Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

- Penulis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

Redaksiku.com – Nama Megawati Soekarnoputri kembali menjadi sorotan politik nasional setelah Ketua Umum PDI Perjuangan itu menyampaikan sejumlah pernyataan mengenai posisi partainya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam kegiatan yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Senin, 10 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Megawati mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan Presiden Prabowo mengenai posisi PDIP yang tidak masuk ke dalam kabinet pemerintahan.

Pernyataan Megawati menjadi perhatian karena posisi PDIP selama pemerintahan Prabowo kerap menjadi bahan pembicaraan. Partai berlambang banteng itu merupakan salah satu kekuatan politik besar di parlemen, tetapi tidak mengambil posisi sebagai bagian dari kabinet.

Di tengah dinamika tersebut, Megawati juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan politik tanpa harus selalu menggunakan konsep oposisi dan koalisi kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Megawati Sebut Sudah Berbicara dengan Prabowo

Dalam pidatonya, Megawati mengungkapkan bahwa dirinya sudah membicarakan posisi PDIP dengan Presiden Prabowo.

Ia menyampaikan bahwa PDIP tidak masuk dalam kabinet pemerintahan Prabowo, tetapi hubungan politik dengan pemerintah tidak kemudian harus ditempatkan dalam kerangka pertentangan tanpa batas.

Pernyataan tersebut memperlihatkan kembali posisi yang sebelumnya juga pernah ditegaskan Megawati setelah Kongres VI PDIP pada 2025, ketika ia menyebut partainya sebagai kekuatan penyeimbang dan bukan sekadar oposisi.

Dalam praktik politik, posisi tersebut membuat PDIP dapat memberikan dukungan terhadap kebijakan yang dinilai berpihak kepada rakyat sekaligus tetap memberikan kritik terhadap kebijakan yang dianggap menyimpang.

PDIP Tidak Masuk Kabinet Prabowo

Sejak pemerintahan Prabowo Subianto berjalan, PDIP tidak menjadi bagian utama dari kabinet.

Namun, tidak masuknya partai ke kabinet tidak berarti hubungan antara Megawati dan Prabowo terputus.

Keduanya beberapa kali terlihat berada dalam acara kenegaraan maupun kegiatan yang berkaitan dengan Pancasila dan sejarah bangsa.

Kedekatan personal antara kedua tokoh tersebut juga beberapa kali menjadi perhatian publik.

Salah satu momen yang banyak disorot terjadi pada peringatan Hari Lahir Pancasila pada Juni 2026 ketika Prabowo dan Megawati tampil bersama.

Megawati Kembali Tegaskan Politik Tidak Harus Oposisi

Pernyataan terbaru Megawati juga menghidupkan kembali pembahasan mengenai konsep oposisi dalam sistem politik Indonesia.

Dalam sistem presidensial, partai yang tidak berada di kabinet tidak secara otomatis harus menjadi oposisi seperti dalam sistem parlementer.

PDIP sebelumnya telah menyampaikan bahwa partai akan mengambil posisi sebagai penyeimbang pemerintahan.

Dalam pidato Kongres VI PDIP pada 2025, Megawati menegaskan bahwa partainya akan mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, tetapi akan bersikap tegas terhadap kebijakan yang dinilai menyimpang dari Pancasila, keadilan sosial dan konstitusi.

Posisi tersebut kembali relevan setelah Megawati berbicara mengenai hubungannya dengan pemerintahan Prabowo pada Agustus 2026.

Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo
Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

PAN Ikut Menanggapi Pernyataan Megawati

Pernyataan Megawati kemudian mendapat respons dari partai politik lain.

Partai Amanat Nasional (PAN) menyatakan sependapat dengan pandangan Megawati mengenai tidak adanya konsep oposisi secara kaku dalam politik Indonesia.

Respons tersebut menunjukkan bahwa pernyataan Megawati tidak hanya menjadi pembicaraan internal PDIP, tetapi turut memicu diskusi mengenai konfigurasi politik nasional.

Bagi partai-partai politik di parlemen, hubungan antara pemerintah dan kekuatan politik di luar kabinet menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan dinamika legislasi dan pengawasan pemerintahan.

Megawati Lantik Pengurus Baru Bamusi

Di luar isu hubungan PDIP dengan pemerintah, aktivitas politik Megawati juga terlihat dari agenda internal partai.

Pada Selasa, 11 Agustus 2026, Megawati melantik jajaran pengurus baru Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) periode 2026–2030 di Jakarta.

Bamusi merupakan organisasi sayap PDIP yang bergerak di bidang keislaman.

Dalam pelantikan tersebut, Megawati memberikan perhatian pada peran Bamusi dalam membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat dan umat Islam.

Ia berharap Bamusi dapat menjadi organisasi yang mampu menjadi perekat umat, baik di lingkungan internal PDIP maupun dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih luas.

Megawati Dorong Dakwah yang Inklusif

Dalam agenda pelantikan tersebut, Megawati juga menekankan pentingnya profesionalisme dan pendekatan dakwah yang inklusif.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa PDIP tidak hanya berusaha memperkuat struktur organisasi politik, tetapi juga mengembangkan organisasi sayap dengan pendekatan sosial dan keagamaan.

Bamusi diharapkan dapat mengambil peran dalam menjaga hubungan antarumat dan memperkuat nilai kebangsaan.

Kehadiran organisasi sayap berbasis keislaman tersebut juga menjadi bagian dari strategi PDIP untuk memperluas ruang komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat.

Megawati Masih Memegang Kendali PDIP

Megawati saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan untuk periode 2025–2030.

Ia dikukuhkan kembali sebagai ketua umum dalam Kongres VI PDIP pada Agustus 2025.

Dengan posisi tersebut, Megawati tetap menjadi tokoh sentral dalam menentukan arah politik PDIP.

Keputusan-keputusan strategis partai, termasuk sikap terhadap pemerintah, agenda politik nasional dan konsolidasi internal, masih sangat erat dengan arahan Megawati.

Hal ini membuat setiap pernyataan Megawati mengenai hubungan PDIP dengan pemerintah selalu mendapatkan perhatian luas.

Pertemuan Megawati dengan Prabowo Masih Jadi Perhatian

Hubungan Megawati dan Prabowo juga menjadi salah satu dinamika politik yang menarik untuk diikuti.

Keduanya pernah berhadapan langsung dalam kontestasi Pilpres 2009 dan 2014, tetapi perkembangan politik kemudian memperlihatkan adanya komunikasi antara kedua tokoh.

Pada pemerintahan saat ini, Megawati dan Prabowo tidak berada dalam satu struktur partai atau pemerintahan.

Namun keduanya tetap dapat berkomunikasi dalam berbagai momentum kenegaraan.

Pernyataan terbaru Megawati bahwa ia telah berbicara dengan Prabowo mengenai posisi PDIP memperlihatkan bahwa komunikasi politik antara keduanya tetap berlangsung.

PDIP Pilih Menjadi Penyeimbang

Posisi PDIP sebagai penyeimbang menjadi salah satu tema penting dalam membaca arah politik partai.

Sebagai partai besar dengan jumlah kursi signifikan di DPR, PDIP mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaruh terhadap proses legislasi dan pengawasan pemerintah.

Namun, partai tidak harus selalu menolak seluruh kebijakan pemerintah.

Sebaliknya, dukungan dapat diberikan terhadap kebijakan yang dianggap sesuai dengan kepentingan rakyat.

Pada saat yang sama, kritik tetap dapat diberikan ketika terdapat kebijakan yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan publik.

Model seperti inilah yang sejak Kongres VI digambarkan Megawati sebagai posisi partai ideologis yang berdiri di atas kepentingan rakyat dan konstitusi.

Megawati dan Isu Pancasila

Sebagai salah satu tokoh utama PDIP, Megawati juga tetap aktif menyuarakan isu Pancasila.

Pada berbagai kegiatan, ia menempatkan Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keterlibatannya dalam kegiatan BPIP pada Agustus 2026 kembali menunjukkan perhatian Megawati terhadap isu ideologi negara.

Bagi Megawati, Pancasila bukan sekadar simbol, tetapi harus diterapkan dalam kebijakan pemerintah dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, posisi politik PDIP terhadap pemerintah juga kerap dikaitkan dengan sejauh mana kebijakan negara dianggap sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Agenda Politik Megawati Tidak Hanya Nasional

Aktivitas Megawati selama 2026 juga mencakup agenda internasional.

Pada Juli 2026, ia melakukan kunjungan ke Timor-Leste dan bertemu dengan Presiden José Ramos-Horta serta Perdana Menteri Xanana Gusmão. Dalam kunjungan tersebut, Megawati mendorong penguatan hubungan Indonesia-Timor-Leste dan kerja sama antarkedua negara.

Sebelumnya, Megawati juga menerima kunjungan sejumlah duta besar, termasuk Duta Besar Korea Selatan dan Uni Emirat Arab di kediamannya.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa peran Megawati tidak hanya terbatas pada politik kepartaian.

Sebagai mantan Presiden RI, ia masih memiliki jaringan hubungan internasional yang cukup luas.

Megawati dan Peringatan Tragedi Kudatuli

Pada Juli 2026, Megawati juga menjadi sorotan ketika memperingati 30 tahun tragedi Kudatuli.

Ia meresmikan monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP dan menaburkan bunga untuk mengenang korban tragedi tersebut.

Bagi Megawati, peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.

Ia juga menyampaikan harapan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Peringatan tersebut menjadi salah satu agenda penting PDIP pada tahun ini sekaligus menunjukkan bagaimana Megawati masih menggunakan sejarah partai sebagai bagian dari konsolidasi ideologis kader.

Kehadiran Megawati di HUT ke-81 RI Masih Ditunggu

Dalam waktu dekat, perhatian publik juga akan tertuju pada kemungkinan kehadiran Megawati dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.

Presiden Prabowo telah mengundang para mantan presiden untuk menghadiri upacara kenegaraan.

Hingga informasi terbaru yang beredar pada 13 Agustus, kehadiran Megawati masih belum mendapatkan kepastian final.

Jika hadir, pertemuan antara Megawati dan Prabowo dalam momentum peringatan kemerdekaan kembali berpotensi menjadi perhatian politik.

Apalagi hubungan kedua tokoh tersebut masih menjadi salah satu dinamika yang paling menarik dalam politik nasional.

Apa Arti Pernyataan Terbaru Megawati?

Pernyataan Megawati mengenai komunikasi dengan Prabowo dan posisi PDIP memberikan sinyal bahwa partai masih mempertahankan garis politik yang sudah ditetapkan sejak Kongres VI.

PDIP tidak masuk kabinet.

Namun partai juga tidak menempatkan diri sebagai oposisi yang secara otomatis menolak setiap kebijakan pemerintah.

Posisi penyeimbang memungkinkan PDIP tetap menjaga identitas politik sekaligus membuka ruang komunikasi dengan pemerintah.

Bagi Megawati, komunikasi politik tersebut tidak harus selalu berarti bergabung dengan kekuasaan.

Megawati Tetap Jadi Tokoh Kunci Politik Indonesia

Pada usia 79 tahun, Megawati masih menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam politik Indonesia.

Statusnya sebagai mantan Presiden RI sekaligus Ketua Umum PDIP membuat setiap langkah dan pernyataannya selalu memiliki konsekuensi politik.

Perkembangan terbaru mengenai komunikasinya dengan Prabowo, konsolidasi organisasi sayap PDIP dan agenda politik menjelang peringatan HUT ke-81 RI menunjukkan bahwa Megawati masih aktif memainkan peran politik.

Pertanyaan terbesar ke depan bukan sekadar apakah PDIP akan masuk pemerintahan.

Yang lebih penting adalah bagaimana partai tersebut mempertahankan posisi sebagai penyeimbang di tengah konfigurasi politik yang semakin cair.

Dengan Megawati masih memimpin PDIP hingga 2030, arah tersebut kemungkinan akan terus menjadi bagian penting dari dinamika politik nasional dalam beberapa tahun mendatang.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Istimewa

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemda Kesulitan Bayar Gaji PPPK, Perlukah Moratorium Pengangkatan?
Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik? Pemerintah Siapkan Skema Nasional
Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Termasuk?
Cek Desil Bansos 2026 Pakai NIK, Begini Cara Tahu Masuk Desil 1, 2, 3 atau 4
Indeks Desa 2026 Belum Final, Ini Jadwal Verifikasi hingga Hasil Terbaru Keluar
RI-UEA Maksimalkan CEPA, Delegasi Bisnis Emirat Segera Dibawa ke Indonesia
Prabowo Ultimatum Gubernur hingga Kades: Tak Bisa Bangun Jembatan, Presiden Turun Tangan
Jawa Tengah Mulai Bidik Peluang Bisnis di IKN, Furnitur Jepara hingga Bank Jateng Bisa Masuk

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Pemda Kesulitan Bayar Gaji PPPK, Perlukah Moratorium Pengangkatan?

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:54 WIB

Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:45 WIB

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik? Pemerintah Siapkan Skema Nasional

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:37 WIB

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Termasuk?

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Cek Desil Bansos 2026 Pakai NIK, Begini Cara Tahu Masuk Desil 1, 2, 3 atau 4

Berita Terbaru