Novel : Bertahan di Atas Luka (Part 2)
Amira Dzakiya.
Kalau kamu kayak gini terus, aku mau pulang aja ke Jakarta, Mas! Akhirnya aku tak tahan lagi.
Langkah suamiku terhenti. Ia berbalik dan menatapku dengan pandangan sulit ditebak.
Kamu serius? tanyanya penuh tekanan. Ia membetulkan jaket kulit yang membungkus tubuhnya untuk melawan hawa dingin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku bergeming. Rasanya bergidik mendengar nada suara yang belum pernah aku dengar sebelumnya.
Hati-hati kalau bicara! Lelaki tinggi tegap itu pun melanjutkan langkahnya ke luar rumah.
Jalan buntu lagi.
˜Kenapa sulit sekali mengajak kamu bicara, Bayu Ramadhan?™ jeritku dalam hati. Aku pun bersiap untuk salat Magrib lalu menyiapkan makan malam. Namun, sampai selesai salat Isya, suamiku belum juga pulang. Biasanya, ia memang suka berdiam di masjid hingga selesai salat Isya berjemaah.
Karena cacing di perutku sudah bernyanyi sejak tadi, aku memutuskan untuk makan duluan. Nasi dan ayam rica-rica telah tersaji di meja makan. Aku juga meletakkan piring, sendok, dan gelas supaya Mas Bayu mudah mengambilnya. Saat aku duduk dan mulai makan, Mas Bayu datang. Aku melirik jam di dinding ruang makan. Pukul 20.00.
Makan dulu, Mas. Aku sudah siapkan, kataku sambil memberikan piring.
Nggak lapar, Mir. Tadi udah beli swarma di luar. Kamu lanjutin aja makan, aku mau nyelesain kerjaan dulu. Selesai berkata, ia meninggalkanku.
Aku terhenyak. ˜Tuhan, kenapa hubungan kami semakin lama semakin tidak menentu?™ Aku menekan dada yang tiba-tiba terasa nyeri. Mataku kembali berkaca-kaca. Namun, kali ini aku tidak mau menyerah. Setengah berlari aku menyusul Mas Bayu ke ruang kerjanya. Lelaki itu sedang menyalakan laptop sambil memegang ponsel.
Sekarang, aku mau kita ngomong. Aku mau Mas dengerin aku ngomong! ujarku pelan, tapi penuh penekanan. Lalu aku duduk di sampingnya.
Mau ngomong apa, sih? Dari tadi ribut aja. Ayo, sekarang ngomong! Mas Bayu meletakkan ponselnya dan menatapku.
Mas masih sayang nggak sama aku? tanyaku dengan suara bergetar.
Ngapain, sih, nanya kayak gitu? Udah nggak pantes, Mir.
Jawab aja! Masih cinta nggak?
Mas Bayu terdiam lama. Sikapnya membuat degup jantungku kembali berdetak lebih cepat. Tanganku gemetar menunggu jawabannya.
Kamu sendiri gimana? Kan kamu yang minta supaya cari penengah untuk memperbaiki hubungan pernikahan kita. Selama ini aku bahagia kok nikah sama kamu, nggak pernah sekali pun aku punya pikiran untuk pisah seperti yang pernah kamu minta. Bagiku, pernikahan itu sesuatu yang sakral, ibadah yang panjang dan seumur hidup, jadi nggak akan ada kata cerai dalam kamusku.
Aku terkesima mendengar kata-kata Mas Bayu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bicara seperti itu. Ada rasa hangat menjalar di hati.
Jadi, Mas nggak mau kita pisah? Kalau begitu kita perlu orang yang bisa kasih nasihat. Kalau nggak, kamu nggak akan pernah mau dengerin dan ngertiin perasaanku.
Kenapa sih harus buka aib rumah tangga ke orang lain? Kalau nanti nyebar ke mana-mana gimana? Kamu tinggal bilang aja ke aku, kenapa kamu minta pisah. Apa salahku? Udah, gitu aja, gampang, kan? Suara Mas Bayu mulai meninggi.
Kamu nggak akan mau ngakuin semua yang akan aku sampein, Mas. Kamu selalu merasa semua baik-baik aja, padahal nggak! Kayak sekarang, aku belum bilang apa-apa, kamu udah marah. Gimana mau selesai?
Rahang Mas Bayu mengeras. Aku cuman nggak mau masalah kita kamu ceritakan ke orang lain! Ia lalu mulai mengetik di laptopnya, membiarkanku terus bicara.
Ustazah Maryam bukan orang lain. Beliau kan guru ngaji kita, Mas.
Halaman : 1 2 Selanjutnya







Pak Bayu kuat ya.. sukanya lari-larian mulu.. 😀