Pembangunan masif Ibu Kota Nusantara di tengah hutan hujan Kalimantan Timur kini menghadapi tantangan pelestarian ekologi seiring dengan peluncuran film dokumenter terbaru berjudul Sound Guardians pada Jumat, 4 September 2026. Dokumenter kolaboratif antara Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli ini merekam kepunahan senyap lanskap suara alam akibat deru mesin konstruksi yang kian mendominasi kawasan hidup Masyarakat Adat Balik. Proyek ini menyoroti bagaimana transformasi cepat dari hutan belantara menjadi pusat administrasi negara memengaruhi keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial masyarakat lokal.
Gagasan pemindahan ibu kota ini awalnya didorong oleh kondisi Jakarta yang kian memprihatinkan dari tahun ke tahun. Ibu kota lama tersebut mengalami tekanan ekologis yang luar biasa akibat kepadatan penduduk, penurunan permukaan tanah, dan banjir rob yang rutin melanda kawasan pesisir utara.
Redaksiku.com – Para ahli memproyeksikan bahwa sepertiga wilayah Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050 akibat penurunan permukaan tanah yang ekstrem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi darurat lingkungan ini memaksa pemerintah mengambil langkah ekstrem dengan memindahkan pusat pemerintahan ke luar Pulau Jawa. Langkah ini dinilai krusial untuk menyelamatkan roda pemerintahan sekaligus mengurangi beban ekologis yang dipikul oleh wilayah Jabodetabek.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah merancang Ibu Kota Nusantara sebagai kota pintar ramah lingkungan yang ditargetkan selesai sepenuhnya pada tahun 2045. Konsep ini menjanjikan integrasi antara teknologi modern dengan kelestarian alam hutan tropis Kalimantan. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan adanya benturan nyata antara ambisi pembangunan infrastruktur dengan kenyataan ekologis yang dihadapi oleh ekosistem lokal.
Metode Bioakustik Mengungkap Perubahan Ekosistem
Seorang ilmuwan bioakustik dari Cornell Lab of Ornithology, Wendy Erb, telah mendedikasikan waktu selama satu dekade terakhir untuk merekam lanskap suara di berbagai penjuru Kalimantan. Erb menggunakan pendekatan ilmiah unik dengan menganalisis rekaman audio hutan untuk memantau kesehatan ekosistem secara keseluruhan. Menurutnya, suara satwa liar adalah indikator terbaik untuk mengukur tingkat stres suatu habitat.
Bersama tim peneliti lokal, Erb memasang sensor suara sensitif di berbagai ketinggian tajuk pohon untuk menangkap dinamika akustik hutan. Alat perekam otomatis ini bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk menangkap perubahan pola komunikasi satwa dari siang hingga malam hari. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan algoritma khusus untuk memetakan indeks keanekaragaman hayati akustik.
Pengumpulan data suara ini dilakukan di berbagai ekosistem yang terancam langsung oleh perluasan jalan tol dan pembangunan gedung pemerintahan. Titik-titik pemantauan mencakup beberapa wilayah krusial berikut:
- Kawasan hutan hujan primer di puncak-puncak bukit yang menjadi koridor utama mamalia besar seperti orangutan.
- Ekosistem hutan bakau di sepanjang Teluk Balikpapan yang rentan terhadap pencemaran akibat aktivitas logistik pelabuhan.
- Sistem gua kapur yang menjadi habitat penting bagi jutaan kelelawar pembasmi hama pertanian.
Melalui analisis frekuensi suara, para peneliti dapat mengidentifikasi penurunan aktivitas satwa liar yang terganggu oleh kebisingan konstan dari alat berat. Banyak spesies burung dan mamalia yang mulai bermigrasi menjauhi area bising, meninggalkan ceruk ekologis mereka yang kosong. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu rantai makanan alami dan mempercepat kepunahan lokal.
Rekaman suara hutan ini berfungsi sebagai kapsul waktu digital untuk memetakan kepunahan spesies lokal sebelum wilayah mereka sepenuhnya berubah menjadi pusat pemerintahan.
Dampak Sosial terhadap Masyarakat Adat Balik
Bagi warga lokal seperti Abidin, seorang anggota komunitas adat Balik dari Desa Pemaluan, hilangnya suara-suara alam adalah ancaman langsung terhadap identitas budaya mereka. Masyarakat adat telah lama mengandalkan tanda-tanda suara dari hutan untuk memandu aktivitas berburu dan meramu obat-obatan tradisional. Ketika suara hutan menghilang, pengetahuan lokal yang diwariskan secara lisan selama ratusan tahun turut terancam punah.
Deru gergaji mesin dan truk proyek kini menggantikan kicauan burung enggang serta lengkingan owa Kalimantan yang biasanya menjadi penanda waktu bagi warga desa. Perubahan drastis ini menimbulkan disorientasi bagi generasi tua yang terbiasa hidup selaras dengan ritme alam. Mereka kini merasa asing di tanah kelahiran mereka sendiri akibat deru modernisasi yang tak terbendung.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya marginalisasi sosial bagi komunitas adat yang tidak memiliki sertifikat tanah formal atas wilayah adat mereka. Seiring berjalannya proyek, batas-batas hutan adat kian menyusut dan digantikan oleh patok-patok beton pembatas wilayah otoritas. Perjuangan untuk mempertahankan ruang hidup kini menjadi fokus utama bagi para tetua adat setempat.
“Pertanyaannya adalah, bisakah kita mempertajam pendengaran kita? Bisakah kita benar-benar memperhatikan, menyadari bahwa alam sedang sakit?”
— Wendy Erb
Tantangan Ekologis dan Pengawasan Karhutla
Selain ancaman kebisingan dan hilangnya habitat, kawasan pembangunan ini juga menghadapi risiko bencana musiman yang diperparah oleh pembukaan lahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur memberikan perhatian khusus terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan inti pemerintahan. Pembukaan lahan yang tidak terkontrol sering kali meninggalkan sisa kayu kering yang sangat mudah terbakar saat musim kemarau tiba.
BPBD Kalimantan Timur kini memperketat patroli dan kesiapsiagaan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan di area penyangga ibu kota baru selama puncak musim kemarau.
Upaya pencegahan ini melibatkan koordinasi aktif dengan masyarakat lokal untuk memantau titik-titik panas melalui satelit secara real-time. Langkah antisipatif sangat penting dilakukan agar kebakaran hutan hebat yang pernah melanda Kalimantan tidak terulang kembali di tengah proses transisi ibu kota. Pemerintah juga mulai menerapkan sanksi tegas bagi pihak swasta yang terbukti melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Kolaborasi Pembangunan dan Investasi Daerah
Di bawah kepemimpinan Otorita IKN yang dikoordinasikan oleh Basuki Hadimuljono, pemerintah terus berupaya meredam dampak ekologis dengan menggandeng berbagai pihak luar. Kolaborasi lintas provinsi, seperti kerja sama investasi dengan pemerintah daerah Jawa Tengah, terus diintensifkan untuk mendukung konsep pembangunan hijau. Kemitraan ini diharapkan dapat membawa teknologi pengelolaan limbah dan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan ke wilayah Nusantara.
Keterlibatan akademisi juga diperkuat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Kalimantan. Para mahasiswa ini ditugaskan untuk melakukan pendampingan sosial serta membantu warga lokal dalam mengadaptasi metode pertanian berkelanjutan. Melalui pendekatan multi-pihak ini, pembangunan ibu kota baru diharapkan tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kesejahteraan manusia dan kelestarian alam sekitarnya.
Pertanyaan Umum
Apa fokus utama dari film dokumenter Sound Guardians?
Dokumenter ini berfokus pada upaya para ilmuwan bioakustik dan Masyarakat Adat Balik dalam merekam dan mendokumentasikan perubahan lanskap suara hutan Kalimantan akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Mengapa metode bioakustik digunakan dalam penelitian ini?
Metode bioakustik memungkinkan para peneliti mendeteksi keberadaan dan pergeseran habitat satwa liar secara non-invasif melalui analisis rekaman suara di alam bebas tanpa mengganggu perilaku alami hewan.
Bagaimana tanggapan pemerintah terhadap risiko ekologis di IKN?
Pemerintah melalui Otorita IKN dan BPBD terus meningkatkan patroli pencegahan kebakaran hutan, merancang regulasi perlindungan satwa, serta menjalin kolaborasi pembangunan hijau dengan berbagai pemerintah daerah dan lembaga riset.
Ringkasan
Dokumenter Sound Guardians menyoroti dampak pembangunan IKN terhadap ekosistem hutan dan kehidupan Masyarakat Adat Balik akibat kebisingan mesin.





