Ya sudah, ndak apa-apa. Namanya orang kerja, ujar Ibu lembut. Ayo, Nak Marisa, makan dulu, pasti lapar kan dari bandara. Kalau mau salat Isya, itu di kamar Shanaz aja, kamar Amira belum diberesin.
Setelah selesai makan malam, kami ngobrol panjang lebar. Berkali-kali aku melirik Marisa kalau Ibu atau adikku bertanya soal rumah tanggaku. Marisa mengerti dan banyak membantu menjelaskan keadaanku dan Mas Bayu. Menjelang jam 11.00, Marisa pamit pulang. Saat aku mengantar Marisa ke mobilnya, Sasha tiba di rumah. Setelah memarkir mobil di halaman, adikku itu langsung memelukku penuh kerinduan. Untuk sementara aku bisa melupakan luka hati saat berada di tengah orang-orang yang menyayangiku.
Gue balik dulu, ya, Mir. Kalau lo butuh teman buat curhat sama jalan-jalan, lo tahu harus hubungin siapa, kan? kata Marisa sebelum menutup jendela mobilnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sip. Sekali lagi makasih, ya, Sa. Ntar gue hubungin. Sekarang gue butuh istirahat dulu. Besok pingin ngobrol sama dua kurcaci cantik ini, ujarku sambil merangkul Sasha.
Main lagi, Mbak Marisa. Aku kangen ngobrol sama Mbak. Sibuk terus sih, jadi jarang ke sini, sambung Sasha ramah.
Iya. Nanti gue ke sini lagi, Sha. Lo jangan keseringan pulang malam, nggak baik anak cewek nyetir malam-malam, bahaya! Marisa menegur Sasha lembut.
Eh ¦, iya, Mbak! Tadi ketemuannya emang agak lama, karena sekalian ngomongin rencana proyek yang akan kita kerjakan, jawab Sasha serba salah. Lalu ia menoleh padaku, Maaf ya, Mbak. Baru kali ini kok aku pulang telat, ujarnya dengan wajah penuh penyesalan.
Udah, nggak apa-apa. Jangan diulang lagi! tandasku.
Hati-hati, Sa!
Marisa mengangguk, lalu menutup jendela. Tak lama, sedan itu melaju membelah malam.
Aku menggandeng tangan Sasha dan berjalan masuk.
Malam ini Mbak mau istirahat dulu. Besok kita ngobrol, Sha. Kamu sama Shanaz di rumah kan? Aku melangkah menuju kamarku yang terletak di depan ruang keluarga.
Iya, Mbak. Sasha juga capek, mau mandi terus tidur. Ibu udah tidur pasti. Aku ke kamar ya, Mbak. Met bobo! sahutnya sambil beranjak meninggalkanku.
Kamar ini tidak banyak berubah setelah delapan tahun kutinggalkan. Pasti Ibu yang selalu membersihkannya setiap hari, menjaganya tetap bersih. Kamar dengan nuansa krem yang memberi kesan hangat dan nyaman. Sebuah tempat tidur besar terletak di tengah ruangan dengan dua meja nakas di kanan dan kiri. Jendela besar berteralis menghadap langsung ke taman yang menyejukkan pandangan mata.
Di depan jendela ada sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Perlahan aku berjalan dan mengambil sebuah novel dari kumpulan koleksi novelku yang tersusun rapi di meja. Kuhela napas panjang, berusaha mengusir rasa sepi yang tiba-tiba hadir. Kuletakkan kembali novel di meja, lalu membuka koper yang tergeletak di dekat lemari untuk mengambil baju dan perlengkapan kecantikan.
Setelah membersihkan muka, aku bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. 30 menit kuhabiskan untuk berendam di bak mandi besar, seolah ingin meleburkan rasa gundah di dada. Aku teringat kalau belum menghubungi suamiku. Di sana masih jam 7 malam. Selesai memanjakan diri, aku duduk di tempat tidur, meraih ponsel, dan mulai mengetik chat ke Mas Bayu.
Assalamualaikum, Mas! Aku udah di rumah Ibu. Tadi sampai Jakarta jam tiga sore, dijemput Marisa. Kamu lagi apa?
Centrang dua, tapi belum terbaca.
Sambil membereskan baju-bajuku, berkali-kali kulirik layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk. Namun, satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda Mas Bayu membaca chat-ku. Rasa kecewa kembali mendera, tapi segera kutepis. Mungkin Mas Bayu lagi di jalan atau salat di masjid, batinku menghibur diri.
Selesai melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak, aku berbaring di kasur. Rasa nyaman menyentuh lembutnya sprei membuat mataku terasa berat, padahal biasanya di Riyadh, jam segini aku masih menonton televisi. Tak lama, aku pun terbuai ke alam mimpi, membuatku lupa sejenak pada rasa yang sering menyesakkan dada. Menjelang pukul 03.00 dini hari, aku terbangun untuk melaksanakan salat Tahajud. Kubasuh wajah dengan air wudu lalu menggelar sajadah. Kuadukan semua kegundahan dan kesedihan dalam sujud panjang.
Di kesunyian malam ini, di tengah derai air mata, aku memohon kepada Sang Pemilik Cinta agar selalu menjaga suamiku dan mengembalikan cinta dalam kehidupan kami. Doa tulus yang menembus langit. Hatiku terasa lebih lega setelah melakukan salat. Segera kulanjutkan mimpiku sambil menunggu waktu subuh tiba.
Ingin rasanya aku terus hidup di dalam mimpi, tanpa pernah merasakan lagi sakitnya mencintai dan lelahnya berjuang sendiri.
-bersambung-
Halaman : 1 2






