Akhirnya tiba waktunya Mas Bayu harus kembali ke Riyadh karena cutinya sudah habis. Aku, Ibu dan si kembar mengantarkannya ke bandara.
Mas, sampai saat ini Ibu dan kedua adikku nggak tahu tentang masalah kita. Mama dan Papamu juga nggak tahu, kan? Kita jaga supaya tetap kayak gini, ya? Mereka nggak perlu tahu. Aku berkata pelan saat duduk berdua menunggu pesawat Mas Bayu berangkat. Ibu dan si kembar sedang membeli makanan.
Mas Bayu menatapku lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku memang tidak ada niat untuk memberi tahu masalah kita karena aku percaya kamu akan kembali padakunggak tahu kapandan kita akan bahagia seperti dulu. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Semoga setelah lama berlibur di sini dan saat nanti kembali ke Riyadh, pikiranmu sudah lebih terbuka. Kamu sudah bisa memaafkan aku.
Aku termangu. Kualihkan pandangan kepada orang-orang yang lalu lalang dengan tujuan masing-masing. Ada yang menarik koper kecil sambil bergegas ke tempat check-in, ada juga yang terlihat sedang menghibur keluarga yang dengan berat hati terpaksa melepaskan suami atau istrinya pergi. Setiap pergi ke bandara, aku selalu disuguhi pemandangan yang mengharukan. Pertemuan dan perpisahan memang selalu terjadi dalam kehidupan, melengkapi cerita perjalanan anak manusia.
Mas Bayu melihat jam di tangannya, Aku masuk sekarang, ya? Takut antre di imigrasi. Kamu baik-baik di sini, renungkan lagi keinginan untuk pisah. Aku masih sayang banget sama kamu dan nggak mau kalau pernikahan kita harus kandas. Percayalah, aku nggak pernah nyalahin kamu karena belum hamil. Buatku, semua itu Allah yang mengatur. Kita hanya bisa berusaha.
Mas Bayu lalu meraih koper kecilnya dan segera berpamitan pada Ibu, Shanaz, dan Sasha. Kemudian ia mencium lembut keningku. Kubiarkan air mataku mengalir membasahi pipi saat kuraih dan kucium tangannya.
Hati-hati, ya, Mas! Kita sama-sama berdoa semoga Allah membuka hati kita untuk kembali terpaut dalam cinta. Aku juga masih mencintaimu, bisikku lirih.
Jangan lama-lama di sininya. Cepat pulang ke Riyadh, supaya kita bisa ngomongin dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Aku mengiyakan dan bergerak mengantarkannya sampai batas imigrasi. Meskipun sering bertengkar, tapi tak bisa kupungkiri ada sebagian hatiku yang ikut pergi bersama Mas Bayu. Ada rasa nyeri bermain di dada. Biar bagaimanapun, kami masih suami istri dan saling mencintai. Tatapanku tak lepas dari sosoknya sampai Mas Bayu menghilang di balik batas imigasi, meninggalkan rasa kosong yang tiba-tiba hadir di hati.
Aku segera menghampiri Ibu dan kedua adikku.
Kamu jangan lama-lama pisah sama Nak Bayu, Nduk! Ndak baik. Kasihan suamimu sendirian di sana, tutur Ibu begitu aku duduk di sampingnya.
Ibu bener, Mbak. Nggak baik suami istri hidup jauh-jauhan. Sasha ikut bersuara.
Ah, sok tahu kamu! Punya pacar aja belum, mau sok nasihatin kakaknya, jawabku sambil mencolek pipinya. Oya, kata Ibu kamu sering pulang malam, ya? Selama Mbak di rumah, kita belum sempat ngobrol sama cerita-cerita.
Pulang malam kan karena kerja. Ibu ih, kan Sha udah izin, jawabnya cemberut sambil memandang Ibu.
Ibu hanya tersenyum tipis.
Ibu juga udah bilang Mbak, kok! Makanya Mbak tanya sama kamu. Kami berjalan menuju tempat parkir mobil. Nanti cerita sama Mbak, ya?
Sasha masih merajuk. Ia segera membuka pintu belakang dan mengempaskan tubuhnya di kursi. Shanaz menahan senyum sembari melirikku penuh arti saat aku masuk dan duduk di belakang kemudi. Ibu duduk di belakang bersama Sasha. Kulirik Sasha dari spion tengah. Pasti ada sesuatu dengan adik kembarku itu. Aku berjanji akan mengajaknya bicara soal kegemarannya pulang malam.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






