Sorotan BPK: Dugaan Penyelewengan Anggaran
Tak hanya soal kebijakan pangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga sempat menyoroti kinerja keuangan Bapanas di era Arief.
Dalam audit internal yang dilakukan pada 2024, ditemukan dugaan adanya penyelewengan anggaran perjalanan dinas sebesar Rp5,03 miliar.
BPK menilai penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai dengan prinsip efisiensi dan transparansi. Bahkan, ada indikasi penggunaan dana perjalanan untuk kegiatan yang tidak relevan dengan tugas pokok dan fungsi lembaga.
Kabar ini semakin memperkuat opini publik bahwa Bapanas di bawah Arief memang bermasalah tidak hanya dari sisi kebijakan, tapi juga dari sisi tata kelola dan akuntabilitas keuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kritik dari Publik dan Pengamat
Banyak kalangan menilai bahwa Arief gagal membawa visi besar Bapanas untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.
Beberapa pengamat ekonomi bahkan menyebut gaya kepemimpinannya terlalu birokratis dan tidak memahami realitas di lapangan, khususnya masalah petani kecil dan distribusi pangan di daerah.
Masalah pangan itu bukan sekadar data dan harga. Butuh empati dan pemahaman lapangan. Kalau terlalu fokus ke angka tanpa dengar suara petani, ya hasilnya begini, ujar salah satu pengamat dari lembaga riset ekonomi Jakarta.
Sementara di media sosial, banyak warganet menilai pencopotan Arief oleh Prabowo sebagai langkah tegas yang memang sudah seharusnya dilakukan.
Telat sih, tapi akhirnya dicopot juga, tulis salah satu komentar di X (Twitter).
Dari dulu udah keliatan gak pro petani, bagus kalau diganti, tambah netizen lain.
Keputusan Tepat dari Presiden Prabowo
Setelah berbagai kontroversi itu mencuat ke publik, Presiden Prabowo akhirnya mengambil langkah tegas dengan mencopot Arief Prasetyo Adi dari jabatan Kepala Bapanas.
Keputusan ini dianggap sebagai bagian dari upaya membersihkan lembaga strategis tersebut dari berbagai persoalan dan konflik kepentingan yang selama ini menghambat kinerja sektor pangan.
Kini, publik menunggu siapa sosok pengganti Arief yang akan ditunjuk untuk memimpin Bapanas. Harapannya, pejabat baru nanti bisa membawa angin segar dengan kebijakan yang lebih berpihak pada petani dan rakyat kecil bukan sekadar mengejar angka statistik atau kepentingan politik sesaat.
Penutup
Turunnya Arief Prasetyo Adi dari kursi Kepala Bapanas seolah menjadi babak baru dalam upaya membenahi tata kelola pangan nasional.
Kasus dugaan mark-up impor beras, denda peti kemas ratusan miliar, kebijakan harga yang merugikan petani, hingga temuan penyelewengan anggaran menjadi rapor merah yang sulit dihapus dari catatan kariernya.
Ke depan, publik tentu berharap Bapanas kembali menjalankan fungsinya secara profesional menjaga stabilitas harga, mendukung petani, dan memastikan ketersediaan pangan untuk seluruh masyarakat Indonesia tanpa embel-embel kepentingan politik.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.