Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya

- Penulis

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya

Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya

Redaksiku.com – Pemerintah Malaysia membela kemampuan sistem pemindai keamanan di bandara negaranya setelah pengawasan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menjadi sorotan.

Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Saifuddin Nasution Ismail menyebut mesin scanner yang digunakan saat ini berfungsi dengan baik dan mempunyai kemampuan tinggi untuk mendeteksi benda berbahaya maupun barang terlarang.

Pernyataan tersebut muncul setelah seorang pilot Malaysia Airlines berusia 39 tahun ditangkap aparat Indonesia setelah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Kuala Lumpur pada 28 Juli 2026. Aparat menemukan lebih dari 26 kilogram narkotika, terutama pil ekstasi/MDMA, di dalam bagasi yang dikaitkan dengan pilot tersebut.

Kasus itu kemudian memunculkan satu pertanyaan besar di Malaysia: bagaimana bagasi dalam jumlah besar tersebut dapat melewati pemeriksaan keamanan di KLIA tanpa memunculkan alarm, tetapi kemudian terdeteksi setelah tiba di Indonesia?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saifuddin menilai masalahnya tidak sesederhana menyimpulkan bahwa mesin pemindai Malaysia tidak mampu bekerja. Pemerintah justru sedang mengevaluasi teknologi, prosedur pemeriksaan, kemampuan operator, hingga cakupan objek yang menjadi prioritas screening.

Saifuddin Sebut Scanner Bandara Malaysia Berkemampuan Tinggi

Saifuddin menyampaikan penjelasan tersebut di Putrajaya pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Menurutnya, peralatan pemindai yang saat ini digunakan di bandara Malaysia masih berfungsi dengan baik dan mempunyai kemampuan tinggi dalam mendeteksi objek berbahaya serta berbagai material yang dilarang.

Meski demikian, pemerintah Malaysia tidak berniat mempertahankan sistem yang sama tanpa perubahan.

Saifuddin mengatakan perkembangan teknologi keamanan bandara terus berjalan sehingga Malaysia juga perlu terbuka terhadap penggunaan mesin generasi baru dengan kemampuan yang lebih tinggi.

Dengan demikian, pernyataan bahwa scanner Malaysia “canggih” tidak berarti pemerintah menganggap sistemnya sudah sempurna.

Sebaliknya, kasus terbaru justru menjadi pemicu evaluasi besar-besaran.

Bisa Deteksi Narkoba, tetapi Ada Catatan Penting

Ada hal penting yang perlu dipahami dari pernyataan Menteri Dalam Negeri Malaysia.

Mesin X-ray bandara tidak selalu bekerja seperti alat laboratorium yang secara otomatis memberi tulisan bahwa suatu benda adalah “ekstasi”, “sabu”, atau jenis narkotika tertentu.

Sistem pemindai menghasilkan citra isi bagasi dan membantu petugas mengidentifikasi bentuk, kepadatan, susunan atau karakteristik benda yang dianggap mencurigakan. Sistem di KLIA juga menggunakan bantuan artificial intelligence atau AI untuk memberikan penilaian risiko terhadap bagasi, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan operator keamanan.

Direktur Jenderal Agensi Kawalan dan Perlindungan Sempadan Malaysia (AKPS) Datuk Seri Mohd Shuhaily Mohd Zain sebelumnya menjelaskan scanner memang menggunakan AI sampai tingkat tertentu.

Namun teknologi tersebut masih membutuhkan penilaian manusia.

Dalam kasus pilot Malaysia Airlines, sistem tidak memberikan klasifikasi risiko yang cukup tinggi terhadap koper tersebut sehingga pemeriksaan lanjutan tidak dilakukan.

Fokus Screening Selama Ini Lebih Banyak ke Senjata

Justru di sinilah pemerintah Malaysia mengakui adanya ruang perbaikan.

Saifuddin mengatakan cakupan pemeriksaan keamanan penerbangan selama ini lebih berfokus pada persenjataan dibandingkan barang selundupan atau contraband.

Hal tersebut masuk akal dari perspektif keselamatan penerbangan karena pemeriksaan Aviation Security atau AVSEC pada dasarnya dirancang untuk mencegah benda yang dapat membahayakan pesawat, penumpang dan awak masuk ke dalam penerbangan.

Namun kasus narkoba membuat pemerintah mempertimbangkan perluasan fokus.

Saifuddin mengatakan sistem perlu ditingkatkan sehingga barang terlarang termasuk narkoba yang diselundupkan dapat lebih efektif terdeteksi ketika melewati pemeriksaan.

Pilot Malaysia Lolos Pemeriksaan KLIA

Sorotan terhadap sistem keamanan bermula dari penangkapan seorang pilot Malaysia Airlines di Indonesia.

Menurut keterangan otoritas Malaysia, pilot tersebut telah menjalani prosedur pemeriksaan yang diwajibkan sebelum berangkat dari KLIA pada 28 Juli 2026.

Namun ketika bagasinya masuk ke mesin scanner, tidak muncul gambar yang dinilai cukup mencurigakan.

Karena tingkat risiko yang diberikan sistem tidak tinggi, koper tersebut diperbolehkan melewati pemeriksaan sesuai standar prosedur yang berlaku.

Setelah pesawat tiba di Jakarta, situasinya berbeda.

Petugas Indonesia mendeteksi koper mencurigakan melalui pemeriksaan X-ray dan kemudian menemukan narkotika setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya
Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya

Lebih dari 26 Kilogram Narkoba Ditemukan di Jakarta

Aparat Indonesia menyatakan ditemukan lebih dari 26 kilogram narkoba dalam kasus tersebut.

Associated Press melaporkan sebagian besar barang bukti berupa ekstasi/MDMA, disertai sejumlah kecil methamphetamine.

Pemberitaan lain menyebut jumlah pil ekstasi yang ditemukan mencapai sekitar 70.114 butir.

Pilot berusia 39 tahun tersebut kemudian ditahan sementara penyidik Indonesia mendalami dugaan jaringan perdagangan narkoba internasional yang berada di balik pengiriman tersebut.

Kasusnya masih berada dalam proses hukum sehingga dugaan terhadap pihak-pihak terkait tetap harus ditempatkan sesuai perkembangan penyidikan.

Malaysia Bingung Mengapa Scanner Tidak Memberi Peringatan

AKPS Malaysia kemudian melakukan pemeriksaan internal mengenai bagaimana bagasi tersebut bisa melewati KLIA.

Mohd Shuhaily mengatakan seluruh prosedur scanning yang diwajibkan telah dilakukan.

Tidak ditemukan citra mencurigakan ketika koper melewati scanner. Karena itu, bagasi tidak diarahkan menuju pemeriksaan sekunder.

Otoritas Malaysia juga membuka kemungkinan narkoba dikemas menggunakan metode tertentu sehingga tampilannya tidak mudah dikenali pada sistem pemindaian.

Namun penyebab sebenarnya mengapa barang itu lolos masih harus ditentukan melalui investigasi.

Malaysia juga bekerja sama dengan pihak Indonesia untuk mempelajari kasus tersebut.

AI Sudah Digunakan di Scanner Malaysia

Sistem pemeriksaan bagasi di Malaysia sebenarnya bukan teknologi sederhana.

Mohd Shuhaily mengatakan sistem menggunakan kombinasi AI dan analisis manusia. Scanner memberikan tingkat risiko terhadap bagasi berdasarkan citra yang muncul.

Jika risikonya tinggi, pemeriksaan dapat dilanjutkan.

Jika tidak ditemukan indikator mencurigakan, petugas dapat memberikan izin berdasarkan prosedur yang berlaku.

Kasus ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak otomatis menghilangkan risiko lolosnya barang terlarang.

Efektivitas screening masih bergantung pada beberapa lapisan sekaligus: kemampuan mesin, algoritma, cara barang disembunyikan, kemampuan operator, intelijen dan standar pemeriksaan lanjutan.

Malaysia Punya Lebih dari 60 Scanner Teknologi Tinggi di KLIA T1

KLIA sebenarnya sudah melakukan modernisasi sistem pemeriksaan sejak awal tahun.

Pada Januari 2026, otoritas Malaysia mengatakan terdapat lebih dari 60 mesin pemindai berteknologi tinggi yang dipasang di gerbang keberangkatan internasional KLIA Terminal 1.

Penempatan scanner juga diubah untuk membuat alur penumpang lebih efisien.

Penumpang tidak lagi harus melewati pemeriksaan yang sama pada dua titik berbeda. Screening difokuskan di area gate security yang dioperasikan Aviation Security.

Perubahan tersebut diklaim memangkas antrean sekitar lima hingga delapan menit ketika jam sibuk sekaligus mempertahankan pengawasan keamanan.

Scanner Sebelumnya Berhasil Tangkap Narkoba

Pemerintah Malaysia mempunyai alasan ketika mengatakan teknologi pemindaian mereka sebenarnya dapat membantu mendeteksi narkotika.

Sejumlah pengungkapan sebelumnya bermula dari gambar mencurigakan pada mesin X-ray.

Pada Mei 2026, misalnya, Bea Cukai Sabah menggagalkan penyelundupan narkotika bernilai lebih dari RM3,1 juta dalam beberapa kasus yang berkaitan dengan bandara dan fasilitas kargo. Salah satu pengungkapan terjadi setelah citra scanner menunjukkan isi mencurigakan dalam empat tas.

Pemeriksaan fisik kemudian menemukan puluhan kilogram kristal yang diduga methamphetamine.

Kasus lain di Tawau juga terungkap setelah pemindaian X-ray terhadap barang kargo memperlihatkan isi yang dinilai mencurigakan.

Dengan kata lain, sistem memang pernah membantu mengungkap penyelundupan.

Namun kasus pilot Malaysia menunjukkan masih terdapat skenario di mana barang terlarang dapat lolos.

50 Kurir Narkoba Ditangkap di KLIA Sejak 2025

Ancaman penggunaan bandara untuk penyelundupan memang bukan persoalan baru.

Kepolisian Malaysia pada Juli 2026 mencatat 50 orang yang diduga menjadi kurir narkoba ditangkap di KLIA sejak 2025 hingga April 2026.

Sindikat disebut terus mengubah modus.

Taktiknya antara lain membeli tiket pada menit terakhir, memilih penerbangan ketika bandara sedang padat, menyembunyikan narkoba di pakaian dan bagasi, hingga menggunakan metode body packing.

Polisi Malaysia menyatakan bandara masih menjadi salah satu jalur utama yang digunakan jaringan narkotika internasional.

Kondisi itulah yang membuat teknologi scanner harus terus mengikuti evolusi metode penyelundupan.

Pemerintah Pertimbangkan Upgrade Scanner

Saifuddin kini memastikan Malaysia mempertimbangkan penggunaan teknologi pemindaian yang lebih baru.

Ia mengatakan pemerintah terbuka terhadap berbagai jenis peralatan pemeriksaan yang mempunyai kemampuan lebih maju dibandingkan sistem yang tersedia saat ini.

Peningkatan tersebut tidak hanya menyangkut kemampuan scanner membaca objek.

Pemerintah juga akan menilai apakah ruang lingkup pemeriksaan perlu diperluas sehingga pencarian contraband dan narkoba mendapatkan perhatian lebih besar, bukan hanya benda yang berpotensi mengancam keselamatan penerbangan secara langsung.

Dengan demikian, pembenahan yang dilakukan Malaysia kemungkinan melibatkan perpaduan teknologi dan perubahan SOP.

Kabinet Malaysia Turun Tangan

Kasus pilot tersebut bahkan sudah mendapatkan perhatian tingkat kabinet.

Kabinet Malaysia meminta Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Transportasi menyiapkan sebuah rencana komprehensif untuk meningkatkan sistem pengamanan di KLIA.

Kedua kementerian diberikan waktu sekitar dua minggu untuk menyiapkan rencana tersebut.

Evaluasinya meliputi tiga unsur utama:

operasional,

peralatan,

dan sumber daya manusia.

Pemerintah Malaysia khawatir kasus-kasus terbaru dapat menimbulkan persepsi bahwa terdapat kelemahan serius pada sistem pengawasan bandara negara tersebut.

Bukan Hanya Mesin yang Dievaluasi

Respons pemerintah Malaysia menarik karena fokusnya tidak berhenti pada pembelian alat baru.

Saifuddin menempatkan persoalan ini dalam kerangka yang lebih luas.

Jika scanner diperbarui tetapi operator tidak mempunyai kemampuan mengenali modus penyelundupan terbaru, celah keamanan masih dapat muncul.

Sebaliknya, operator berpengalaman juga membutuhkan peralatan yang dapat menghasilkan citra dan analisis risiko berkualitas tinggi.

Itulah sebabnya pemerintah ingin mengevaluasi operasi, alat dan tenaga kerja secara bersamaan.

Malaysia Juga Perluas Scanner di Pintu Perbatasan

Modernisasi scanner sebenarnya telah dilakukan Malaysia sebelum kasus pilot mencuat.

Pada Mei 2026, Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengumumkan perluasan 184 unit mesin pengimbas baru ke sejumlah pintu masuk strategis negara.

Teknologi pengawasan perbatasan yang dikembangkan mencakup sistem berbasis AI, optical character recognition, portal pemantauan radiasi serta mobile scanner.

Tujuannya antara lain memperkuat deteksi terhadap penyelundupan narkoba, senjata, barang bersubsidi dan perdagangan manusia.

Program tersebut menunjukkan Malaysia sebenarnya telah bergerak menuju penggunaan teknologi lebih intensif pada pengawasan perbatasan.

Malaysia Airlines Perketat Tes Narkoba

Kasus yang terjadi di Jakarta juga memicu respons dari Malaysia Aviation Group (MAG), induk Malaysia Airlines.

MAG mengumumkan akan memperketat drug screening setelah pilotnya ditahan atas dugaan perdagangan narkotika.

Perusahaan memperkenalkan pemeriksaan narkoba yang lebih ketat dan wajib bagi pilot sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan serta memulihkan kepercayaan publik.

Langkah maskapai berjalan paralel dengan evaluasi pemerintah terhadap sistem keamanan bandara.

Artinya, kasus tersebut kini diperiksa dari dua sisi: keamanan orang yang bekerja dalam industri penerbangan dan keamanan bagasi yang bergerak melalui bandara.

Masalahnya Scanner atau SOP?

Pertanyaan ini menjadi inti kontroversi.

Pemerintah Malaysia sejauh ini cenderung menilai scanner bukan satu-satunya persoalan.

Mesinnya disebut masih berfungsi baik, sementara sistem telah menggunakan bantuan AI dan sebelumnya berhasil membantu menggagalkan penyelundupan.

Namun pemerintah juga mengakui bahwa fokus screening selama ini lebih mengarah pada senjata dibandingkan contraband.

Karena itulah Saifuddin melihat perubahan SOP dan ruang lingkup pemeriksaan sama pentingnya dengan membeli scanner generasi terbaru.

Kasus tersebut menunjukkan teknologi secanggih apa pun tetap memiliki keterbatasan apabila digunakan dalam sistem pemeriksaan dengan prioritas, prosedur dan keputusan manusia tertentu.

Indonesia Justru Menemukan Barang Saat X-Ray

Perbandingan dengan proses di Indonesia menjadi aspek yang paling menarik perhatian.

Koper yang tidak mendapatkan klasifikasi mencurigakan ketika melalui pemeriksaan Kuala Lumpur justru menarik perhatian setelah memasuki Bandara Soekarno-Hatta.

Associated Press melaporkan kasus terungkap setelah petugas Bea Cukai Indonesia melihat koper mencurigakan saat pemeriksaan X-ray di terminal kedatangan internasional.

Pemeriksaan lanjutan kemudian menemukan narkotika dalam jumlah besar.

Perbedaan hasil tersebut menjadi salah satu materi yang sedang dipelajari otoritas Malaysia.

Namun belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa mesin Indonesia secara otomatis lebih unggul daripada teknologi Malaysia karena proses deteksi juga dipengaruhi metode pemeriksaan, profil risiko dan keputusan petugas.

Sistem Keamanan KLIA Kini Berada di Bawah Sorotan

KLIA merupakan salah satu gerbang internasional terpenting Malaysia.

Karena itu, pemerintah melihat kasus ini tidak hanya sebagai perkara kriminal seorang individu, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan terhadap sistem keamanan penerbangan dan perbatasan negara.

Kabinet meminta perbaikan disusun dalam waktu singkat.

Jika nantinya ditemukan kelemahan pada SOP, perubahan kemungkinan dilakukan.

Jika masalah berasal dari spesifikasi peralatan, upgrade teknologi juga menjadi pilihan.

Dan apabila ditemukan unsur kelalaian atau pelanggaran petugas, pemerintah Malaysia sebelumnya menegaskan akan mengambil tindakan berdasarkan hasil penyelidikan.

Jadi, Benarkah Scanner Malaysia Bisa Deteksi Narkoba?

Jawabannya: scanner Malaysia memang digunakan dan telah terbukti membantu mendeteksi bagasi atau kargo mencurigakan yang kemudian diketahui berisi narkoba, tetapi teknologi tersebut tidak menjamin seluruh narkoba otomatis teridentifikasi setiap kali melewati mesin.

Dalam sistem KLIA, scanner menghasilkan citra dan menggunakan bantuan AI untuk membantu menilai tingkat risiko.

Operator tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan apakah bagasi perlu diperiksa lebih lanjut.

Karena itu, keberhasilan pemeriksaan bergantung pada gabungan teknologi, operator, kecerdasan intelijen, SOP dan metode penyembunyian barang.

Kasus pilot Malaysia Airlines menjadi contoh bahwa celah masih mungkin terjadi.

Malaysia Tak Mau Diam dengan Teknologi Sekarang

Saifuddin menegaskan pemerintah tidak ingin hanya bertahan menggunakan teknologi yang sudah tersedia.

Malaysia akan mempelajari perangkat scanner yang lebih modern serta memperbaiki fokus pemeriksaan agar barang terlarang termasuk narkoba dapat semakin mudah dideteksi.

Pada saat yang sama, pemerintah akan menyusun rencana komprehensif mengenai pengamanan KLIA.

Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Transportasi diminta menilai masalah dari sisi operasional, teknologi maupun petugas.

Dengan demikian, pernyataan terbaru Malaysia membawa dua pesan sekaligus.

Pertama, pemerintah tidak menganggap scanner yang ada gagal total.

Kedua, kasus lolosnya bagasi seorang pilot yang kemudian ditemukan membawa lebih dari 26 kilogram narkoba di Indonesia menjadi bukti bahwa sistem tersebut masih membutuhkan perbaikan.

Kini yang ditunggu adalah hasil evaluasi pemerintah Malaysia dan seperti apa perubahan keamanan di KLIA setelah kasus tersebut mengguncang kepercayaan publik.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Inflasi Pabrik China Turun Tajam, Efek Lonjakan Harga Minyak Mulai Mereda
Berkat Laporan 110, Polisi Barru Gercep Evakuasi Pensiunan PNS
Nipah Mall Makassar Terbakar, Damkar Ungkap Dugaan Sumber Api
Daftar Promo Spesial Kemerdekaan Agustus 2026, Cocok untuk Nongkrong dan Makan Rame-Rame
Rangkaian Acara HUT ke 81 RI yang Wajib Diketahui, Ada Pesta Rakyat hingga Merdeka Run 8.1
Nama Febrio Adiono Muncul dalam Kasus Sutrimo, Kejagung Ungkap Status Sebenarnya
Deadline Refund Lewat, Jaminan Tampia Tour ke UMKO Kini Dipertanyakan
Terekam CCTV, 4 Pencuri Kabel Penangkal Petir TVRI Diringkus, Kerugian Rp80 Juta

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:49 WIB

Pilot Lolos dari KLIA Bawa 26 Kg Narkoba, Menteri Malaysia Bela Scanner Bandaranya

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:37 WIB

Inflasi Pabrik China Turun Tajam, Efek Lonjakan Harga Minyak Mulai Mereda

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:20 WIB

Nipah Mall Makassar Terbakar, Damkar Ungkap Dugaan Sumber Api

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Daftar Promo Spesial Kemerdekaan Agustus 2026, Cocok untuk Nongkrong dan Makan Rame-Rame

Senin, 10 Agustus 2026 - 06:46 WIB

Rangkaian Acara HUT ke 81 RI yang Wajib Diketahui, Ada Pesta Rakyat hingga Merdeka Run 8.1

Berita Terbaru