Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 19)

- Penulis

Selasa, 5 November 2024 - 07:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 19)

Kata orang, lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati. Itulah yang dirasakan oleh Erlika sekarang. Sakitnya tuh ada di sini, dia membatin sambil memukuli dada kirinya. Air mata terus mengucur dari kedua netra indahnya yang telah memukau Toni. Rasa sakit ini makin berlipat, ketika ingat akan kebodohan yang dilakukan, mengakibatkan dia kehilangan Toni.

 

Sejak diputus oleh Toni, hidup Erlika terpuruk. Di kantor tersebar gosip jika Erlika telah menjerat Dirut dengan melakukan perbuatan tidak senonoh. Atasan langsungnya makin menindasnya. Teman sekantornya juga tidak menyukainya. Sindiran tajam mulai bergema setiap hari. Erlika bimbang dengan pekerjaannya. Dia mulai mencari kerja di tempat lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Erlika mendengar selentingan jika istri Toni sudah kembali ke rumah mantan kekasihnya itu. Berita itu membuatnya sakit hati pada istri Toni, apalagi dirinya telah dicampakkan oleh tunangannya. Keadaan ini menimbulkan dendam kesumat di hatinya. Iblis mengipasi bibit api kemarahan yang terus berkobar. Dia benar-benar tidak terima diperlakukan seperti ini. Dia bertekad merebut kembali cinta Toni. Kebencian pada istri Toni menggunung.

 

Melihat putrinya pulang dengan lesu, mboke mengikuti Lika ke kamarnya. Dengan sareh, dia menanyai putrinya.

 

Mboke lihat, beberapa hari ini kamu suntrut nggak ceria blas, seperti biasanya. Ada apa sih, Lika? Crita ngeneh maring Mboke, katanya lembut, sambil duduk di pinggir tempat tidur.

 

Ora papa koh. Semua baik-baik saja, jawab Lika tanpa memandang Mboke.

 

Ka, apa karena nak Toni? Sudah lama dia nggak kemari. Kalian putus?

 

Iya, Mbok, jawab Lika lesu, sambil duduk di bangku meja rias. Lika tidak berani memandang ibunya.

 

Terus, ruko sama rumah ini? tanya Mboke kaget campur cemas.

 

Mbuhlah! jawab Lika sambil menggeleng.

 

Keduanya membisu. Helaan dan embusan napas berat keduanya mengisi sepinya kamar Erlika. Beberapa saat kemudian, Mboke memecah keheningan.

 

Mboke pernah ngomong, pake jalan lain, kan? Jenenge usaha. Sapa ngerti dadi musabab nak Toni tetep cinta karo kowe!

 

Lah, Mboke nggak tau apa yang telah kulakukan, batinnya. Dia hanya diam tidak bereaksi.

 

Ka, kita harus usaha. Kapan maning ketemu wong sugih? Kamu harus bisa membuat nak Toni cinta mati sama kamu!

 

Mboke, nyong kesel! Kapan-kapan maning ya, dibahas. Mumet ndasku Mbok, kata Lika mengusir halus ibunya. Hatinya sedih ibunya tidak mau kehilangan Toni. Orang tuanya memang tidak mengetahui yang telah dilakukannya hingga membuat Toni memutus hubungan.

 

Di kantor beredar gosip pak Komisaris sekeluarga akan pergi keliling Turki.

 

Asyik ya jadi istri Dirut, itung-itung honeymoon, celetuk seorang karyawati.

 

Wajarlah, dah setahun mereka belum honeymoon. Pak Dirut sibuk ngurusin proyek-proyek baru. Malah kantor pusatnya dipindah. Kalau kantor Dekom pindah juga ke Semarang, ex kantor pusat dilego kali! timpal Erwin.

 

Shhht, calon gagal nyonya dirut, datang! bisik seorang karyawati yang duduk dekat pintu. Dia melihat kedatangan Erlika. Teman-teman terkikik, tidak peduli Erlika sudah berada di situ.

 

Jodoh juga ada takeran-nya. Sepadanlah, celetuk yang lain.

 

Makanya yang ke Turki ya nyonya Dirut asli bukan yang KW, jelas seorang karyawan. Disambung gelak tawa bersahutan.

 

Biarpun KW 1, yak? sahut seorang karyawati. Ruangan menjadi ramai.

 

Ruangan bos terbuka, Rani muncul di pintu, lalu mengetuk daun pintu dengan keras, menghentikan canda ria anak buahnya. Semua diam seperti orong-orong terinjak.

 

Hei! Kok bercanda terus, sih. Kapan kerjanya! tegurnya.

 

Semua melanjutkan kerja dalam diam. Senyum tipis pun tak berani mereka sungging. Bibir mereka terkatup rapat. Ruangan kembali sunyi, masing-masing tenggelam dalam tugasnya.

 

Sepulang dari Turki, pasangan Toni dan Ratih sebagai suami istri makin membaik. Komunikasi mereka semakin intens. Benih cinta kepada pasangan yang telah tertanam pun semakin subur. Toni makin serius dalam menangani pekerjaan. Ratih, entah kenapa perasaannya makin sensitif, hatinya selalu resah jika Toni terlambat pulang. Dia selalu ingin berdekatan dengan suaminya.

 

Kenyataan bahwa mantan tunangannya sangat mencintai istrinya, membuat luka hati Erlika semakin menganga. Dulu, Toni selalu menghapus kecemburuan Erlika dengan membuktikan pernikahannya hanya sandiwara. Kecemburuan Erlika membakar rasa dendam di hatinya. Dia berjengit teringat kata-kata ibunya.

 

Ah, iya! Kenapa aku melupakan kata-kata Mboke. Nggak ada jalan lain! bisik hatinya. Senyum tipis tersungging samar-samar di bibirnya.

 

Belum genap 10 hari, Toni sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak wajar. Hampir tiap hari pulang terlambat. Dia juga kembali tidur di sofa. Bahkan dengan kasar merebut baju ganti dari tangan Ratih. Saat Ratih mau memasangkan dasi, Toni menolak dengan keras. Dengan tatapan dingin, dia melarang istrinya masuk ke ruang kerjanya. Ratih menyembunyikan perlakuan Toni dari mertuanya. Malam-malamnya berteman dengan tangis.

 

Toni sendiri menghindari pertemuan dengan orang tuanya. Tidak tahan berdekatan dengan istrinya, Toni kembali berkantor di Semarang. Dia sangat gelisah, wajah Erlika terus berkelebatan di mata dan pikirannya. Toni mulai merindukan kehadiran pujaan hati yang sempat dia campakkan.

 

Kegelisahannya makin memuncak. Suara-suara yang menyuruhnya pergi menemui Erlika terus bergaung di telinga dan terus berputar di benaknya. Akhirnya dia tidak tahan lagi menanggung kerinduan. Toni menghubungi mantan tunangannya.

 

Erlika mempermainkan hatinya. Beberapa kali sambungan Toni diabaikan. Saking ngebetnya ingin berjumpa wanita yang sudah merampas hatinya, Toni pulang ke Purwokerto.

 

Akhirnya kau tak bisa melupakanku, kan? gumamnya lirih sambil mencibir.

 

Kelakuan sok jual mahal Erlika dipicu oleh kebanggaan mampu membuat Dirut blingsatan. Keberhasilannya kali ini terasa lebih bermakna daripada saat pertama kali Toni terpikat padanya. Hal ini membuatnya kembali menjadi orang yang tinggi hati. Erlika memakai lagi cincin pertunangannya. Bisik-bisik miring mulai terdengar. Erlika menyapa melalui WA.

 

[Assalamualaikum, Mas. Maaf HP baru saja pulang opname. Lumayan lama. Ada apa, Mas?]

 

Tidak makan waktu lama, pesan dibalas. Erlika tersenyum puas.

 

[Nanti kamu pulang ke vila, ya. Mas tunggu di sana! Ini lagi otw dari Semarang!]

 

Huh! Selalu saja ngatur! Gak papalah yang penting sudah ditangan. Bener kata Mboke, gumamnya senang.

 

Toni kembali tergila-gila pada Erlika. Dia bahkan sering mengabaikan pekerjaannya. Rencana membuat usaha baru berskala internasional tidak lagi dìgarap. Peningkatan standar beberapa hotel juga terbengkalai. Wakil Dirut melapor kepada Komisaris Utama.

 

Kenapa baru lapor? Keadaan sudah parah begini. Hampir dua bulanan? Kupikir dia stay di sini.

 

Tadinya, mau rapat direksi, tapi ditunda-tunda terus. Akhirnya kami kewalahan, terutama untuk proyek-proyek yang sudah terlanjur dibangun. Beruntung belum ada pengecoran!

 

Baik, besok kita rapat intern! perintah Barman, untuk Toni, aku yang atur!

 

Barman segera menghubungi Toni. Berkali-kali sambungannya tertolak. Dia menghubungi Linda, Sekretaris Kantor, menanyakan keberadaan Toni.

 

Maaf pak Komisaris, menurut selentingan, Pak Toni berada di vila bersama seorang perempuan.

 

Mendengar berita ini, Barman naik pitam. Dia segera menghubungi penjaga vila yang membenarkan berita itu.

 

Kebetulan Mas Toni ada, Pak. Biasanya pergi pagi pulang malem. Terkadang malah sampai tiga hari baru pulang, lapor penjaga vila. Barman menyuruh memberikan HP kepada Toni.

 

Halo, Pah.

 

Besok rapat intern! Kau harus datang! titahnya tegas.

 

Di mana, Pah?

 

Di Semarang lah, Papah akan kesana. Siapkan semuanya!

 

Sementara di Jakarta, Rendi mendapat laporan dari adiknya, kalau Toni sedang bersama perempuan yang postingannya viral dulu.

 

Malah temanku melihat perempuan itu tinggal di vila keluarga Sumbogo. Dia juga bilang kalau CEO Grup ANCALA sudah sebulan lebih tinggal di situ.

 

Rendi gemas dengan kelakuan Toni, dia langsung mengajukan cuti untuk pulang kampung. Dia berniat akan menyerahkan sendiri rekaman CCTV kepada Barman. Bergegas Rendi membereskan pekerjaannya, mengadakan pertemuan dengan kelompok desainernya.

 

Barman sangat terkesima, menyaksikan rekaman CCTV dari Rendi. Dia sampai tidak mampu bicara apa-apa. Malam itu Ninit sedang ke mal ditemani Ratih. Setelah menenangkan hati, Barman memperbaiki duduknya.

 

Jadi itu perbuatan perempuan itu? Perempuan yang berulah di medsos! Apa Toni sudah melihatnya?

 

Sudah Om, Toni juga sudah membatalkan pertunangan dan putus hubungan dengan perempuan itu. Saat itu Rendi turut gembira, akhirnya Toni sadar dan mulai menerima istrinya.

 

Saya sempat senang, Om, melihat kemesraan Toni dan istrinya di Turki. Setelah pulang juga masih suka posting kebahagiaan mereka. Jeda sebentar untuk menenangkan gejolak hatinya. Setelah tenang, Rendi melanjutkan.

 

Sebenarnya Adik saya sudah sering lapor kalau Toni lebih sering berkantor di Semarang. Jika pulang ke Purwokerto dia tidur di vila. Ternyata sudah hampir dua bulan mereka berada di vila. Sepertinya perempuan itu juga sudah tidak bekerja lagi.

 

Barman termangu-mangu. Memang dia sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Baru dua mingguan sejak kepulangan mereka dari Turki, Ratih terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia sering melamun jika sendirian. Isah pernah memergokinya sedang menangis nelangsa, di balkon kamarnya.

 

Aah saat itu, kami pikir masalah biasa. Sekarang sudah hampir dua bulan. Kami terlalu memanjakan Toni. Andai tidak ada masalah kantor ¦, gumamnya dalam hati. Barman merasa bersalah. Dia merasa telah mengabaikan pasangan muda itu. Melupakan masalah besar yang pernah menimpa keduanya.

 

Nak Rendi pernah menegurnya?

 

HP-nya sering tidak aktif. Saya pikir karena kesibukan kerja pasca ditinggal ke Turki. Saya sendiri juga sibuk. Begitu mendengar dia tinggal di vila dengan perempuan itu, saya harus bertindak. Lalu apa yang harus kita lakukan, Om? Cuti saya hanya tiga hari. Apa yang bisa saya lakukan besok dan lusa sebelum kembali ke Jakarta. Saya naik kereta malam.

 

Om tau siapa perempuan itu dan keluarganya. Uang Toni terkuras untuk merenovasi rumah mereka dan memberi modal usaha. Dia membelikan kios tempat jualan. Perempuan itu karyawan hotel kami.

 

Jelas sekali motivasinya, sahut Rendi kesal.

 

Ya, desah lirih Barman.

 

Keduanya lalu terdiam. Terdengar suara mobil masuk halaman. Tidak lama, nyonya rumah dan menantunya masuk. Ratih dengan kebahagian palsu di wajahnya menyapa Rendi.

 

Eh, mas Rendi, apa kabar? Datang kapan, Mas?

 

Sugeng ndalu Tante. Tadi waktu Asar, habis magrib langsung kemari, sapa Rendi, disusul menjawab pertanyaan Ratih.

 

Nak Rendi sudah makan malam? tanya Ninit , “kami sudah makan tadi di mal,” lanjutnya.

 

Sudah Tante. Kebiasaan kami, sebelum magrib sudah makan malam. Maklumlah keluarga petani. Magrib nyambung Isya di masjid, pulang langsung tidur, jawabnya sambil tertawa.

 

Maaf ya, mas Rendi. Ratih ke kamar dulu, rasanya lelah nih, habis tawaf di mal, kata Ratih dengan senyum dipaksakan. Matanya kosong tidak bermakna.

 

Rendi menatap Barman, bertepatan Barman juga sedang memandangnya. Ninit merasakan sesuatu. Baru saja bibirnya bergerak mau bicara, Barman menggeleng lemah dengan tatapan menyuruh diam. Dia urung menanyakan pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Ninit pamit ke kamar, mengulangi kata-kata menantunya, disambut tawa suami dan tamunya.

 

Om bingung, memberi tau mamahnya.

 

Apa tidak sebaiknya melibatkan Ayahnya Ratih, Om. Barangkali Om Rangga punya pemikiran sendiri. Yang pasti Om Rangga tentu mengetahui sepak terjang Toni. Paling tidak beliau pasti mendengar rumor ini. Purwokerto bukan kota besar, Om.

 

Keduanya lalu membisu. Rendi memecah keheningan.

 

Om, terus terang setelah putus dengan perempuan itu, Toni mengadu sambil menangis. Hatinya sangat terluka. Tapi dia bertekad untuk melupakan. Ternyata, perempuan itu sudah berbuat salah yang ketiga kalinya. Saya sampai marah karena dia bucin parah pada wanita itu. Barman agak bingung saat Rendi menyebut kata bucin. Rendi tersenyum. Budak cinta, Om.

 

Oalah, istilah anak sekarang ya? Barman tersenyum geli. Dari dulu Toni selalu ngotot mempertahankan apa yang dia mau, walaupun itu berbahaya baginya.

 

Tapi ini agak aneh, Om. Ini jelas-jelas ada bukti kesalahan perempuan itu, bisa-bisanya Toni memaafkannya!

 

Barman mengembuskan napas dengan keras. Dia berjengit, ingat jika Toni pernah bertemu dengan dr. Syarif. Dia berniat kesana dan menanyakan hasil laboratorium Toni. Kalau perlu akan memerkarakan perempuan itu ke Polisi. Sebagai gantinya dia harus meninggalkan Toni.

 

Di tengah dinginnya malam, Toni dan Erlika menghangatkan diri berpelukan di teras belakang vila. Teras menghadap lembah, tertutup dinding pemisah ruang tidur tamu dan ruang tidur utama. Sebuah pintu kaca geser diapit jendela kaca pemisah ruang makan dan ruang keluarga dengan teras. Mereka hanya berdua.

 

Toni yang sudah merasakan manisnya madu asmara, tak lagi kuasa menahan gejolak nafsu. Tapi Toni sekarang lebih berhati-hati. Akal sehatnya masih bicara. Dia tahu hubungannya dengan Erlika memang sembunyi-sembunyi. Hubungan ini telah disahkan dengan nikah siri di suatu masjid kecil di kawasan Baturraden. Bagi Toni yang penting tidak zina. Dia juga menyiapkan surat pernyataan saksi dan ustad yang menikahkan. Sehingga dia punya bukti surat keterangan nikah siri.

 

Toni juga tidak ingin punya keturunan dari Erlika. Dia selalu menyiapkan kontrasepsi. Kemanapun dia selalu mengantonginya. Erlika sangat memabukkan. Bergesekan sedikit sudah cukup memantik api asmara. Tubuhnya selalu panas membara dan siap membakar hasratnya yang menuntut dipuaskan.

 

Saat pembantu sedang menyiapkan sarapan, Erlika baru bangun. Hampir saja dia keluar kamar hanya memakai celana dalam dan lingerie tipisnya. Untung Toni pas keluar dari kamar mandi. Dia segera menariknya. Mau kemana? Bibi sudah datang! Hayo mandi.

 

Erlika mengalungkan lengan, menyipitkan mata memperhatikan wajah Toni yang tampak segar. Tubuh atletisnya yang hanya terlilit handuk memancing gejolak nafsu Erlika. Dia langsung melumat bibir Toni. Dengan agresif menggerayangi tubuh pasangannya. Sampai di pinggang, Toni langsung menghentikan.

 

Hayo mandi, udah siang! Belum puas, kamu?

 

Erlika membisikkan sesuatu lalu menggelitik telinga dengan lidahnya. Toni terbawa arus mulai menyerang pasangannya. Handuk melorot, lingerie pun lepas. Keduanya digulung ombak yang menggairahkan. Terombang ambing dibuai alunan asmara. Meniti tangga ke puncak kenikmatan hingga terempas terdampar kelelahan. Beberapa saat kemudian, mereka mandi bersama di bawah semburan air shower hangat menyegarkan tubuh.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Life Style

5 Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Kamis, 27 Agu 2026 - 13:21 WIB