hal tersebut hanya bersifat tipis sebab ketika dilihat lebih lanjut, pemberlakuan ini justru akan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi sistem keuangan karena mencerminkan perubahan fundamental dari hubungan antara masyarakat, bank, dan bank sentral. Pada titik ini terletak isu yang mengkhawatirkan, yakni adanya potensi yang membawa efek negatif bagi keseimbangan sistem keuangan.

Pertama, potensi disintermediasi perbankan menjadi salah satu isu penting dalam pemberlakukan kebijakan Rupiah Digital. Saat ini, uang rakyat disimpan pada bank komersial, yang kembali dipinjamkan sebagai modal dalam bentuk kredit. Namun dengan munculnya Rupiah Digital, rakyat dapat menyimpan uangnya di Bank Indonesia.

Logikanya, mengapa uang harus disimpan pada bank komersial jika bisa disimpan di Bank Indonesia yang jelas-jelas lebih aman? Jika fenomena ini berlangsung, tentunya fungsi utama bank dalam memberikan kredit kepada rakyat akan melemah.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah ancaman digital bank run yang juga tidak boleh diremehkan. Apabila ada situasi krisis kepercayaan, masyarakat tak perlu repot mengantre di bank, karena prosesnya pun dapat berlangsung dengan cepat dalam hitungan detik dalam sistem digital.

Jadi, transisi uang akan semakin cepat menuju Rupiah Digital. Bahkan menurut studi Bank for International,Settlements (BIS, 2021), adanya CBDC bisa mempercepat tekanan likuiditas pada perbankan apabila dirancang dengan kurang bijaksana. Dengan demikian, teknologi yang seharusnya memberikan stabilitas malah bisa jadi penyebab terjadinya krisis.

Pada tahap ini, tampaknya ada paradoks kebijakan. Sebagai contoh, pada satu sisi Bank Indonesia telah berusaha untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dengan teknologi.

Namun, di sisi lain, teknologi yang dikembangkan ternyata bisa berpengaruh kepada stabilitas itu sendiri yang ditopang oleh kepercayaan dan keseimbangan likuiditas perbankan. Ini menunjukkan bahwa tidak selalu setiap inovasi dalam sistem keuanganmenghasilkan stabilitas. Justru dalam beberapa kasus, inovasi dapat menciptakan bentuk risiko baru yang sbelumnya tidak ada.

Problematika ini semakin menjadi-jadi bila dicontohkan dalam konteks LPS sebagai pihak yang memberikan jaminan simpanan di bank demi menjamin kepercayaan publik terhadap institusi perbankan melalui jaminan simpanan.

Kehadiran Rupiah Digital bisa jadi akan menciptakan standar baru tentang kepercayaan, di mana uang simpanan yang disimpan di bank sentral dipercaya lebih aman dari uang simpanan yang berada di bank. Tanpa pengelolaan yang jelas, situasi ini justru berpotensi membahayakan posisi LPS secara perlahan dalam mendukung sistem kepercayaan perbankan.

Menurut pendapat saya, masalah terbesar bukan terletak pada teknologi Rupiah Digital itu sendiri, tapi lebih kepada persiapan dan kesiapan ekosistem keuangan Indonesia.

Indonesia masih menghadapi beberapa kendala fundamental seperti literasi keuangan yang belum merata, kesenjangan digital, serta tingkat kepercayaan publik yang masih belum cukup kuat terhadap lembaga-lembaga keuangan.

Dalam kondisi tersebut, upaya mendesak adopsi CBDC malah berpotensi menciptakan ketidakseimbangan di mana hanya sebagian masyarakat saja yang siap menerapkannya secara optimal.

Selanjutnya, ada tendensi bahwa kebijakan digitalisasi sering dianggap sebagai hal yang modern tanpa diimbangi dengan analisis kritis terhadap implikasinya kedepan.

Di sisi lain, Rupiah Digital cenderung menjadi proyek yang ambisius, tetapi belum tentu siap secara implementasi.

Pada titik ini, penting untuk memahami bahwa peranan pemerintah di sini tidak cukup dengan dukungan. Lebih baik pemerintah memiliki fungsi sebagai penyeimbang sistem keuangan, dan tidak sekadar memfasilitasi inovasi tersebut.

Penulis : Zahwah Athifah Mutiah Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Hengki

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern
Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier
Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum
Jenis-Jenis Combine Harvester yang Digunakan di Indonesia dan Perbedaan Fungsinya untuk Berbagai Lahan
GP+ Medical & Paincare: Klinik Nyeri di Jakarta
7 Alasan Kuat Framework Laravel Jadi Pilihan Banyak Startup
Terbaru! RANS Entertainment Siap IPO, Incar Dana Rp429 Miliar
Rekomendasi Penyedia Teknologi Perhitungan Penumpang Tercanggih

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:19 WIB

Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern

Senin, 29 Juni 2026 - 14:38 WIB

Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:01 WIB

Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:55 WIB

Jenis-Jenis Combine Harvester yang Digunakan di Indonesia dan Perbedaan Fungsinya untuk Berbagai Lahan

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:50 WIB

GP+ Medical & Paincare: Klinik Nyeri di Jakarta

Berita Terbaru