Peringatan bagi Institusi TNI
Kasus ini juga jadi ujian bagi institusi TNI untuk menunjukkan komitmennya terhadap reformasi internal dan supremasi hukum. Sebagai lembaga negara yang disegani, TNI diharapkan bisa bersikap transparan, objektif, dan adil terhadap setiap anggotanya yang melanggar hukum.
Banyak pihak mengingatkan bahwa kasus kekerasan seperti ini bisa mencoreng nama baik institusi bila tidak ditangani secara profesional. Sebaliknya, bila penegakan hukumnya adil dan terbuka, kepercayaan masyarakat terhadap TNI justru akan semakin kuat.
Menanti Putusan Hakim
Kini, semua mata tertuju pada majelis hakim Pengadilan Militer I-02 Medan yang akan memutuskan nasib Sertu Riza. Publik berharap putusan akhir nanti bisa lebih adil dan proporsional, mengingat korban yang tewas masih anak di bawah umur dan tindakan terdakwa jelas berdampak fatal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Majelis hakim diharapkan mempertimbangkan aspek keadilan, efek jera, dan moralitas publik agar vonis yang dijatuhkan tidak hanya memenuhi prosedur hukum, tapi juga bisa memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan militer.
Kesimpulan
Kasus penganiayaan oleh Sertu Riza Pahlivi terhadap pelajar SMP berinisial MHS menjadi cermin bahwa kekerasan, apa pun bentuknya, tidak bisa dibenarkan, apalagi jika dilakukan oleh aparat.
Tuntutan hukuman satu tahun penjara dan denda Rp 500 juta dinilai terlalu ringan oleh banyak pihak, termasuk keluarga korban dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan. Mereka menilai bahwa keadilan belum sepenuhnya ditegakkan.
Kini, publik menanti langkah majelis hakim. Apakah keadilan akan ditegakkan dengan hukuman yang lebih setimpal, atau justru masyarakat kembali kecewa dengan vonis yang tidak sesuai harapan.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2






