Novel : Choose Happiness (Part 19)

- Penulis

Jumat, 8 November 2024 - 21:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 19)

Novel : Choose Happiness (Part 19)

Bab. 19 Kembali Ke Indonesia

“Amora” Daren langsung melepaskan pelukan perempuan yang tak lain tak bukan adalah Nasyla.

Setelah melihat siapa perempuan itu, Amora pun membalikkan badannya dan berjalan pergi. Melihat Amora yang menjauh darinya membuat Daren langsung berjalan cepat untuk mengejarnya dan berhasil menghentikan perempuan itu, “Ra, dengerin penjelasan saya dulu.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merasa pergelangan tangannya yang dipegang oleh Daren membuat Amora langsung menghempaskan tangan besar itu, “Ngga ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas.”

“Apa?, apa yang jelas, Ra?” tanya Daren.

“Kamu sengaja kan nyuruh dia ke sini?. Karena emang rencana kamu, setelah selesai liburan sama aku, kamu mau lanjut liburan sama dia. Udah lah, semua udah jelas.”

“Selamat menikmati liburan kalian, biar aku aja yang pulang ke Indonesia” ucap Amora yang lalu berjalan cepat meninggalkan Daren yang masih berdiri di tempat.

Saat hendak menyusul langkah Amora, Nasyla langsung menghentikan Daren dengan memeluk laki-laki itu dari belakang, “Jangan tinggalin aku lagi.”

“Lepaskan saya, Syla” ucap Daren dengan nada datar andalannya.

“Ngga mau. Aku ngga akan pernah biarin kamu sama Amora, kamu masih punya aku” jawab Nasyla yang semakin memeluk Daren dengan sangat erat.

“Kita udah putus, Syla. Dan lagi, kamu hanya saya sewa bukan?, dulu kamu juga setuju jika suatu saat nanti kamu saya putuskan” ujar Daren yang lalu memegang tangan Nasyla untuk melepaskannya dari tubuhnya.

Tapi Nasyla tetap tidak ingin melepaskan tangannya dari tubuh Daren, “Putus itu terjadi dengan keputusan dua orang, Sayang. Bukan hanya kamu.”

Dengan tangan yang terkepal sempurna Daren akhirnya berhasil melepaskan pelukan Nasyla darinya, “Sebaiknya kamu cerna baik-baik dulu perjanjian yang sudah kita buat.”

“Dan jika sampai Amora kenapa-napa karena kamu, saya ngga akan pernah maafin bahkan lepasin kamu” ujar Daren yang lalu menyusul Amora yang sudah lama menghilang dari pandangannya.

Ternyata Amora kini sudah berada di kamar hotel dan tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam koper dengan sangat tergesa-gesa hingga tidak ada satu barang pun yang tertata dengan rapi di dalam kopernya.

Setelah Amora rasa bahwa semua barangnya telah dia bawa, Amora pun menghembuskan nafasnya sejenak seraya menatap semua sudut kamar itu sebelum pergi dari sana dengan menaiki salah satu dari 2 lift yang ada di lantai itu untuk turun menuju lobby.

Di sisi lain terlihat Daren yang berada di lobby tengah berjalan dengan sangat cepat menuju lift yang baru saja sampai di lobby dengan membawa beberapa orang, setelah itu Daren pun menekankan tombol yang bertuliskan angka tempat kamarnya berada.

Di waktu yang bersamaan tetapi dengan lift yang berbeda, mereka saling melewatkan. Amora di lift yang turun ke lobby, sedangkan Daren menaiki lift menuju kamarnya berada.

Sesampainya di lobby, Amora langsung keluar dari hotel mewah itu dan menaiki sebuah taxi yang telah dia pesan untuk menghantarkannya menuju bandara CDG.

Dan kini di waktu bersamaan terlihat Daren yang baru saja memasuki kamarnya yang sudah cukup kosong. Melihat itu Daren semakin panik, dia pun mencari-cari keberadaan barang-barang Amora yang ternyata sudah tidak ada satu pun di sana.

“Raa…” lirih Daren saat melihat tidak ada satu pun barang milik Amora yang dia temukan di kamar hotelnya itu.

Setelah mengusap kasar wajahnya, Daren pun mengambil benda pipih miliknya dan mulai menelfon Amora, Daren semakin frustasi saat beberapa kali telfon darinya selalu ditolak oleh Amora. Tapi akhirnya setelah ke-17 kalinya, Amora pun dengan kesal menerima telfon tersebut.

“Ra.”

“Apa sih, Kak?”

“Dengerkan penjelasan saya dulu, itu semua tidak seperti yang kamu bilang tadi. Saya bisa jelaskan semuanya dari awal hingga akhir, saya mohon jangan salah paham dulu” ujar Daren dengan nada yang sangat menggambarkan ke-frustrasiannya.

“Ngga perlu, Kak. Mau kayak gimana pun, apa yang tadi kulihat itu nyatakan?” ucap Amora yang kini masih berada di dalam mobil taxi.

“Kita ngga bisa bicara di telfon, kita harus bertemu. Beritahu saya di mana kamu sekarang?” tanya Daren.

Amora terdiam sejenak, “Ra.”

Suara Daren yang terdengar tepat di telinga Amora membuat perempuan itu sedikit tersentak dan berujung tersadar dari lamunannya, “Aku udah mau nyampe di bandara.”

“Kamu ngapain di sana?” tanya Daren dengan nada yang seperti menahan marah dan nada tinggi.

“Bukannya aku udah bilang kalau aku bakal pulang ke Indonesia?. Kenapa masih nanya lagi?” jawab Amora dengan ketusnya.

“Engga, kamu harus pulang sama saya. Tunggu saya” ucap Daren yang lalu mematikan telfon tersebut dan langsung membereskan barang-barangnya juga secepat mungkin.

Tapi sayangnya, segala usaha yang telah Daren lakukan siang itu sia-sia. Karena sesampainya dirinya di bandara CDG itu, pesawat yang ditumpangi oleh Amora sudah lepas landas di udara bertepatan ketika dia sampai di sana, tepatnya di sekitar pukul setengah 4 sore.

Melihat itu Daren pun benar-benar menyesal, dia marah kepada dirinya sendiri, “Sayang, kamu ngapain di sini?” tanya Nasyla yang lalu memegang lengan Daren.

“Lepaskan. Mau kamu apa sih?” tanya Daren dengan marah setelah menghempaskan tangan Nasyla hingga terlepas dari lengannya.

“Aku ngga terima kamu putusin aku gitu aja” jawab Nasyla yang masih berusaha untuk mendekati Daren.

“Dari awal saya sudah bilang, saya akan putuskan kamu jika saya sudah tau kenyataannya. Dan sekarang saya sudah tau. Jadi berhenti ganggu hidup saya.”

“Dari awal juga kamu yang setuju dan rencanain ini semua, saya ngga pernah maksa kamu sedikitpun, Nasyla” ucap Daren panjang lebar dengan menekan beberapa kata yang telah dia ucapkan.

Nasyla terdiam mendengar seluruh perkataan yang terucapkan dari mulut Daren. Setelah itu Daren pun berjalan pergi meninggalkan Nasyla sendirian menuju tempat penjualan tiket berada.

Di sisi lain terlihat Amora yang berada di kamar mandi pesawat yang dia tumpangi, perempuan itu menatap dirinya di depan kaca kamar mandi itu dengan mata yang mulai memerah.

“Lo jahat, Kak. Gue kira yang lo bilang tadi pagi beneran, tapi ternyata itu cuma sekedar ucapan dari mulut lo doang” ucap Amora seraya menahan air matanya yang hendak menetes.

Setelah mengatakan itu sebuah kejadian tadi pagi terlintas di benak Amora. Saat itu terlihat Daren yang menatap Amora yang masih menutup matanya dengan wajah yang sangat tenang. 

Daren yang melihat itu mulai menyunggingkan bibirnya dan mengucapkan sesuatu, “Cantik.”

“Ra, je t’aime.”

Setelah mengucapkan dua hal itu, Daren dengan pelan turun dari kasur yang sangat nyaman itu dan berjalan menuju kopernya lalu masuk ke dalam kamar mandi. 

Mendengar Daren yang sudah masuk ke dalam kamar mandi membuat Amora membuka matanya dan tersenyum seperti salah tingkah, karena dia tau betul arti dari kata bahasa Perancis yang telah diucapkan oleh Daren barusan. 

Selain itu, ingatan di mana Amora melihat Daren berpelukan dengan Nasyla tadi juga berputar kembali di dalam benaknya. Itu semua benar-benar membuat Amora tidak bisa lagi menahan air matanya.

Kini Amora pun membiarkan cairan bening itu membasahi pipinya. Setelah beberapa detik terisak karena menangis, Amora mulai menundukkan kepalanya dan secara tiba-tiba tertawa.

Gadis itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang sebelumnya dia tundukkan dengan kondisi yang masih saja tertawa meski air matanya terus menetes membasahi pipi mulus berwarna putih itu.

Tapi setelah menatap dirinya sendiri di depan cermin, Amora terdiam sejenak sebelum menarik bibir kirinya ke atas. Lalu tangan kanannya mulai terangkat untuk menghapus air matanya itu, “Sadar, Ra. Lo masih ada di tengah permainan.”

“Lupain perasaan sialan ini. Lo di sini cuma untuk balas dendam, bukan malah suka sama Daren kayak gini” ucap Amora seraya menatap tajam dirinya sendiri di depan cermin toilet itu.

“Arghh!!” secara tiba-tiba Amora mengacak-acak rambutnya karena sungguh frustasi dengan apa yang tengah terjadi.

Beberapa menit kemudian terlihat Amora yang keluar dari kamar mandi dengan wajah datar dengan rambut serta penampilan yang sudah rapi kembali, dia pun dengan anggun berjalan kembali menuju tempat duduknya.

Di sekitar pukul setengah 12 malam yang masih mengikuti waktu di Paris, terlihat Amora yang tengah tidur dengan posisi wajah yang dia hadapkan ke arah jendela pesawat, sedangkan di pesawat yang lain terlihat Daren yang baru saja menaikinya dengan Nasyla yang juga ada di pesawat itu.

Keesokan harinya, tepatnya di hari Jum’at di sekitar pukul 10 siang mengikuti jam yang ada di Indonesia, terlihat Amora yang baru saja memasuki rumahnya yang telah dia tinggalkan selama kurang lebih 5 hari itu.

Saat membuka pintu kamarnya, Amora berhenti sejenak dengan tangan kiri yang masih memegang kenop pintu itu, “Lo harus kuat, Ra.”

“Semua ada masanya, dan ini demi Kakak lo” ucap Amora seperti tengah berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah itu Amora pun berjalan memasuki kamarnya sembari menyeret koper yang sedari tadi dengan senantiasa dia pegang erat, dan kini dia pun menaruhnya di walk in closet yang ada di kamarnya.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Amora langsung menata semua barang-barangnya yang ada di dalam koper itu ke tempatnya semula, dan selesai melakukan itu dia pun mandi.

Di sore harinya, di sekitar pukul 4 sore terlihat sebuah mobil berhenti di garasi rumah Daren yang saat itu hanya ada mobil milik Daren. Di dalam mobil itu terlihat Daren dan seorang pemuda yang berada di kursi pengemudi.

“Mobil Amora ngga ada, cepet lo periksa ke dalem” ucap pemuda itu.

“Iya” jawab Daren yang lalu turun dari mobil itu.

Dengan langkah lebar Daren memasuki rumahnya itu, melihat keadaan yang masih kosong membuatnya langsung menaiki tangga menuju kamarnya dengan Amora.

Sesampainya di kamar itu Daren langsung berjalan menuju walk in closet dan melihat barang-barang serta baju Amora yang ternyata masih utuh di sana.

“Kenapa ngga lo telfon aja?” ucap pemuda tadi yang ternyata mengikuti langkah Daren.

“Nomor saya diblokir sama Amora.”

“Ngga lo coba lagi?, siapa tau udah dibuka tuh blokiran sama Istri lo” ujar pemuda tampan itu lagi.

Dengan helaan nafas Daren berjalan keluar dari ruangan itu menuju sofa yang ada di kamarnya. Pemuda itu mengikuti langkah Daren dan ikut duduk juga di sana, tapi di sofa yang berbeda dengan Daren.

Setelah itu Daren mengeluarkan handphone-Nya dan kembali menelfon Amora untuk ke sekian kalinya, ternyata nomornya sudah tidak diblokir oleh Amora, namun panggilannya terus saja ditolak.

Daren hampir saja menyerah, tapi akhirnya telfonnya yang entah keberapa itu diangkat oleh Amora, “Ra.”

“Maaf, Kak. Tadi masih ada kelas tambahan, jadi aku ngga bisa angkat telfonnya” ujar Amora di sebrang sana.

“Kamu lagi di kampus?” tanya Daren setelah mendengar suara Amora yang sudah sangat dia nanti-nantikan itu.

“Iya, habis ini aku mau ke toko buku bentar terus pulang” jawab Amora yang kini berjalan menuju parkiran kampus besar itu berada.

Mendengar itu Daren benar-benar lega, “Oke, saya tunggu ya, Ra.”

“Iya.”

Setelah itu telfon antara Daren dan Amora pun berhenti di sana. Daren benar-benar lega mendengar nada bicara Amora yang sepertinya tidak marah lagi kepadanya, mungkin dia akan semakin meluruskan lagi masalahnya dengan Amora setelah Amora pulang.

“Udah, Ro. Kamu pulang aja, makasih udah jemput saya dan nganterin ke rumah” ucap Daren yang sibuk membuka kancing yang ada di pergelangan tangannya.

“Iyee, sama-sama Bapak Daren yang terhormat. Saya, Varo pamit undur diri” ujar pemuda tampan yang ternyata memiliki nama Varo itu.

Setelah mendengar deheman Daren, Varo pun beranjak dari sofa itu dan berjalan pergi dari rumah dengan lantai 2 yang menjadi tempat tinggal Daren dan Amora.

Di sekitar pukul 5 sore kurang, terlihat Amora yang berjalan dari garasi mobilnya menuju pintu utama rumahnya sembari menenteng tas berisikan buku-buku belajarnya.

Amora pun memasukkan pin pintunya terlebih dahulu sebelum masuk, baru saja melangkah ke dalam rumahnya, Amora sudah disambut dengan keberadaan Daren yang tengah duduk bersender di sofa ruang tamu.

“Kak, ngapain di sana?” tanya Amora yang sebenarnya cukup terkejut melihat keberadaan Daren.

“Eh, Ra. Saya mau ngomong sesuatu” ucap Daren yang langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri Amora.

Mereka berdua kini pun saling menatap satu sama lain di ruang tamu, “Saya mau jelasin apa yang terjadi kemarin, kemarin itu-”

“Kak, tadi aku udah ngabarin Mama kalau kita udah sampai Indonesia, dan Mama bilang suruh ke rumah. Aku juga mau ngasih kain yang udah kita beliin kemarin, jadi nanti malam kita ke sana kan?” ujar Amora yang tiba-tiba memotong ucapan Daren yang belum selesai.

“Iya, Ra. Nanti malam kita ke sana setelah makan malam. Dengerin saya dulu, saya mau ngomong tentang kejadian kemarin di Paris” jawab Daren yang masih ingin lanjut menjelaskan kejadian yang tidak terduga terjadi kemarin.

“Kak, aku mau mandi dulu. Habis ini juga mau masak, nanti keburu malam” lagi-lagi Amora menyela ucapan Daren dengan senyum manisnya.

Setelah itu dia pun berjalan melewati Daren yang kini menghela nafas kasar setelah melihat tingkah Amora yang sepertinya sangat mengindari perbincangan tentang kejadian kemarin di Paris, tepatnya di Trocadero Gardens.

 

Bersambung……..

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-18/

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan

Life Style

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan 5 Hal ini

Jumat, 7 Agu 2026 - 12:17 WIB