Redaksiku.com – Pencarian bekantan di rawa gambut Kalimantan Selatan sering kali membutuhkan kesiapan mental tersendiri karena satwa endemik ini kerap berpindah tempat. Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Rafa’i ketika membawa ketintingnya menyusuri perairan di Pulau Jingah, Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Meskipun beberapa nelayan lokal mengaku pernah melihat primata berhidung panjang tersebut, keberuntungan belum berpihak padanya setelah tiga kali melakukan perjalanan. Habitat alami bekantan di wilayah ini sangat bergantung pada ekosistem rawa gambut yang luas dan lebat.
Warga setempat sebenarnya sudah tidak asing dengan kehadiran monyet belanda ini di sekitar aktivitas harian mereka mencari ikan. Amat Kani, salah seorang warga Desa Bararawa, bahkan sempat merekam momen ketika dirinya tidak sengaja berjumpa dengan satwa tersebut di sela-sela aktivitas mencari ikan pada Senin, 24 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar di kawasan perairan Hulu Sungai Utara masih terjadi secara alami. Bekantan atau Nasalis larvatus dikenal sangat bergantung pada kawasan mangrove serta hutan rawa riparian untuk bertahan hidup.
Ancaman Nyata Kerusakan Rawa Gambut
Keberadaan bekantan di wilayah Paminggir yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Hulu Sungai Tengah tidak bisa dilepaskan dari fungsi ekologis rawa. Rawa di kawasan ini bertindak sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus rumah utama bagi berbagai satwa liar yang dilindungi.
Miftahul Pauji selaku Ketua Badan Pengurus AP2SI (Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia) Kalimantan Selatan menyoroti pentingnya menjaga kelestarian bentang alam tersebut. Menurutnya, tata air rawa memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan secara keseluruhan.
Rawa Paminggir berfungsi ganda sebagai penyimpan cadangan air, mitigasi banjir, serta penyerap karbon yang krusial bagi wilayah Kalimantan Selatan.
Kerusakan pada ekosistem hutan rawa diyakini akan memberikan dampak domino yang merugikan banyak pihak. Jika alih fungsi lahan terus terjadi tanpa kendali, ancaman kepunahan lokal bagi satwa endemik akan semakin nyata di depan mata.
Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil perairan juga akan merasakan dampak langsung dari penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, perlindungan terhadap kawasan rawa gambut harus melibatkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah.
Catatan Lapangan dan Penelitian Terdahulu
Pemantauan populasi bekantan di wilayah rawa gambut Kalimantan Selatan sebenarnya bukan hal baru bagi dunia akademis. Peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang terdiri dari Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah pernah melakukan studi serupa pada 2013 di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Dalam riset tersebut, tim peneliti menyambangi 18 lokasi berbeda untuk memetakan sebaran dan status konservasi bekantan. Hasilnya, kelompok satwa tersebut langsung terdeteksi di empat lokasi pengamatan dengan temuan total mencapai 55 individu.
Tim peneliti ULM mencatat ada sebanyak 55 individu bekantan yang berhasil ditemukan langsung pada empat lokasi berbeda di Hulu Sungai Tengah.
Temuan historis ini membuktikan bahwa lanskap rawa gambut di daratan Kalimantan Selatan merupakan koridor ekologis yang sangat penting. Perubahan lanskap sekecil apa pun di wilayah hulu maupun hilir dapat memutus jalur jelajah kelompok primata tersebut.
Upaya mitigasi dan perlindungan habitat kini mendesak untuk segera diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah setempat. Tanpa adanya intervensi kebijakan yang tegas, populasi bekantan dikhawatirkan akan terus terdesak oleh aktivitas manusia.
Pertanyaan Umum
Di mana lokasi pencarian bekantan yang dilakukan warga?
Pencarian tersebut dilakukan di Pulau Jingah yang terletak di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
Apa fungsi ekologis dari Rawa Paminggir?
Rawa Paminggir berfungsi untuk menyimpan air, mengurangi risiko banjir saat musim hujan, menjaga ketersediaan air di musim kemarau, serta menyimpan cadangan karbon.
Siapa saja akademisi yang pernah meneliti bekantan di wilayah tersebut?
Penelitian sebaran bekantan pada tahun 2013 dilakukan oleh Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah dari Universitas Lambung Mangkurat.
Ringkasan
Populasi bekantan di rawa gambut Kalimantan Selatan masih dapat ditemukan di beberapa titik seperti di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, meskipun keberadaannya semakin terancam oleh kerusakan ekosistem rawa.
Kawasan rawa gambut sangat krusial bagi kelangsungan hidup bekantan dan keseimbangan lingkungan. Studi Universitas Lambung Mangkurat sebelumnya mencatat ada 55 individu bekantan di wilayah sekitar, sehingga perlindungan habitat dan tata air rawa sangat mendesak untuk mencegah kepunahan satwa endemik ini.






