Kamu suka? Ia bertanya sambil menatapku mesra.
Banget! sahutku dan mencoba memasukkan jam itu ke tangan kiriku. Cantik, Mas. Mahal banget, lho! Nanti uang kamu habis karena beli jam mahal kayak gini.
Sekali-sekali nggak apa-apa, kan? Anggap aja ini hadiah hari pernikahan kita dan permintaan maafku karena aku lupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekali lagi, maaf, ya? Semoga besok-besok aku nggak lupa lagi. Jangan ngambek, please ¦ Mas Bayu menatapku dengan sorot mata memohon.
Kesal kucubit tangannya.
Kami menikmati sajian yang sangat lezat sambil berbincang tentang segala hal. Malam itu menjadi kenangan terindah yang tak akan pernah kulupakan. Semua rasa marahku meleleh seperti gumpalan salju yang terkena sinar mentari.
Tahun demi tahun pun berlalu. Kami hidup bahagia. Aku banyak belajar tentang semua hal, dari mulai memastikan rumah dalam keadaan rapi, hingga mengurus dan memasak untuk Mas Bayu. Meskipun keahlian masakku jauh di bawah suamiku, aku tidak berhenti untuk mencari tahu makanan kesukaannya. Meminta resep dari ibu mertua merupakan salah satu usahaku untuk menyediakan hidangan yang menarik.
Mas, nanti makan di rumah, kan? tanyaku ketika meneleponnya sore itu. Aku sengaja pulang kantor tepat karena ingin menyuguhkan hidangan makan malam dari resep ibu mertua.
Insyaallah, Mir. Rencananya emang gitu. Kenapa? tanya Mas Bayu di seberang.
Nggak apa-apa. Aku sudah di rumah, sengaja pulang tepat waktu karena mau masakin kamu makan malam.
Masyaallah. Masak apa, nih? tanyanya menggoda.
Rahasia,dong. Udah cepat pulang, lihat sama rasain aja sendiri.
Siap, Bu! Sebentar, aku selesain kerjaan dulu.
Aku melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat mi rebus jawa. Hati-hati aku mulai memasak, dari merebus tulang iga untuk kaldu, merebus mie, dan memotong sayuran dan cabai. Semua kulakukan dengan senang hati, sambil membayangkan reaksi Mas Bayu saat mencoba masakanku.
Menjelang salat Isya, Mas Bayu tiba di rumah. Seperti biasa aku menyambutnya dengan hangat. Setelah Mas Bayu selesai mandi dan salat, kami pun mulai makan. Dengan wajah berbinar aku menyediakan hidangan hasil olahanku.
Nih, Mas! Cicipin, ya? Sengaja aku nanya Ibu untuk bikin ini. Maaf, kalau rasanya nggak seenak bikinan Ibu.
Berdebar aku menanti reaksi Mas Bayu. Mataku tak lepas memperhatikan lelaki terkasih itu menyuap dengan perlahan mi dari mangkuknya.
Enak? tanyaku penasaran.
Lama suamiku tak menjawab karena asyik menikmati suapan demi suapan mi yang masih panas. Peluh bercucuran dari keningnya akibat rasa pedas cabe rawit yang kucampur dalam kuah.
Mas! Gimana? Enak, nggak? Aku bertanya tak sabar.
Enak ¦.
Tapi ¦, aku menatapnya lekat, lebih enak bikinan Ibu. Kamu mau ngomong gitu, kan? cecarku.
Mas Bayu menahan senyumnya.
Kamu yang bilang lho, ya, bukan aku. Ia memandangku. Memang lebih enak bikinan Ibu. Masakanmu udah cukup enak, hanya kurang berani di bumbu.
Aku tertunduk lemas. Sia-sia sudah niatku ingin membuatnya senang.
Kamu sendiri lho yang ngomong lebih enak masakan Ibu, bukan aku. Udah, nggak usah dipikirin. Belajar masak lagi, coba berkali-kali, sampai nemu rasa yang pas.
Iya, sahutku lirih.
-bersambung-
Halaman : 1 2






