Amira Dzakiya
Marisa mendengarkan ceritaku dengan saksama. Paras cantik Timur Tengahnya terlihat serius. Beberapa kali ia membetulkan jilbab panjang segiempat yang membingkai wajahnya.
Terus lo akhirnya setuju untuk resign, kan? tanyanya. Gue ingat masa-masa itu, tapi nggak tahu penyebab lo resign.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku mengangguk.
Iya, gue akhirnya setuju setelah berbulan-bulan kami selalu berdebat dan bertengkar masalah itu. Makin aja gue nggak bisa hamil, kan? Tertekan sama sikap suami sendiri. Udahlah dituduh mandul, masih juga dipaksa keluar kerja. Sekuat tenaga aku berusaha menahan air mata.
Sorry to hear that, Mir! Gue nggak nyangka beban lo berat banget, ya? Marisa menatapku prihatin.
It™s ok, Sa. Gue udah biasa, sahutku mencoba menyunggingkan senyum manis.
Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritaku.
Hari-hari selanjutnya, Mas Bayu selalu mengingatkan kapan aku akan berhenti bekerja. Kepalaku seperti mau pecah karena banyaknya beban pikiran. Di kantor aku harus konsentrasi untuk menyiapkan acara promosi dan di rumah ada Mas Bayu dengan tuntutannya.
Jadi gimana, kapan kamu mau resign? lelaki terkasih itu kembali menerorku dengan pertanyaan yang sama selama seminggu ini.
Kami sedang bersiap untuk tidur. Sudah seminggu sejak pertengkaran kami Minggu siang itu, Mas Bayu bersikap tidak acuh padaku. Ia bahkan sudah hampir sebulan ini tidak menyentuhku. Namun, aku tidak terlalu terganggu. Kesibukan di kantor akhir-akhir ini memang menguras tenaga dan menyita pikiranku. Meskipun ada rasa menyesakkan dada karena rindu sentuhannya, aku mencoba untuk bertahan. Mas Bayu bahkan tidak pernah memelukku lagi.
Sebentar, Mas. Aku kan penanggung jawab untuk acara peluncuran mobil baru nanti. Masa lagi sibuk nyiapin, tiba-tiba aku mengundurkan diri? jawabku mencoba bersabar.
Kamu ajuin suratnya, kan butuh waktu tiga bulan untuk keluar.
Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Kutatap wajah di cermin, seorang perempuan yang masih terlihat cantik meski tidak menggunakan riasan. Alis tebal dan lesung di pipi menambah daya tarikku. Perlahan aku mengoleskan kapas yang mengandung penyegar ke seluruh wajah dan leher. Dari cermin aku melirik Mas Bayu yang asyik dengan ponselnya.
Mir? Dengar, nggak? Ia mengalihkan mata dari ponsel ke wajahku.
Aku membalikkan tubuh dan menatapnya dalam diam.
Aku salat istikharah dulu, deh. Apa pun itu kan harus minta petunjuk Allah, Mas. Nanti kalau udah mantap, aku akan keluar. Kamu nggak usah khawatir. Aku beranjak dan berbaring di sampingnya.
Nah, gitu, dong! Senyumnya mengembang.
Kalau nanti aku nggak kerja, aku ngapain, ya, di rumah? Mataku menerawang.
Ya kamu bisa ikut kegiatan pengajian atau belajar masak sama Ibu. Kalau udah pinter kan bisa buka pesanan, ya, nggak?
Lho, ya sama aja sama kerja kantor, Mas! Capek juga.
Beda, Mir! Kalau masak, kan di rumah. Kamu senang, nggak ada tekanan.
Siapa bilang? Kalau terima pesanan, terus hasilnya nggak sesuai keinginan pemesan, aku bakal kena omelan. Lebih parah, malah, bantahku.
Iya, tapi kan pikiran kamu nggak tegang. Dicoba dulu.
Aku masih ingin menjawab, tetapi kuurungkan. Aku tahu Mas Bayu, dia paling tidak suka dibantah. Daripada nanti ribut lagi, lebih baik aku diam. Diam dan menyimpan semua rasa tidak puasku di dasar hati yang paling dalam.
Setelah melakukan salat istikharah, aku berniat menemui Ibu karena biar bagaimana pun, aku adalah tulang punggung keluarga setelah Bapak tiada. Aku harus bicara pada Ibu agar ia tidak kaget kalau mendengar aku akan keluar dari kerja. Selama ini semua keperluan Ibu dan si kembar, aku yang memenuhinya. Kini si kembar sudah kuliah tingkat akhir, semoga secepatnya bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Mira mau ngomong penting sama Ibu. Mira ke sana sekarang, ya? Sore itu sepulang kantor aku menelepon Ibu.
Sudah izin sama Nak Bayu? tanya Ibu lembut.
Itulah Ibu, selalu mengutamakan menantunya. Ibu tahu bahwa seorang istri harus patuh pada suami karena rida Allah terletak pada rida suami.
Sudah, Bu. Mas Bayu titip salam, nanti akan jemput Mira kalau sudah mau pulang.
Ibu diam mendengarkan.
Ibu mau dibawain apa? tanyaku lagi.
Nggak usah, Ibu udah susah makan apa-apa, takut nanti malah kumat sakit perutnya. Kamu hati-hati, ya.
Satu jam kemudian aku sudah duduk bersama Ibu di ruang tamu rumah kami yang nyaman. Ibu membuat pisang dan singkong goreng. Kami berbincang sambil menikmati teh hangat.
Kamu mau bicara apa, Nduk? Kelihatanny serius banget.
Janji, Ibu nggak akan kaget, ya? Aku menatap wajah perempuan terkasih itu. Mas Bayu memintaku untuk keluar dari pekerjaan supaya aku bisa hamil.
Ibu tampak kaget dan kecewa tetapi berusaha menyembunyikannya.
Memang kamu sudah berpikir masak-masak? Nanti kalau nggak kerja, mau ngapain di rumah?
Mira udah salat istikharah, Bu. Makanya Mira ke sini mau minta pendapat Ibu.
Lho, kalau sudah salat, ya mantapkan aja gimana hati nuranimu. Apalagi ini yang nyuruh suami, kamu harus nurut, ujar Ibu mencoba bersikap tenang.
Tadinya aku menolak. Kalau aku berhenti, gimana Ibu sama si kembar? Tapi Mas Bayu bilang, Ibu nggak usah khawatir. Ia masih bisa membantu Ibu. Kalau si kembar, sebentar lagi akan lulus dan kerja.
Ibu menarik napas panjang, lalu menatapku dalam.
Ibu terserah kamu saja. Semoga dengan kamu nurut sama suami, Allah akan mengabulkan semua keinginanmu untuk memiliki momongan.
Meski samar, aku seperti menangkap getaran suara Ibu. Kekhawatiran Ibu adalah kalau nanti aku tertekan karena berada di rumah saja. Aku tahu, Ibu tidak akan khawatir soal rezeki, ia justru takut aku tidak bahagia dan kelak menyalahkan Mas Bayu.
Aku memeluk Ibu erat. Tanpa sadar, aku menangis tersedu-sedu. Seluruh bebanku selama ini seperti tumpah saat bersama Ibu. Bahuku berguncang. Dengan lembut Ibu mengelus punggungku. Meskipun Ibu tidak berkata apa-apa, aku sudah merasa lega bisa menangis di pelukannya.
Maafin Mira kalau nanti ngecewain Ibu, nggak bisa ngasih Ibu lagi, ujarku di sela-sela tangisan.
Sudah. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Insyaallah, Allah sudah mengatur rezeki Ibu. Patuh pada suami akan membuka jalanmu ke surga, Nak! Soal rezeki, Allah akan cukupkan. Insyaallah.
Ibu lalu menyeka air mataku dengan tangan tuanya.
Salat Isya dulu, nanti keburu suamimu datang jemput. Ibu lalu berdiri meninggalkanku seorang diri di ruang tamu. Terdengar kumandang azan isya. Kulirik ponsel, ada pesan masuk dari Mas Bayu. Ia bilang akan salat Isya dulu di masjid dekat rumah Ibu.
Sepanjang perjalanan dari rumah Ibu, aku lebih banyak membisu. Masih terbayang luka di mata Ibu ketika mengetahui aku akan berhenti bekerja. Ibu memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi aku bisa merasakan kalau Ibu kecewa. Meskipun kecewa, Ibu sadar kalau aku harus patuh dan menuruti suami selama tidak mengajak ke jalan yang salah.
Apakah aku akan sanggup berdiam diri di rumah? Bagaimana dengan teman-teman? Meski aku memang kurang suka keramaian, tapi teman kantor adalah hiburanku. Kami terbiasa bersama, makan siang bersama, belanja, berkeluh kesah karena pekerjaan yang melelahkan, semua membuat kami merasa senasib dan menjadikan kami kompak. Aku akan merindukan teman-temanku. Kalau aku tidak bekerja, aku tidak akan punya teman.
Aku ingin menjadi istri yang baik dengan mematuhi perintah suami. Semua yang Mas Bayu inginkan untuk kebaikan pernikahan kami. Namun, di sisi lain aku belum siap untuk berdiam diri di rumah. Apa aku tidak akan merasa bosan? Bagaimana nanti kalau orang-orang tidak menghargaiku lagi? Apa aku siap hanya menjadi ibu rumah tangga?
Pergolakan batin membuatku bingung. Aku sudah mohon petunjuk Allah, tetapi mengapa hati ini masih ragu? Apa karena aku tidak yakin Allah akan mencukupkan rezeki kami berdua? Aku takut kalau tidak memiliki uang dan harus minta pada Mas Bayu. Harga diriku terlalu tinggi untuk menerima uang dari Mas Bayu meskipun ia suamiku.
Aku terlalu sombong. Baiklah, aku akan mencobanya. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kencang.
Kenapa, Mir? tanya Mas Bayu kaget. Ia menoleh padaku sejenak lalu kembali fokus melihat jalan.
Aku terperanjat, tidak menyangka kalau Mas Bayu memperhatikanku.
Eh ¦, nggak apa-apa, Mas, jawabku singkat dan kembali memandangi kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan pulang.
-bersambung-






