IHSG Berakhir di Zona Merah, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Sepinya Sentimen Baru

- Penulis

Selasa, 13 Januari 2026 - 10:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG Berakhir di Zona Merah, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Sepinya Sentimen Baru

IHSG Berakhir di Zona Merah, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Sepinya Sentimen Baru

Redaksiku.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan pada Senin sore dengan kinerja negatif, seiring meningkatnya aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar.

Minimnya katalis baru yang mampu menopang sentimen investor membuat pergerakan pasar saham domestik cenderung melemah, khususnya setelah indeks sempat menyentuh level psikologis penting.

Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat turun 52,03 poin atau 0,58 persen ke level 8.884,71. Sejalan dengan pergerakan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami koreksi, melemah 1,43 poin atau 0,17 persen ke posisi 866,55.

Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai pelemahan IHSG yang terjadi di penghujung sesi perdagangan merupakan respons wajar pasar setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, level 9.000 menjadi area psikologis yang mendorong investor melakukan realisasi keuntungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tekanan pada IHSG di akhir sesi lebih banyak dipicu oleh aksi profit taking yang relatif agresif setelah indeks mendekati level psikologis 9.000, ujar Reydi saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan bahwa ketiadaan sentimen baru yang bersifat kuat, baik dari dalam negeri maupun global, membuat investor cenderung bersikap lebih defensif. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global, terutama terkait potensi lanjutan kebijakan suku bunga di negara-negara maju.

Dalam situasi seperti ini, investor umumnya memilih mengamankan keuntungan dibandingkan mengambil posisi baru yang berisiko. Hal tersebut tercermin dari pergerakan IHSG yang berbalik arah setelah sebelumnya sempat bertahan di zona hijau.

IHSG Berakhir di Zona Merah, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Sepinya Sentimen Baru
IHSG Berakhir di Zona Merah, Aksi Ambil Untung Muncul di Tengah Sepinya Sentimen Baru

Secara sektoral, tekanan paling besar datang dari saham-saham yang dikategorikan berisiko tinggi dan bersifat spekulatif. Reydi menyoroti sektor energi dan pertambangan sebagai dua sektor yang mengalami koreksi cukup dalam dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan.

Koreksi di saham-saham sektor ini memberi dampak nyata terhadap pergerakan IHSG karena bobotnya yang cukup besar, jelasnya.

Pergerakan IHSG sepanjang hari perdagangan menunjukkan dinamika yang kontras. Pada awal sesi, indeks dibuka menguat dan mampu bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Optimisme tersebut didorong oleh sentimen regional dan aksi beli selektif pada saham-saham tertentu. Namun, memasuki sesi kedua, tekanan jual mulai mendominasi, sehingga IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan.

Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, kinerja sektor menunjukkan variasi yang cukup lebar. Enam sektor berhasil mencatatkan penguatan, dengan sektor barang konsumen non primer memimpin kenaikan sebesar 2,81 persen. Penguatan ini mencerminkan minat investor terhadap saham-saham yang terkait dengan konsumsi domestik dan pemulihan daya beli.

Selain itu, sektor industri turut menguat sebesar 2,54 persen, disusul sektor transportasi dan logistik yang naik 2,26 persen. Kenaikan pada sektor-sektor tersebut menunjukkan masih adanya peluang pertumbuhan di tengah tekanan pasar secara umum.

Di sisi lain, lima sektor tercatat mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sebesar 0,94 persen. Selanjutnya, sektor teknologi dan sektor keuangan masing-masing melemah 0,81 persen dan 0,64 persen. Tekanan pada sektor keuangan mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap prospek suku bunga dan stabilitas likuiditas.

Dari sisi saham individual, sejumlah emiten mencatatkan penguatan signifikan. Saham MSKY, DKHH, KPIG, APLN, dan SOCI menjadi deretan saham dengan kenaikan harga tertinggi pada perdagangan hari itu. Sementara itu, saham HILL, NRCA, IRSX, DOOH, dan PBSA masuk dalam daftar saham yang mengalami penurunan terdalam.

Aktivitas perdagangan di BEI tetap menunjukkan likuiditas yang relatif tinggi. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 5.072.603 kali, dengan total volume perdagangan sebesar 74,40 miliar lembar saham. Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp40,10 triliun, mencerminkan partisipasi investor yang masih cukup aktif meskipun indeks melemah.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 279 saham mencatatkan kenaikan harga, 435 saham mengalami penurunan, dan 97 saham bergerak stagnan. Komposisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli di pasar.

Sementara itu, pergerakan bursa saham di kawasan Asia pada sore hari cenderung bergerak positif. Indeks Hang Seng di Hong Kong menguat 376,69 poin atau 1,44 persen ke level 26.608,48. Indeks Shanghai Composite juga mencatatkan kenaikan sebesar 44,85 poin atau 1,09 persen ke posisi 4.165,29. Di Singapura, indeks Strait Times menguat 22,11 poin atau 0,47 persen ke level 4.766,77.

Adapun bursa saham Jepang tidak melakukan aktivitas perdagangan karena indeks Nikkei libur dalam rangka memperingati hari libur nasional. Kondisi ini membuat volume perdagangan regional relatif lebih terfokus pada bursa Asia lainnya.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati berbagai faktor eksternal dan internal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG. Stabilitas ekonomi domestik, kebijakan pemerintah, serta perkembangan ekonomi global akan menjadi perhatian utama investor dalam menentukan strategi investasi selanjutnya.

Meski ditutup melemah, sejumlah analis menilai koreksi yang terjadi masih berada dalam batas wajar dan dapat menjadi peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk melakukan akumulasi secara selektif, khususnya pada saham-saham berfundamental kuat.

Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Dibuka Merah Hari Ini, Investor Menanti Pidato Prabowo
Tak Kebagian ORI030? SR025 Segera Hadir, Ini Jadwal, Tenor dan Cara Belinya
Bank Sultra Perkasa di Finspora 2026, Borong 5 Emas dan Bawa Pulang Piala Bergilir
Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini
IHSG Melesat 2,78 Persen, Asing Kembali Belanja Saham Rp1,24 Triliun
Emas Antam Melonjak Lagi! Harga 1 Gram Nyaris Rp2,7 Juta, Buyback Naik Rp50 Ribu
India Ramai-ramai Jual Saham BUMN, Target Raup Rp126 Triliun demi Jaga Defisit
Harga Emas Antam Hari Ini, Cek Pergerakan Harga Logam Mulia Terbaru

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:11 WIB

IHSG Dibuka Merah Hari Ini, Investor Menanti Pidato Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:02 WIB

Tak Kebagian ORI030? SR025 Segera Hadir, Ini Jadwal, Tenor dan Cara Belinya

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Bank Sultra Perkasa di Finspora 2026, Borong 5 Emas dan Bawa Pulang Piala Bergilir

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

Minggu, 9 Agustus 2026 - 06:39 WIB

IHSG Melesat 2,78 Persen, Asing Kembali Belanja Saham Rp1,24 Triliun

Berita Terbaru

Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Bisnis

4 Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Sabtu, 22 Agu 2026 - 12:42 WIB

Foto: Aulia, murid SMKN 5 Barru, menerima bantuan.

Pendidikan

Kepedulian Gubernur Sulsel Sampai ke Murid SMKN 5 Barru

Sabtu, 22 Agu 2026 - 09:49 WIB