BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum

- Penulis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum

BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum

Redaksiku.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi perbincangan publik setelah sejumlah produk riset seperti sepatu berbahan karet lokal hingga material bangunan dipamerkan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sebagian warganet mempertanyakan mengapa lembaga riset nasional justru menampilkan produk yang dianggap sederhana, sementara negara-negara lain tengah berlomba mengembangkan kecerdasan buatan, nuklir, semikonduktor hingga teknologi kuantum.

Namun anggapan bahwa BRIN hanya berkutat pada penelitian produk sederhana ternyata tidak menggambarkan keseluruhan aktivitas lembaga tersebut.

Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN kemudian ikut merespons perdebatan tersebut melalui akun media sosial resminya pada Jumat, 7 Agustus 2026. Dalam unggahannya, lembaga itu menyinggung komentar publik yang mempertanyakan mengapa BRIN tidak lebih berfokus pada teknologi maju atau futuristik, termasuk teknologi kuantum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktanya, BRIN telah memiliki pusat riset khusus fisika kuantum sejak 2022 dan saat ini menjalankan berbagai kelompok penelitian mulai dari komputasi kuantum, material kuantum, perangkat kuantum hingga simulasi kuantum.

Kritik Bermula dari Sepatu Rp75 Ribu Buatan BRIN

Polemik berawal setelah BRIN memperlihatkan berbagai hasil penelitian dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sekitar 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Salah satu produk yang paling banyak mendapat perhatian adalah sepatu berbahan karet lokal.

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan sepatu tersebut merupakan hasil pengembangan BRIN di Serpong dan ditargetkan dapat diproduksi dengan harga relatif murah.

Varian dasarnya diperkirakan berada di kisaran Rp75 ribu per pasang, sedangkan beberapa model lain dapat memiliki harga lebih dari Rp100 ribu bergantung material serta desain yang digunakan.

Produk tersebut dikembangkan antara lain untuk mendukung kebutuhan alas kaki bagi program Sekolah Rakyat.

Arif juga mengatakan Presiden Prabowo sebelumnya meminta BRIN membantu mencari solusi terkait kebutuhan sepatu dengan harga terjangkau.

Sepatu BRIN Malah Dirujak Warganet

Alih-alih hanya mendapatkan apresiasi, produk tersebut kemudian memicu perdebatan di media sosial.

Sejumlah warganet mempertanyakan apakah lembaga riset negara perlu terlibat mengembangkan produk yang dianggap sudah dapat dibuat industri alas kaki dan UMKM.

Ada pula komentar yang membandingkannya dengan penelitian teknologi canggih di negara lain.

Laporan Inilah.com pada 7 Agustus mencatat kritik di media sosial antara lain mempertanyakan prioritas BRIN serta menilai penelitian sepatu seharusnya dapat dilakukan oleh sentra industri alas kaki seperti Cibaduyut atau Tanggulangin.

Desain salah satu prototipe yang menggunakan perekat velcro juga menjadi bahan komentar pengguna media sosial.

Perdebatan bahkan melebar ke berbagai hasil penelitian lain yang dipamerkan, termasuk material genteng dan produk pangan.

Publik Bertanya: Mana Riset Kuantum BRIN?

Di tengah polemik tersebut, muncul komentar yang mempertanyakan mengapa BRIN tidak lebih banyak memperlihatkan penelitian di bidang teknologi masa depan.

Teknologi kuantum menjadi salah satu yang disebut.

Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN kemudian menanggapi isu tersebut melalui kanal media sosial resminya.

Dalam unggahan terbarunya, lembaga tersebut menyinggung secara langsung adanya komentar yang mempertanyakan mengapa BRIN tidak hanya berfokus pada teknologi maju atau futuristik seperti teknologi kuantum.

Respons tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penelitian sepatu, material bangunan atau pangan hanyalah sebagian kecil dari spektrum penelitian BRIN.

BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum
BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum

BRIN Ternyata Punya Pusat Riset Fisika Kuantum

BRIN memang memiliki unit khusus bernama Pusat Riset Fisika Kuantum atau Research Center for Quantum Physics (BRIN-Q).

Pusat penelitian tersebut sudah berdiri sejak 2022.

Tujuan utamanya adalah mengeksplorasi dasar-dasar fisika kuantum sekaligus aplikasinya untuk teknologi masa depan. BRIN-Q juga diarahkan untuk mempersiapkan pengetahuan serta infrastruktur Indonesia dalam menghadapi apa yang kerap disebut sebagai revolusi industri kuantum kedua.

Dengan demikian, riset kuantum bukan bidang yang baru muncul setelah kritik warganet terhadap produk sepatu BRIN.

Programnya telah berjalan selama beberapa tahun.

Ada 9 Kelompok Riset Kuantum

Skala penelitian BRIN-Q juga cukup luas.

Berdasarkan data resmi pusat penelitian tersebut, terdapat sembilan kelompok riset yang aktif.

Bidangnya meliputi:

  • Quantum Information and Computation;
  • Quantum Materials;
  • Quantum Devices;
  • Quantum Matter Theory;
  • Quantum Simulation;
  • Quantum Finance and Complex Systems;
  • Non-Perturbative Physics;
  • Theoretical High-Energy Physics;
  • Experimental High-Energy Physics.

Artinya, penelitian tidak hanya diarahkan pada pembuatan komputer kuantum.

BRIN juga mengembangkan kajian mengenai material, perangkat, teori fundamental, simulasi hingga kemungkinan penerapan pendekatan kuantum dalam sistem kompleks.

BRIN-Q Punya 38 Peneliti Tetap

Per Januari 2026, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN mencatat memiliki 38 peneliti tetap.

Mereka didukung staf sekretariat, peneliti postdoctoral serta lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang terlibat dalam aktivitas penelitian.

Pusat tersebut juga membuka peluang research assistant, postdoctoral fellowship, pertukaran penelitian hingga visiting professor.

Laboratorium dan kegiatan utamanya berada di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.

Dengan kata lain, di lokasi yang sama dengan berbagai riset terapan yang ramai diperbincangkan publik, terdapat pula kelompok yang bekerja pada bidang fisika fundamental dan teknologi kuantum.

Riset Komputasi Kuantum Sudah Menghasilkan Publikasi

Aktivitas BRIN-Q tidak hanya berupa pembentukan organisasi.

Daftar publikasi pusat tersebut menunjukkan peneliti BRIN menghasilkan karya ilmiah pada berbagai bidang fisika kuantum dan material.

Pada daftar publikasi 2026, misalnya, tercantum penelitian mengenai Variational Quantum Regression untuk prediksi energi molekul serta berbagai penelitian material dan spintronik yang berhubungan dengan pengembangan teknologi masa depan.

Publikasi para penelitinya juga tercatat di jurnal internasional seperti Physical Review, Applied Physics Letters, Journal of Physical Chemistry, Materials Today hingga Journal of High Energy Physics.

Karena sifatnya sebagai riset dasar dan teknologi frontier, hasil penelitian tersebut memang tidak selalu berbentuk barang yang dapat langsung diperlihatkan kepada masyarakat seperti sepatu atau genteng.

Kepala BRIN: Kuantum Jadi Teknologi Strategis

Riset kuantum juga masuk agenda resmi kepemimpinan BRIN saat ini.

Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo pada 6 Agustus 2026, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya akan berfokus pada sejumlah teknologi maju yang dianggap menentukan daya saing Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

Teknologi yang disebut meliputi:

semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), genomik, teknologi kuantum, nuklir dan antariksa.

Untuk teknologi kuantum, Arif menyebut pengembangannya diperlukan bagi keamanan dan komputasi masa depan.

Menurutnya, penguasaan teknologi tersebut akan menentukan apakah Indonesia nantinya hanya menjadi pengguna atau mampu menjadi pemilik teknologi.

Bukan Hanya Kuantum, BRIN Juga Kembangkan AI hingga Nuklir

Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kritik terhadap BRIN.

Produk sederhana yang terlihat di pameran bukan berarti penelitian BRIN terbatas pada produk tersebut.

Dalam laporan kepada Presiden, Arif juga menjelaskan berbagai bidang teknologi yang sedang dikembangkan.

Semikonduktor diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap chip asing.

AI dikembangkan sebagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

Genomik diarahkan antara lain untuk mendukung kemampuan Indonesia menghasilkan benih, obat dan bioindustri secara mandiri.

Sementara teknologi nuklir dan antariksa terus dikembangkan untuk mendukung bidang energi, kesehatan, pangan dan pengawasan wilayah.

Ada Teknologi yang Diperkirakan Hemat Subsidi LPG Rp26 Triliun

BRIN juga menampilkan penelitian yang mempunyai dampak ekonomi besar.

Salah satunya adalah teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) berbasis Metal Organic Framework atau MOF.

Teknologi tersebut memungkinkan penyimpanan gas alam pada tekanan lebih rendah dibandingkan CNG konvensional.

BRIN bahkan membangun sister laboratory dengan peraih Nobel Kimia 2025 Susumu Kitagawa untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Berdasarkan perhitungan awal BRIN, penerapan teknologi ANG tersebut disebut berpotensi menghemat beban subsidi LPG hingga sekitar Rp26 triliun per tahun.

Selain itu, BRIN mengembangkan vaksin, radiofarmaka, kendaraan listrik, drone, pengolahan air hingga satelit penginderaan jauh.

Kenapa Sepatu Tetap Diteliti?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa lembaga yang mengembangkan teknologi kuantum juga melakukan penelitian sepatu.

Penjelasannya berkaitan dengan luasnya mandat riset BRIN.

Dalam pertemuan dengan Presiden, Arif menjelaskan strategi lembaganya berjalan melalui beberapa jalur sekaligus.

Pertama, penelitian ditujukan menghasilkan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM.

Kedua, BRIN mendukung peningkatan daya saing industri nasional.

Ketiga, BRIN mendorong co-development teknologi maju dunia agar Indonesia ikut menjadi bagian dalam proses pengembangan teknologi, bukan hanya menjadi konsumen akhir.

Karena itu, penelitian terapan dengan hasil yang sederhana bagi masyarakat dan penelitian frontier seperti kuantum dapat berjalan pada waktu yang sama.

Sepatu Rp75 Ribu Juga Memiliki Unsur Teknologi

Sepatu yang menjadi sasaran kritik juga bukan sekadar sepatu yang dibuat menggunakan proses produksi biasa.

Produk tersebut menggunakan bahan berbasis karet lokal dan dikembangkan dengan teknologi one piece injection molding, yakni bagian sepatu dapat dibentuk melalui proses cetak terintegrasi sehingga produksi lebih sederhana.

BRIN masih mencari mitra industri untuk membawa prototipe tersebut menuju produksi massal.

Tujuan akhirnya adalah mendapatkan produk dengan harga terjangkau sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal.

Karena itu, nilai penelitian tidak hanya terletak pada bentuk akhirnya, tetapi juga material, metode produksi, efisiensi biaya dan kemungkinan hilirisasinya.

BRIN Susun Peta Jalan Riset hingga 2045

Pengembangan teknologi masa depan juga sudah dimasukkan dalam perencanaan nasional.

BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyusun Peta Jalan Riset Strategis Nasional 2026–2045 serta Agenda Riset dan Inovasi Strategis Nasional 2026–2029.

Dokumen tersebut dirancang untuk menghubungkan arah transformasi jangka panjang dengan program riset yang dapat diimplementasikan dalam jangka pendek dan menengah.

Penyusunannya melibatkan 279 anggota tim, termasuk 230 pakar dari perguruan tinggi, kementerian/lembaga dan industri.

Arif mengatakan peta jalan tersebut juga dimaksudkan untuk mengakhiri pola penelitian sektoral yang berjalan sendiri-sendiri.

Indonesia Memang Masih Tertinggal di Teknologi Kuantum

Meski BRIN telah memiliki pusat penelitian kuantum, Indonesia masih menghadapi tantangan besar jika ingin mengejar negara-negara yang lebih dahulu berinvestasi pada sektor tersebut.

BRIN sebelumnya mengakui bahwa pengembangan teknologi kuantum membutuhkan ekosistem yang mencakup tenaga ahli, laboratorium, infrastruktur serta kolaborasi antara pemerintah, universitas dan industri.

Perlombaan global juga berkembang cepat karena teknologi kuantum dinilai memiliki potensi untuk mengubah komputasi, komunikasi, keamanan data, pengembangan material hingga teknologi sensor.

Itulah sebabnya BRIN menempatkan teknologi kuantum sebagai salah satu bidang yang dapat menentukan posisi Indonesia pada beberapa dekade mendatang.

Kritik Publik Justru Buka Informasi Riset BRIN

Polemik sepatu dan genteng akhirnya memiliki dampak lain: masyarakat mulai mencari tahu apa saja penelitian yang sebenarnya sedang dilakukan BRIN.

Respons dari Pusat Riset Fisika Kuantum memperlihatkan adanya kesenjangan antara kegiatan penelitian yang berlangsung di dalam lembaga dengan informasi yang sampai ke masyarakat.

Publik lebih mudah mengenali produk fisik sederhana yang diperlihatkan di depan kamera dibandingkan penelitian fundamental yang prosesnya dapat berlangsung bertahun-tahun.

Padahal BRIN-Q sendiri telah berdiri sejak 2022 dengan sembilan kelompok riset dan puluhan peneliti.

Pada saat bersamaan, BRIN tetap melakukan penelitian yang langsung menyasar persoalan masyarakat seperti pangan, pendidikan, energi dan material murah.

Jadi, Benarkah BRIN Cuma Riset Sepatu dan Genteng?

Jawabannya tidak.

Sepatu murah, genteng dan berbagai produk yang ramai diperbincangkan merupakan bagian dari penelitian terapan yang dipamerkan BRIN.

Pada level lain, lembaga yang sama juga mengembangkan semikonduktor, AI, genomik, komputasi kuantum, teknologi nuklir, antariksa, vaksin, radiofarmaka, teknologi energi hingga satelit.

Kritik publik tetap dapat menjadi evaluasi penting, terutama mengenai prioritas riset, penggunaan anggaran serta bagaimana BRIN mengomunikasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat.

Namun menyimpulkan bahwa BRIN hanya mengembangkan teknologi sederhana tidak sesuai dengan portofolio penelitian lembaga tersebut.

Pusat Riset Fisika Kuantum menjadi salah satu contohnya.

Di tengah ramainya perdebatan mengenai sepatu Rp75 ribu, BRIN ternyata memiliki puluhan peneliti yang bekerja pada bidang informasi dan komputasi kuantum, material kuantum, perangkat kuantum hingga fisika energi tinggi.

Kini tantangan selanjutnya bukan sekadar membuktikan bahwa penelitian canggih tersebut ada, tetapi memastikan hasilnya berkembang menjadi kapabilitas teknologi yang benar-benar dapat dikuasai dan dimanfaatkan Indonesia.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapan Gerhana Matahari 2026? Jadwal, Jenis, dan Wilayah yang Bisa Melihat
Gerhana Matahari Terbaru, Jadwal, Jenis, dan Fakta Fenomena Langit Langka
Bulan Purnama Terbaru, Jadwal, Fakta Fenomena Langit yang Menarik
Jadwal Full Moon 2026 Lengkap, Catat Tanggal Buck Moon hingga Cold Moon
Muhammad Suryadi R Hadirkan Buku Geopolitik, Narasi, Kendali
Arti Dasarian BMKG dan Kondisi Hujan Juli 2026
Jangan Lewatkan! 5 Tips Melihat Hujan Meteor Bootids Dini Hari
Viral! 5 Fakta Bunga Bangkai Depok yang Jadi Tontonan Warga

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:32 WIB

BRIN Dirujak soal Sepatu dan Genteng, Ternyata Punya 9 Kelompok Riset Teknologi Kuantum

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:03 WIB

Kapan Gerhana Matahari 2026? Jadwal, Jenis, dan Wilayah yang Bisa Melihat

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:35 WIB

Gerhana Matahari Terbaru, Jadwal, Jenis, dan Fakta Fenomena Langit Langka

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:28 WIB

Bulan Purnama Terbaru, Jadwal, Fakta Fenomena Langit yang Menarik

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:47 WIB

Jadwal Full Moon 2026 Lengkap, Catat Tanggal Buck Moon hingga Cold Moon

Berita Terbaru