Kamu yakin?
Cukup yakin. Itu semacam rahasia yang diketahui oleh kami para lelaki.
Ya, mungkin penilaianmu ada benarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenapa, sih, aku ini? Mulutku mengatakan setuju, tapi hatiku seperti tidak terlalu yakin. Setidaknya Aiden yang dulu aku kenal tidak seperti itu. Dia yang memperkenalkanku dengan pacar pertamaku. Sejauh yang aku tahu dia suport dengan siapa saja aku berkencan. Dia tidak pernah cemburu dengan lelaki yang mendekatiku. Tidak memiliki perasaan cemburu itu artinya memang tidak memiliki perasaan cinta, bukan?
Percayalah, Sayang. Kamu hanya tidak perlu terlalu dekat dengan Aris. Dia tidak akan membawa pengaruh baik untukmu.
Aku diam sejenak mengamati wajah suamiku. Ayolah, aku bukan remaja yang mudah terpengaruh dengan teman mainnya. Aku perempuan dewasa … dan seorang istri. Kamu meragukan kematangan pikirku?
Arka menatapku. Aku tidak bisa mengartikan tatapan itu. Aku hanya menduga kalau dia terlalu khawatir yang berlebihan.
Jangan sok posesif, deh. Kamu bukan orang seperti itu. Aku mengembuskan napas. Seharusnya, aku yang lebih khawatir. Terlebih setelah semua yang dikatakan Arsy.
Perkataan yang mana?
Anak.
Arka menarik tanganku untuk digenggam. Dengar. Dia hanya ingin menyakiti kita. Kalau dia tahu kamu terpengaruh, justru bakal bikin dia senang. Jadi, jangan terlalu dipikirkan.
Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Bagaimana kalau semua yang dikatakannya benar? Bagaimana kalau suatu saat Arka meninggalkanku karena semua kejadian ini? Banyak sekali pertanyaan yang pada akhirnya memenuhi kepalaku. Bolehkah aku menyalahkan Arsy?
Jangan khawatir.
Soal?
Arsy dan semua yang dikatakannya, kata Arka lirih. Bibirnya sangat dekat dengan telingaku. My heart is yours, Karin. Sesudah itu dia mengecup ringan telingaku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Mata kami bertemu. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Arka berbisik lalu mengecup bagian tubuhku yang tidak umum. Tapi, tetap saja aku merasa senang. Hatiku meleleh dan percik kelegaan perlahan menyebar dan menyelimuti hatiku.
Kenapa kamu selalu melakukan itu?
Arka memundurkan kepalanya.
Melakukan apa?
Berbisik di telingaku.
Arka tersenyum dan mendaratkan tatapnya di mataku. Entahlah, aku merasa itu bagian dari kesenangan.
Kesenangan? Sedikit tidak biasa, sih. Sebenarnya kamu bisa kan ngomong kayak biasanya saja. Aku juga pasti bisa mendengarnya.
Karena … aku cuma pingin kamu yang dengar. Ini semacam, privasi. Arka menunjuk dirinya sendiri dan aku bergantian.
Aku mengulum senyum, sedikit terpana dengan kejujurannya.
Apa aku akan mendapat hadiah ciuman?
Tidak di sini.
Oke, mau di mana?
Arka mendadak mengedarkan pandangan. Di sana?
Aku mengikuti arah pandang Arka. Ruang ganti?
Mau mencobanya?
Aku membelalakkan mata. Aku tahu itu ruang ganti yang di dalamnya juga ada kamar mandi. Biasanya dipakai untuk ganti baju dan membersihkan badan setelah berenang. Di sana juga ada beberapa rak yang berisi handuk bersih, berbagai minyak, dan krim wangi, juga meja panjang yang biasa di pakai untuk pijat. Tentu saja ibu memperkerjakan orang yang ahli untuk itu.
Jangan gila! Di sini banyak sekali orang. Kita tidak perlu melakukan itu. Kita ini suami istri jangan bertingkah seperti orang pacaran yang mencuri kesempatan.
Biar kamu tahu bagaimana senangnya melakukan itu di tengah adrenalin yang terpompa hebat.
Belum sempat kami melakukan ide gila Arka, Sifa memanggil nama kami. Aku mencari kalian ke mana-mana.
Ada apa? tanyaku merasa tidak enak.
Ah, tidak. Hanya ibu mencarimu, Mas. Dan, tentu kamu juga, Mbak. Kalian kan satu paket.
Kami mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Sifa. Dia membawa kami ke tenda kecil yang berada di bagian kiri panggung dan lebih tertutup. Ternyata di sana sudah terisi anak-anak yang seluruhnya memakai pakaian putih. Ibu meminta Arka ikut mengambil bagian dalam pembagian bingkisan anak-anak itu.
Sementara di luar masih sangat ramai suara musik di tengah obrolan para tamu, di dalam sini sedikit lebih tenang karena semua hanyut dalam rasa syukur.
Setelah semuanya selesai, anak-anak itu digiring ke luar lewat pintu belakang. Ada jalan khusus yang disediakan untuk mereka. Dari penjelasan Ibu, aku baru tahu kalau semua itu dilakukan untuk privasi anak-anak yang diberi sumbangan. Sedangkan, acara simbolis yang dilakukan dipanggung dan disaksikan seluruh yang hadir berupa sumbangan yang diberikan kepada Yayasan Penderita Kanker Anak Indonesia dan YPAC.
Acara malam itu bisa dikatakan sukses, minus kejadian yang menimpaku terkait Arsy, tidak ada yang tidak senang. Ketika acara akhirnya selesai, Arka mengajakku masuk menyusul keluarganya yang telah lebih dulu meninggalkan tempat acara. Kami semua duduk di ruang keluarga menikmati teh hangat dan bertukar cerita sebentar tentang malam ini.
Aku pikir aku akan kesulitan melewati acara ini mengingat kondisiku, tapi berkat Arka aku bisa melewati semua dengan perasaan bahagia. Aku tadi juga sempat bertemu dengan Sesil. Dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Setidaknya dia lebih ramah dibandingkan Arsy.
Waktu sudah menunjuk lewat dari jam satu malam ketika kami semua memutuskan untuk istirahat. Arka menggenggam tanganku dan tidak henti mengecupnya. Di sela kecupan itu dia mengucapkan betapa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan balik mengucapkan sayang dan mengecup pipinya saat dia membuka pintu kamar untuk kami.
Sekarang kita punya waktu pribadi. Aku akan membantumu melepas pakaian selagi kamu menghapus riasan. Arka berjalan ke arahku dan langsung mengarahkan tangannya ke ritsleting. Aku membiarkannya membantuku mengganti pakaian tanpa melakukan apa pun. Jelas aku tidak bisa menghapus riasanku saat dia sibuk dengan pakaianku.
Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi dan telah siap untuk tidur. Arka duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan seperti ini. Aku sampai terpaku dan melihatnya untuk beberapa saat.
Apa? tanya Arka saat mendongak dan melempar senyum.
Aku baru ingat kalau melihatmu membaca di tempat tidur itu pemandangan yang sangat indah.
Melihatmu melakukan apa pun di tempat tidur menjadi pemandangan yang paling indah. Arka menyibak selimut dan memintaku bergabung dengannya. Aku tidak menolak. Setelah aku berbaring di sampingnya, Arka menutup buku dan meletakkannya di meja samping. Setelah mematikan lampu dia menarikku ke dalam dekapannya.
Aku tadi minta maaf ke Ibu soal kehamilanku.
Ibu bilang apa?
Katanya itu kehendak-Nya. Ibu berharap aku bisa segera pulih agar bisa hamil lagi.
Apa kamu siap?
Untuk? Aku memutar kepala tanpa mengubah posisi tidur.
Hamil lagi. Arka mengecup pelipisku.
Aku belum yakin. Tapi, sepertinya sekarang aku juga menginginkannya. Aku tidak mau Arsy mengambil peluang atas semua ini.
Sssshhh. Arka mengeratkan pelukannya. Jangan pikirkan tentang dia, yang penting itu kondisi kamu.
Apa kita perlu berkonsultasi dulu ke dokter?
Halaman : 1 2 Selanjutnya






