Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

- Penulis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

Redaksiku.com – Harga emas dunia diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan perdagangan 10–14 Agustus 2026.

Konflik geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi dua faktor utama yang diperkirakan menentukan pergerakan logam mulia dalam beberapa hari ke depan.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia dapat bergerak dalam rentang US$4.151 hingga US$4.493 per troy ounce selama satu pekan ke depan. Sementara untuk perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, level support diperkirakan berada di US$4.279 dan resistance di US$4.405 per troy ounce.

Proyeksi itu muncul setelah emas menutup pekan sebelumnya dengan reli kuat. Harga emas spot pada Jumat, 7 Agustus, melonjak sekitar 2,3 persen menjadi US$4.336,02 per troy ounce setelah data tenaga kerja Amerika Serikat secara mengejutkan melemah. Secara mingguan, emas naik lebih dari 7 persen, kinerja terbaiknya sejak Januari 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga Emas Berpeluang Menuju US$4.493

Ibrahim menilai peluang kenaikan masih terbuka meskipun risiko koreksi belum sepenuhnya hilang.

Untuk sepekan ke depan, area US$4.151 dipandang sebagai batas bawah penting, sementara US$4.493 per troy ounce menjadi area resistance yang berpeluang diuji apabila sentimen pasar tetap mendukung aset aman.

Dengan posisi terakhir emas dunia sudah berada di atas US$4.300, pergerakan awal pekan akan menjadi perhatian pasar.

Apabila harga mampu bertahan di atas area support dan menembus resistance terdekat, momentum bullish dapat berlanjut. Namun jika muncul perkembangan geopolitik atau ekonomi AS yang berubah drastis, koreksi masih memungkinkan.

Karena itu, angka US$4.493 merupakan proyeksi teknikal, bukan jaminan bahwa emas pasti mencapai level tersebut.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Sentimen Utama

Salah satu faktor terbesar yang diperhatikan pelaku pasar adalah perkembangan konflik di Timur Tengah.

Ibrahim menyoroti dinamika yang berkaitan dengan Iran, Oman dan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis dunia. Ada perkembangan diplomatik yang mengarah pada kemungkinan kesepakatan terkait pengelolaan jalur tersebut, tetapi ketegangan keamanan di kawasan masih berlangsung.

Situasi tersebut membuat investor menghadapi dua kemungkinan.

Jika konflik kembali meningkat, permintaan terhadap emas sebagai safe haven dapat meningkat karena investor mencari aset yang dianggap lebih defensif di tengah ketidakpastian. Pola semacam itu sebelumnya terlihat ketika konflik Iran memanas pada awal 2026.

Sebaliknya, jika kesepakatan diplomatik benar-benar tercapai dan ketegangan menurun, sebagian permintaan safe haven dapat berkurang.

Namun hubungan antara konflik dan emas tidak sesederhana itu.

Konflik Bisa Naikkan Emas, tetapi Juga Bisa Menekannya

Konflik Timur Tengah mempunyai efek ganda terhadap harga emas.

Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik mendorong investor mencari perlindungan melalui emas.

Di sisi lain, konflik dapat mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak melonjak. Kenaikan energi kemudian berpotensi memperbesar inflasi global.

Jika inflasi Amerika Serikat meningkat, Federal Reserve mempunyai alasan lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya.

Kondisi seperti itu justru kurang menguntungkan emas karena logam mulia tidak memberikan bunga.

Reuters mencatat harga emas sebelumnya sempat tertekan ketika konflik Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Jadi, pengaruh konflik terhadap emas akan sangat bergantung pada bagaimana ketegangan tersebut memengaruhi minyak, inflasi, dolar AS dan kebijakan The Fed.

Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini
Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

Data Tenaga Kerja AS Jadi Katalis Baru

Kenaikan emas pada akhir pekan lalu justru mendapat dukungan besar dari Amerika Serikat.

Data ketenagakerjaan Juli menunjukkan ekonomi AS secara mengejutkan kehilangan sekitar 23.000 pekerjaan, padahal pasar sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan.

Data yang jauh lebih lemah dari ekspektasi tersebut langsung mengubah perkiraan mengenai kebijakan Federal Reserve.

Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi sekitar 43,9 persen, sementara kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga meningkat menjadi sekitar 56,1 persen berdasarkan ekspektasi pasar setelah data tersebut keluar.

Reaksi emas pun sangat kuat.

Harga spot naik 2,3 persen menjadi US$4.336,02 per ounce, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup di sekitar US$4.399,70 per ounce.

Kenapa Suku Bunga AS Sangat Penting untuk Emas?

Hubungan emas dan suku bunga menjadi salah satu indikator paling diperhatikan investor.

Emas tidak memberikan pembayaran bunga atau kupon.

Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi tinggi, investor mempunyai alternatif aset aman yang memberikan pendapatan sehingga emas menjadi relatif kurang menarik.

Sebaliknya, ketika ekspektasi suku bunga turun, biaya peluang untuk menyimpan emas ikut berkurang.

Itulah mengapa data pekerjaan AS yang lemah mampu mendorong emas naik dengan cepat pada Jumat. Data tersebut mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve harus menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

The Fed sendiri pada pertemuan terakhir mempertahankan suku bunga acuan dalam rentang 3,50–3,75 persen.

Ibrahim: The Fed Bisa Tahan Suku Bunga September

Menurut Ibrahim, perkembangan tenaga kerja terbaru memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.

Ekspektasi terhadap kenaikan bunga juga mulai menurun.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah harga minyak.

Apabila minyak turun cukup jauh, tekanan inflasi Amerika Serikat dapat ikut mereda. Kondisi itu akan mengurangi kebutuhan The Fed untuk menjalankan kebijakan moneter yang semakin agresif.

Skenario tersebut cenderung positif bagi emas.

Sebaliknya, lonjakan kembali harga minyak akibat memburuknya konflik Timur Tengah dapat membuat inflasi kembali menjadi perhatian besar.

Emas Sudah Naik Lebih dari 7 Persen Sepekan

Momentum emas menjelang perdagangan Senin memang cukup kuat.

Reuters mencatat emas spot membukukan kenaikan lebih dari 7 persen sepanjang pekan yang berakhir 7 Agustus, menjadi performa mingguan terbaik sejak Januari.

Pada perdagangan Jumat saja, emas sempat menguat lebih dari 3 persen sebelum memangkas sebagian kenaikannya.

Kontrak Comex juga menutup pekan dengan kenaikan sekitar 7,2 persen menjadi US$4.340,70 per troy ounce menurut data pasar kontrak Agustus.

Reli tersebut terjadi setelah emas sebelumnya mengalami koreksi cukup besar dari rekor tertingginya pada Januari.

Harga emas pernah menyentuh rekor sekitar US$5.594,82 per ounce pada 29 Januari 2026 sebelum kemudian terkoreksi tajam.

UBS Masih Yakin Emas Bisa Tembus US$5.000

Prospek jangka menengah emas juga mendapat dukungan dari salah satu bank investasi global.

UBS pada Jumat, 7 Agustus 2026, memperkirakan harga emas dapat kembali mencapai US$5.000 per troy ounce pada semester pertama 2027.

UBS memperkirakan inflasi akan berangsur turun sehingga Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga sepanjang sisa 2026 sebelum kembali menjalankan siklus pelonggaran pada 2027.

Chief Investment Officer UBS Mark Haefele menilai koreksi emas menuju sekitar US$4.000 atau bahkan di bawahnya dapat menjadi kesempatan bagi investor jangka panjang untuk membangun eksposur secara bertahap.

Namun UBS tetap mengakui terdapat risiko dalam jangka pendek.

Artinya, proyeksi menuju US$5.000 tidak berarti harga akan bergerak naik tanpa koreksi.

Survei Analis Juga Masih Bullish

Pandangan jangka panjang yang relatif positif tidak hanya datang dari UBS.

Survei Reuters terhadap 31 analis dan trader sebelumnya menghasilkan median proyeksi harga emas sebesar US$4.916 per troy ounce untuk rata-rata 2026. Angka tersebut menjadi proyeksi tahunan tertinggi dalam survei Reuters sejak 2012.

Sejumlah faktor yang dinilai mendukung emas meliputi pembelian oleh bank sentral, ketidakpastian ekonomi, kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve, tingginya utang AS serta diversifikasi cadangan devisa.

Analis independen Ross Norman menilai keinginan bank sentral menambah emas bahkan dapat diperkuat oleh konflik Timur Tengah karena meningkatkan persepsi risiko terhadap aset berbasis dolar.

Tapi Tidak Semua Bank Sama-sama Optimistis

Meski kecenderungan jangka panjang masih positif, proyeksi harga emas cukup beragam.

HSBC, misalnya, pada Juli menurunkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 dari US$4.864 menjadi US$4.560 per ounce. Untuk sisa 2026, HSBC memperkirakan emas dapat bergerak antara US$3.800 hingga US$4.700 dan berakhir di sekitar US$4.750.

Penyebab utama revisi tersebut adalah perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi lebih hawkish serta penguatan dolar.

Namun HSBC tetap menilai sejumlah faktor pendukung emas belum hilang, termasuk masalah defisit fiskal, ketidakpastian ekonomi dan beban utang pemerintah.

Perbedaan proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa harga emas sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi makroekonomi.

Dolar AS Juga Harus Dipantau

Selain suku bunga, investor perlu memperhatikan pergerakan dolar Amerika Serikat.

Emas diperdagangkan secara internasional menggunakan dolar.

Ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya dapat meningkat.

Sebaliknya, penguatan dolar biasanya menjadi tekanan bagi harga logam mulia.

Perubahan persepsi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor utama yang menggerakkan dolar dan emas secara bersamaan. HSBC menyebut perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dan efeknya terhadap dolar sebagai salah satu alasan utama pergerakan emas pada 2026.

Pergerakan Senin Jadi Penentu Awal

Pelaku pasar kini menanti pembukaan perdagangan Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Ibrahim, support awal emas berada di sekitar US$4.279, sedangkan resistance berada di US$4.405 per troy ounce.

Jika resistance tersebut mampu dilewati, perhatian berpotensi bergeser menuju area resistance mingguan US$4.493.

Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas support dapat membuka ruang koreksi.

Faktor yang akan diperhatikan antara lain perkembangan konflik Iran dan kawasan Timur Tengah, harga minyak, data ekonomi Amerika Serikat serta komentar pejabat Federal Reserve.

Harga Emas Dunia Masih Berpeluang Naik

Dengan demikian, prospek emas memasuki pekan baru masih cenderung positif, meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan emas bergerak dalam rentang US$4.151–US$4.493 per troy ounce untuk satu pekan ke depan.

Di sisi global, UBS masih mempertahankan proyeksi emas dapat kembali mencapai US$5.000 per ounce pada semester pertama 2027.

Dua katalis utama tetap sama.

Pertama adalah konflik dan diplomasi di Timur Tengah, terutama bagaimana perkembangan tersebut memengaruhi harga minyak dan permintaan aset safe haven.

Kedua adalah kebijakan Amerika Serikat, khususnya arah suku bunga Federal Reserve setelah data tenaga kerja Juli menunjukkan pelemahan yang tidak diperkirakan pasar.

Jika ketegangan geopolitik tetap tinggi tetapi tekanan inflasi mereda dan The Fed menahan suku bunga, kondisi tersebut dapat menjadi kombinasi yang cukup mendukung emas.

Namun apabila harga minyak melonjak dan inflasi kembali meningkat, peluang The Fed mengambil sikap lebih hawkish dapat membatasi kenaikan.

Karena itu, prospek emas memang masih terbuka ke atas, tetapi perjalanannya menuju resistance US$4.493 maupun target jangka panjang US$5.000 diperkirakan tidak berlangsung dalam garis lurus.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Melesat 2,78 Persen, Asing Kembali Belanja Saham Rp1,24 Triliun
Emas Antam Melonjak Lagi! Harga 1 Gram Nyaris Rp2,7 Juta, Buyback Naik Rp50 Ribu
India Ramai-ramai Jual Saham BUMN, Target Raup Rp126 Triliun demi Jaga Defisit
Harga Emas Antam Hari Ini, Cek Pergerakan Harga Logam Mulia Terbaru
4 Tanda Tindakan Bullying di Tempat Kerja
Saham GOTO Jadi Sorotan Investor, Perkembangan Terbaru dan Prospek GoTo ke Depan
Kirim Surat Lamaran Banyak, Tapi Selalu Ditolak? 3 Penyebabnya
Indofood CBP Jadi Sorotan Investor, Kinerja Bisnis dan Prospek Saham ICBP Terbaru

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Harga Emas Dunia Berpeluang Terbang Lagi, Ahli Bidik US$4.493 Pekan Ini

Minggu, 9 Agustus 2026 - 06:39 WIB

IHSG Melesat 2,78 Persen, Asing Kembali Belanja Saham Rp1,24 Triliun

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:09 WIB

Emas Antam Melonjak Lagi! Harga 1 Gram Nyaris Rp2,7 Juta, Buyback Naik Rp50 Ribu

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:02 WIB

India Ramai-ramai Jual Saham BUMN, Target Raup Rp126 Triliun demi Jaga Defisit

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini, Cek Pergerakan Harga Logam Mulia Terbaru

Berita Terbaru