Novel : Choose Happiness (Part 19)

- Penulis

Jumat, 8 November 2024 - 21:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 19)

Kini Amora pun membiarkan cairan bening itu membasahi pipinya. Setelah beberapa detik terisak karena menangis, Amora mulai menundukkan kepalanya dan secara tiba-tiba tertawa.

Gadis itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang sebelumnya dia tundukkan dengan kondisi yang masih saja tertawa meski air matanya terus menetes membasahi pipi mulus berwarna putih itu.

Tapi setelah menatap dirinya sendiri di depan cermin, Amora terdiam sejenak sebelum menarik bibir kirinya ke atas. Lalu tangan kanannya mulai terangkat untuk menghapus air matanya itu, “Sadar, Ra. Lo masih ada di tengah permainan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Lupain perasaan sialan ini. Lo di sini cuma untuk balas dendam, bukan malah suka sama Daren kayak gini” ucap Amora seraya menatap tajam dirinya sendiri di depan cermin toilet itu.

“Arghh!!” secara tiba-tiba Amora mengacak-acak rambutnya karena sungguh frustasi dengan apa yang tengah terjadi.

Beberapa menit kemudian terlihat Amora yang keluar dari kamar mandi dengan wajah datar dengan rambut serta penampilan yang sudah rapi kembali, dia pun dengan anggun berjalan kembali menuju tempat duduknya.

Di sekitar pukul setengah 12 malam yang masih mengikuti waktu di Paris, terlihat Amora yang tengah tidur dengan posisi wajah yang dia hadapkan ke arah jendela pesawat, sedangkan di pesawat yang lain terlihat Daren yang baru saja menaikinya dengan Nasyla yang juga ada di pesawat itu.

Keesokan harinya, tepatnya di hari Jum’at di sekitar pukul 10 siang mengikuti jam yang ada di Indonesia, terlihat Amora yang baru saja memasuki rumahnya yang telah dia tinggalkan selama kurang lebih 5 hari itu.

Saat membuka pintu kamarnya, Amora berhenti sejenak dengan tangan kiri yang masih memegang kenop pintu itu, “Lo harus kuat, Ra.”

“Semua ada masanya, dan ini demi Kakak lo” ucap Amora seperti tengah berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah itu Amora pun berjalan memasuki kamarnya sembari menyeret koper yang sedari tadi dengan senantiasa dia pegang erat, dan kini dia pun menaruhnya di walk in closet yang ada di kamarnya.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Amora langsung menata semua barang-barangnya yang ada di dalam koper itu ke tempatnya semula, dan selesai melakukan itu dia pun mandi.

Di sore harinya, di sekitar pukul 4 sore terlihat sebuah mobil berhenti di garasi rumah Daren yang saat itu hanya ada mobil milik Daren. Di dalam mobil itu terlihat Daren dan seorang pemuda yang berada di kursi pengemudi.

“Mobil Amora ngga ada, cepet lo periksa ke dalem” ucap pemuda itu.

“Iya” jawab Daren yang lalu turun dari mobil itu.

Dengan langkah lebar Daren memasuki rumahnya itu, melihat keadaan yang masih kosong membuatnya langsung menaiki tangga menuju kamarnya dengan Amora.

Sesampainya di kamar itu Daren langsung berjalan menuju walk in closet dan melihat barang-barang serta baju Amora yang ternyata masih utuh di sana.

“Kenapa ngga lo telfon aja?” ucap pemuda tadi yang ternyata mengikuti langkah Daren.

“Nomor saya diblokir sama Amora.”

“Ngga lo coba lagi?, siapa tau udah dibuka tuh blokiran sama Istri lo” ujar pemuda tampan itu lagi.

Dengan helaan nafas Daren berjalan keluar dari ruangan itu menuju sofa yang ada di kamarnya. Pemuda itu mengikuti langkah Daren dan ikut duduk juga di sana, tapi di sofa yang berbeda dengan Daren.

Setelah itu Daren mengeluarkan handphone-Nya dan kembali menelfon Amora untuk ke sekian kalinya, ternyata nomornya sudah tidak diblokir oleh Amora, namun panggilannya terus saja ditolak.

Daren hampir saja menyerah, tapi akhirnya telfonnya yang entah keberapa itu diangkat oleh Amora, “Ra.”

“Maaf, Kak. Tadi masih ada kelas tambahan, jadi aku ngga bisa angkat telfonnya” ujar Amora di sebrang sana.

“Kamu lagi di kampus?” tanya Daren setelah mendengar suara Amora yang sudah sangat dia nanti-nantikan itu.

“Iya, habis ini aku mau ke toko buku bentar terus pulang” jawab Amora yang kini berjalan menuju parkiran kampus besar itu berada.

Mendengar itu Daren benar-benar lega, “Oke, saya tunggu ya, Ra.”

“Iya.”

Setelah itu telfon antara Daren dan Amora pun berhenti di sana. Daren benar-benar lega mendengar nada bicara Amora yang sepertinya tidak marah lagi kepadanya, mungkin dia akan semakin meluruskan lagi masalahnya dengan Amora setelah Amora pulang.

“Udah, Ro. Kamu pulang aja, makasih udah jemput saya dan nganterin ke rumah” ucap Daren yang sibuk membuka kancing yang ada di pergelangan tangannya.

“Iyee, sama-sama Bapak Daren yang terhormat. Saya, Varo pamit undur diri” ujar pemuda tampan yang ternyata memiliki nama Varo itu.

Setelah mendengar deheman Daren, Varo pun beranjak dari sofa itu dan berjalan pergi dari rumah dengan lantai 2 yang menjadi tempat tinggal Daren dan Amora.

Di sekitar pukul 5 sore kurang, terlihat Amora yang berjalan dari garasi mobilnya menuju pintu utama rumahnya sembari menenteng tas berisikan buku-buku belajarnya.

Amora pun memasukkan pin pintunya terlebih dahulu sebelum masuk, baru saja melangkah ke dalam rumahnya, Amora sudah disambut dengan keberadaan Daren yang tengah duduk bersender di sofa ruang tamu.

“Kak, ngapain di sana?” tanya Amora yang sebenarnya cukup terkejut melihat keberadaan Daren.

“Eh, Ra. Saya mau ngomong sesuatu” ucap Daren yang langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri Amora.

Mereka berdua kini pun saling menatap satu sama lain di ruang tamu, “Saya mau jelasin apa yang terjadi kemarin, kemarin itu-”

“Kak, tadi aku udah ngabarin Mama kalau kita udah sampai Indonesia, dan Mama bilang suruh ke rumah. Aku juga mau ngasih kain yang udah kita beliin kemarin, jadi nanti malam kita ke sana kan?” ujar Amora yang tiba-tiba memotong ucapan Daren yang belum selesai.

“Iya, Ra. Nanti malam kita ke sana setelah makan malam. Dengerin saya dulu, saya mau ngomong tentang kejadian kemarin di Paris” jawab Daren yang masih ingin lanjut menjelaskan kejadian yang tidak terduga terjadi kemarin.

“Kak, aku mau mandi dulu. Habis ini juga mau masak, nanti keburu malam” lagi-lagi Amora menyela ucapan Daren dengan senyum manisnya.

Setelah itu dia pun berjalan melewati Daren yang kini menghela nafas kasar setelah melihat tingkah Amora yang sepertinya sangat mengindari perbincangan tentang kejadian kemarin di Paris, tepatnya di Trocadero Gardens.

 

Bersambung……..

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-18/

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru