Redaksiku.com – Isu virus Nipah kembali menjadi perhatian publik internasional menyusul munculnya kasus di India yang memicu peningkatan kewaspadaan di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.
Virus zoonosis ini dikenal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 75 persen pada kasus tertentu. Hingga kini, dunia medis juga belum memiliki vaksin khusus untuk mencegah infeksi virus Nipah.
Di tengah kekhawatiran tersebut, pakar kesehatan anak sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof dr Dominicus Husada, SpA, Subsp IPT, menegaskan bahwa virus Nipah sebenarnya bukanlah ancaman baru di Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa temuan virus tersebut sejauh ini hanya ditemukan pada hewan, khususnya kelelawar, dan belum pernah terdeteksi menginfeksi manusia di Tanah Air.
Indonesia Memiliki Inang Alami Virus Nipah
Prof Dominicus menjelaskan bahwa virus Nipah secara alami memang berasal dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah dari keluarga Pteropodidae. Hewan ini dikenal sebagai reservoir atau inang alami virus Nipah di berbagai negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah sebagai inang alami. Negara kita termasuk wilayah yang memiliki jenis kelelawar tersebut. Virus Nipah sudah pernah ditemukan pada kelelawar di Indonesia, tetapi hingga saat ini belum pernah ditemukan pada manusia, ujar Prof Dominicus dalam konferensi pers yang digelar Kamis (29/1/2026).
Pernyataan ini sekaligus meluruskan kekhawatiran publik yang berkembang seiring dengan maraknya pemberitaan mengenai kasus Nipah di luar negeri. Menurutnya, keberadaan virus pada hewan tidak serta-merta berarti sudah terjadi penularan pada manusia.
Bukti Ilmiah Sejak 2008
Lebih lanjut, Prof Dominicus memaparkan bahwa keberadaan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia telah didukung oleh hasil penelitian ilmiah sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada tahun 2008, dilakukan uji serologi menggunakan metode ELISA terhadap sejumlah kelelawar spesies Pteropus vampyrus.
Hasilnya, ditemukan antibodi virus Nipah pada sekitar 18 hingga 30 persen dari populasi kelelawar yang diteliti. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian kelelawar di Indonesia pernah terpapar virus tersebut.
Penelitian dilakukan di berbagai wilayah, mulai dari Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan. Hasilnya cukup konsisten, antibodi virus Nipah ditemukan pada kelelawar kita, bahkan bisa mencapai sepertiga dari total sampel yang diperiksa, jelasnya.
Antibodi tersebut menandakan adanya paparan virus di masa lalu, meski tidak selalu berarti hewan tersebut sedang membawa virus aktif saat pengambilan sampel.

Penelitian pada Babi Tidak Menemukan Virus
Selain kelelawar, babi juga dikenal sebagai hewan perantara yang berpotensi menularkan virus Nipah ke manusia, sebagaimana pernah terjadi dalam wabah di Malaysia pada akhir 1990-an. Oleh karena itu, penelitian serupa juga dilakukan terhadap populasi babi di Indonesia.
Pengujian dilakukan di sejumlah rumah potong hewan, termasuk di Jakarta, Medan, dan Riau, serta di beberapa peternakan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara. Namun, hasilnya menunjukkan tidak adanya antibodi virus Nipah pada serum babi yang diperiksa.
Dari uji yang dilakukan pada babi, tidak ditemukan antibodi Nipah. Artinya, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa babi di Indonesia terpapar virus tersebut, kata Prof Dominicus.
Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa rantai penularan virus Nipah di Indonesia belum melibatkan hewan ternak yang dekat dengan aktivitas manusia.
Virus Aktif Pernah Ditemukan Lewat Uji PCR
Tidak hanya antibodi, keberadaan virus aktif juga pernah terdeteksi melalui penelitian lanjutan yang dipublikasikan pada tahun 2017. Dalam studi tersebut, peneliti melakukan uji RT-PCR terhadap 50 sampel swab saliva dari kelelawar Pteropus vampyrus di Sumatera Utara.
Hasilnya menunjukkan bahwa virus Nipah terdeteksi secara langsung pada sampel ludah kelelawar, bukan sekadar jejak antibodi.
Dalam penelitian itu, yang ditemukan bukan hanya antibodinya. Pada uji PCR, virusnya sendiri muncul. Jadi, yang terdeteksi di Indonesia memang berasal dari kelelawar, ungkap Prof Dominicus.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa hingga kini tidak ada laporan resmi mengenai penularan virus Nipah dari kelelawar ke manusia di Indonesia.
Masyarakat Diminta Tidak Panik
Di tengah meningkatnya kewaspadaan regional, Prof Dominicus meminta masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan. Ia menilai kepanikan justru dapat menimbulkan informasi keliru dan stigma terhadap hewan tertentu.
Menurutnya, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta kewaspadaan terhadap potensi zoonosis sudah cukup efektif untuk mencegah penularan virus Nipah.
Selama masyarakat menjaga kebersihan, menghindari kontak langsung dengan hewan liar, dan memperhatikan keamanan pangan, risiko penularan bisa ditekan, katanya.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini Kementerian Kesehatan belum menemukan satu pun kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia.
Jalur Penularan yang Perlu Diwaspadai
Sebagai langkah edukasi, Prof Dominicus memaparkan sejumlah jalur penularan virus Nipah yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama di wilayah dengan interaksi tinggi antara manusia dan hewan.
Beberapa cara penularan virus Nipah antara lain:
-
Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar dan babi.
-
Paparan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, urine, atau sekresi pernapasan.
-
Konsumsi daging mentah atau setengah matang dari hewan yang terinfeksi.
-
Mengonsumsi buah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan, misalnya buah yang telah digigit kelelawar.
-
Kontak dengan manusia yang terinfeksi melalui droplet, darah, atau cairan tubuh lainnya.
Dengan memahami jalur penularan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada tanpa harus merasa takut berlebihan.
Kewaspadaan Tetap Diperlukan
Meski Indonesia belum mencatat kasus virus Nipah pada manusia, para ahli menilai kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama di pintu masuk negara dan wilayah dengan populasi satwa liar yang tinggi. Pengawasan kesehatan, surveilans penyakit zoonosis, serta edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah potensi wabah di masa depan.
Yang terpenting adalah kesiapsiagaan. Kita belajar dari negara lain, tetapi juga harus percaya pada data ilmiah yang ada di dalam negeri, pungkas Prof Dominicus.
Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






