Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 14)

- Penulis

Kamis, 17 Oktober 2024 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 14)

Di kediaman keluarga Danusaputra, Arum gelisah. Semalam dia bermimpi, putrinya menangis sambil berjalan di tengah kabut. Putrinya terus berjalan tidak mendengar panggilannya. Dia tidak bisa mendekat, seperti ada tirai tak kasat mata yang memagari mereka berdua. Arum berteriak-teriak, Ratiiih! ¦ Ratiiih ¦!

Rangga tersentak bangun mendengar teriakan istrinya. Tangan Arum menggapai-gapai di udara sambil berteriak memanggil putrinya.

Bun ¦ Bunda! Bangun, ada apa teriak-teriak? tanya Rangga membangunkan istrinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Arum terbangun, tubuhnya basah oleh keringat dingin, jantungnya berdebar-debar, napasnya memburu. Matanya nyalang memandang suaminya. Beberapa saat kemudian memeluk erat suaminya.

Yah, Ratih ¦ dia ¦ dia kenapa? Aku khawatir, Yah. Aku takut dia kenapa-napa, katanya dengan bibir bergetar, butiran-butiran air mata pun meluncur deras di kedua pipinya.

Rangga bangkit mengambil gelas berisi air putih di nakas, memberikannya kepada istrinya, minumlah! lalu, mengambil beberapa lembar tisu diberikan kepada istrinya.

Arum minum tiga teguk. Air dingin mengalir di tenggorokan menyejukkan dan mendinginkan hatinya, menghapus sementara kekhawatirannya. Arum menenangkan debaran jantungnya. Mengatur napas untuk melegakan dadanya.

Tidurlah, itu hanya mimpi. Bunda kangen Ratih, kan? Besok, aku pulang sore. Kita jalan-jalan menengok putri kita. Kita ajak Ratih makan sroto Sawangan. Sudah lama kita nggak kesana. Sudahlah, yuk kita tidur lagi.

Rangga memeluk istri tercintanya untuk menenangkan hati mantan kekasihnya. Arum menghadap Rangga. Berbantal lengan suaminya, Arum menyembunyikan wajahnya di dada Rangga sambil memeluk pinggangnya. Keduanya kembali terlelap.

Seperti hari-hari biasanya, Arum sedang melamun menatap televisi. Untuk mengisi waktu, dia menyibukkan diri di dapur. Masakan untuk makan siang sudah siap. Simbok sedang menjemur cucian. Rumah sangat sunyi.

Dulu sebelum Ratih menikah, rumah juga sepi, tapi sore atau malam putrinya ada di rumah. Rasa kangen menusuk kalbu. Dia menghubungi Ninit, sahabatnya, yang kini menjadi besannya. Beberapa kali sambungan tidak juga diangkat.

Apa dia sakit? Ini persis seperti dulu waktu heboh postingan itu. Siapa sebenarnya wanita itu? Dia memang cantik sekali dan matang. Tidak seperti Ratih, masih kekanakan, keras kepala; terus mengejar apa yang ingin diraih! Arum bersenandika lirih.

Maafkan Bunda, ya Sayang. Masa mudamu tercerabut paksa karena janji kami. Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu. Menghindarkan dirimu dari laki-laki yang tidak kita kenal luar dan dalamnya! desahnya lirih.

Arum mengembuskan napas kuat-kuat untuk menghalau rasa curiga yang sempat menyapa. Aku tidak boleh suudzon, itu dosa, gumamnya lirih, lalu beristighfar beberapa kali.

Arum kembali menikmati siaran televisi. Dia memindahkan tayangan ke chanel national geography yang sedang menayangkan gunung-gunung yang ada di Nusantara dari barat sampai ke timur. Amazing, sangat amazing, indah sekali. Negri ini memang serpihan surga yang jatuh ke bumi

Ndoro, Ndoro Kakung mboten kondur dahar siang? tanya Simbok

Ndak, Mbok. Bapak menjamu tamu di restoran. Toto dahar yo, Mbok. Mangganya satu saja. Kamu juga makan buah. Miliyo dewe yo.

Nggih Ndoro, matur nuwun, katanya sambil membungkuk, lalu berlalu ke dapur.

Sesuai janjinya, sore itu Rangga pulang gasik. Mereka sedang menikmati teh hangat ditemani camilan getuk goreng sokaraja dan rempeyek kacang.

Kok ada getuk goreng? tanya Rangga.

Tadi Ratno, dateng, bawa oleh-oleh getuk goreng. Kebon kita panen ubi sama jagung. Nanti sekalian bawa ke sana. Mas Barman doyan banget jagung rebus.

Sekalian aja direbusin, saran Rangga.

Kita bawa yang mentah dan yang mateng juga. Oh iya tadi Ratno bilang, panenan kita langsung laku, Yah. Ada seorang pemuda desa di sana, dia lulusan Unsoed. Pemuda itu yang mempertemukan petani dengan pembeli. Ternyata harga jualnya lebih tinggi dari pengepul. Apalagi Ratno juga jebolan Unsoed kan? Hasil tanaman kita mutunya bagus.

Syukurlah. Kebun kita bermanfaat, bisa membantu keluarga. Sepertinya pertanian di sana dikelola dengan profesional. Sawah ladang juga subur, padahal sungainya ada di bawah.

Ratno juga bilang, saat dipanen langsung dipilah gede kecilnya baru dikarungi. Lumayan Yah, buat kerjaan ibu-ibu sama anak-anak. Mudah-mudahan bisa seterusnya. Biar anak-anak tau sulitnya nyari uang.

Rangga termenung, dia membayangkan, jika panenan langsung dipilah, akan lebih baik lagi, packaging-nya lebih profesional. Pakai peti kayu seperti peti buah atau sayur. Jika ada waktu dia ingin berjumpa dengan pemuda itu.

Sementara Ratih di jalanan, seperti daun kering tertiup angin, melangkah tanpa arah merasa sangat kelelahan. Berjalan setapak demi setapak sambil menahan rasa sakit di tubuh bagian bawah, di sepanjang jalan yang sepi. Baterai ponsel habis daya, dia membutuhkan masjid besar untuk ngecas baterai. Semalam dia lupa gara-gara ulah suaminya.

Teringat akan suaminya, hatinya kembali terluka, matanya mulai berkaca-kaca. Sekuat hati dia menahan tangis. Lidah kerudung syar™i yang dikenakannya mampu menyembunyikan wajah bagian atas dari pandangan orang. Matanya masih sembab, air mata tak henti mengalir dari sudut-sudut matanya. Ratih lelah, lelah lahir batin. Dengan terseok-seok berjalan ke arah masjid besar yang ditunjuk warga.

Dia baru saja masuk sebuah desa di tepi sawah. Sawah yang luas membatasi desa ini dengan kota kecamatan tempat masjid besar berada. Hari sudah menjelang asar. Sejak meninggalkan masjid terakhir selepas salat Zuhur, tanpa sadar Ratih berjalan ke arah luar kota. Dia menghindari keramaian.

Teriknya matahari membuatnya lelah, dia mencari masjid untuk istirahat. Ternyata semua masjid yang ditemui pintunya terkunci. Kata orang, masjid hanya dibuka setiap waktu salat. Masjid yang selalu buka, hanya masjid kecamatan, yang kini sedang dituju, namun lumayan jauh.

Ratih merasakan lelah luar biasa, dia juga belum tidur. Kekuatannya serasa hilang. Musik perut sudah berganti menjadi rasa melilit. Darurat lapar dan haus. Rasanya tak kuat lagi untuk berjalan. Dia memutuskan untuk menunggu waktu masuk asar di sini. Masjid akan dibuka saat masuk waktu asar.

Ratih berhenti di tepian sawah, duduk selonjor kaki menghadap sawah di bawah pohon peneduh. Air matanya runtuh kembali, bergulir jatuh membasahi pipi. Hanya mata yang masih berair. Bibir dan tenggorokannya kering kerontang. Bekal yang tadi dibelinya sudah habis, tinggal seperempat botol minuman ukuran sedang yang masih tersisa. Dia tidak menemukan warung yang menjual minuman.

Ya Allah, di mana rumahMu. Aku ingin mengetuk pintuMu. Aku lelah, sangat lelah raga maupun batin. Tolong beri aku petunjukMu, rintihnya pilu terbawa semilir angin.

Tiba-tiba terdengar suara azan, pertanda masuk waktu asar. Ratih menjawab suara azan dengan semangat. Hatinya lega, berarti ada masjid tidak jauh dari tempatnya berada. Semangat mengalir dari setiap pori-porinya, mengembuskan tekad di hatinya memberi tenaga pada tubuhnya.

Dengan semangat meski tertatih, Ratih bangkit. Kepalanya pening, mata berkunang-kunang, dia terhuyung hampir saja jatuh. Ratih segera berpegang pada batang pohon, memejamkan mata sebentar, mengatur napas. Dia mengambil botol air kemasan dari bagian samping ransel, lalu minum seteguk untuk membasahi tenggorokannya. Dia harus menghemat air minum sampai menemukan orang jualan minuman.

Ratih mulai berjalan menuju arah iqomat yang sedang dikumandangkan. Dia harus menyeberang jalan. Melangkah perlahan sedikit limbung. Di pertengahan jalan, Ratih terhuyung tanpa pegangan bertepatan sebuah city car melaju kearahnya. Mobil berwarna merah, membawa dua orang wanita, melaju tenang. Melihat orang menyeberang dalam keadaan limbung, mobil minggir dan berhenti.

Ratih sempoyongan jatuh tersungkur di aspal yang panas, tepat ketika pengendara dan penumpang city car keluar dari mobil. Keduanya berlari dengan cepat. Si pengemudi merangkul dada dan satunya lagi menarik ransel di punggung Ratih. Dia terselamatkan dan batal mencium aspal panas.

Dipapah oleh kedua penolongnya, Ratih didudukkan di bawah pohon rindang tidak jauh dari mobil. Setengah sadar, Ratih bergumam, lalu mendesis menahan sakit. Si pengemudi berniat mendengarkan gumaman dengan jelas. Dia kaget melihat wajah wanita yang ditolongnya, Ratih ¦ Ratih, sedang apa kau di sini? jerit pengemudi yang tidak lain adalah Cindy, putri Bastian, teman sekolah Ratih.

Ratih minum air dingin yang diambil dari mobil. Dia hanya mampu minum seteguk, kepalanya terasa berat, pandangannya kabur semakin gelap, lalu tak sadarkan diri. Cindy dan temannya memapah mendudukkan Ratih di kursi depan, pintunya lebih luas dibanding pintu belakang. Sandaran direbahkan untuk mempermudah menaikkan kakinya.

Kita bawa kemana? Margono apa DKT tanya teman Cindy.

Kita pikirkan sambil jalan! kata Cindy.

Mereka putar arah kembali ke kota, menuju rumah sakit daerah. Cindy berubah pikiran,

kita ke Geriatri saja, di sana ada Ruang VVIP.

Ratih dibawa ke IGD, lalu ditangani dokter. Cindy mencari dompet Ratih, mencari identitasnya. Cindy memberitahu petugas IGD jika ayah Ratih adalah Rangga Wijaya Danusaputra. Hampir semua orang di kota itu kenal nama itu. Seorang pengusaha kaya yang murah hati.

Berkat namanya, semua jadi lancar. Cindy meminta agar Ratih dirawat dulu, masalah administrasi menunggu ayahnya datang. Dia menelpon ayahnya. Ratih segera mendapat penanganan dan pemeriksaan oleh dokter IGD.

Sementara dirumah Ratih, Arum yang sedang minum teh bersama suaminya pamit ke dapur. Dia mau mengecek Simbok yang sedang merebus ubi dan jagung, untuk bawaan ke rumah besan. Tiba-tiba terdengar suara gaduh.

Prang!!! Arum menjatuhkan gelas berisi air. Karena terkejut mau menghindari pecahan gelas, malah terpeleset. Tangannya menyenggol panci untuk tempat rebusan jagung. Krompyang!!! disusul teriakan Arum.

Simbok berhasil menangkap tangan ndoro putrinya, sehingga Arum dapat berdiri stabil, berpegangan meja. Mendengar keributan di dapur, Rangga bergegas menuju dapur.  Tutup panci menggelinding keluar dapur menabrak kaki Rangga. Simbok menuntun Arum duduk di kursi.

Ada apa Mbok? tanya Rangga di depan pintu sambil memungut tutup panci.

Jangan masuk Ndoro ada beling. cegah Simbok sambil menyapu, mengumpulkan serpihan beling.

Simbok membersihkan lantai dengan lap basah, agar serpihan kecil terbawa lap. Lantai kembali bersih dan tidak berbahaya. Arum menenangkan debaran jantungnya yang berkejaran susul menyusul. Dari pintu Rangga nongol penuh rasa khawatir

Bun, ada apa? Kamu terluka, nggak?

Setelah melepaskan napas dengan keras, Arum baru menjawab, aku nggak papa, cuma ¦ Ratih, Yah. Wayangane ngglibet di mataku, seperti minta tolong. Wajahnya kelihatan menderita, disusul isakan yang menjadi.

Rangga masuk lalu memeluk istrinya menenangkan. Sudah, sudahlah. Yuk ke dalam, biar Mbok saja yang ngurus di sini semuanya.

Arum mengangguk sambil menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu bangkit. Keduanya beriringan keluar dapur. Simbok memandang keduanya sambil tersenyum simpul. Diam-diam mengacungkan jempol di samping tubuhnya yang gempal.

Ndoro Kakung cinta banget sama Ndoro Putri. Sebaliknya, Ndoro Putri bektinya nggak ketulungan sama Ndoro Kakung. Jian tumbu olih tutup wis klop. Itulah kalau jodoh pemberian Gusti Allah, Mugo-mugo Jeng Ratih begitu juga, aamiin, gumamnya sambil mewadahi rebusan jagung dan ubi.

Rangga membawa istrinya ke kamar tidur. Mereka duduk berdampingan di bibir ranjang. Arum tersungkur di pangkuannya menangis tersedu-sedu sambil menyebut nama Ratih berulang kali.

Sudah ¦ cup, ya Sayang, ayo kita doakan yang terbaik untuk Ratih bersama-sama, kata Rangga sambil mengelus lembut kepala Arum.

Bayangan dia terus menempel di mataku ¦, kata Arum sendu.

Rangga membantu Arum duduk, lalu mengecup keningnya dengan sepenuh hati. Arum selalu merasa nyaman dan hatinya tegar bila ada suaminya. Dia mengatur napas untuk meredakan gejolak hatinya. Batinnya terus saja merasa tidak nyaman entah disebabkan karena apa.

Tiba-tiba telinga Rangga menangkap suara panggilan Ratih dari kejauhan. Keningnya mengernyit, lalu konsentrasi. Dia kembali mendengar panggilan Ratih. Dia masih berpikir, kenapa Ratih berteriak-teriak memanggilnya. Bukan kebiasaan putrinya berteriak-teriak seperti itu.

Bun, Bunda denger nggak suara panggilan Ratih?

Arum segera mempertajam pendengarannya, mengernyitkan kening sampai dalam. Dia sama sekali tidak mendengar apapun, kecuali suara televisi di ruang duduk. Arum menatap suaminya dengan penuh tanda tanya, lalu menggeleng. Senyum tipis terukir di bibirnya.

Hayo, Ayah juga merindukannya, kan? kata Arum mencibir, meledek suaminya.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Life Style

5 Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Kamis, 27 Agu 2026 - 13:21 WIB

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB