Novel : Room for Two Bab 32: Balada sang Waktu

- Penulis

Kamis, 21 November 2024 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 32 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 32 Karya Bumban Dafnah

Novel : Room for Two Bab 32: Balada sang Waktu

Room for Two Bab 32 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 32 Karya Bumban Dafnah

Menurutku, arah perputaran waktu selalu merupakan kebalikan dari keinginan manusia. Saat kita menginginkan waktu berjalan lebih lambat, waktu malah seakan-akan berlari lebih cepat. Namun, saat kita mengharapkan sebaliknya, waktu selalu terasa berputar makin lambat.

Masih jadi misteri mengapa waktu tidak bisa melangkah bersisian dengan harapan manusia. Yang pasti, waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali. Sekeras apa pun aku berusaha, waktu tetap bergerak maju, tak mau berhenti. Waktu tak mau tahu apa yang telah ia tinggalkan di belakangnya, apakah itu harapan, atau justru penyesalan.

Begitulah kemudian yang terjadi kepadaku. Setelah mendengar kabar dari Bang Hadi yang disampaikan oleh Reivan, aku berusaha mengejar waktu. Kunyalakan ponsel, kubaca kabar berita yang seharusnya telah kuketahui beberapa jam lebih awal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Papa masuk ICU. Papa kritis. Papa tidak sadar.

Meski ingin memburu-buru waktu, tetap saja pada akhirnya waktulah yang memaksaku menyesuaikan diri. Kepulanganku ke Bandung pun, mau tidak mau, harus diselaraskan dengan banyak waktu; waktu keberangkatan pesawat, waktu kedatangan di bandara, waktu menaiki kereta cepat, waktu tiba di stasiun, hingga waktu perjalanan ke rumah sakit.

Akan tetapi, waktu memang tidak pernah datang terlambat. Ia selalu memastikan segala sesuatu terjadi tepat pada saatnya. Bahkan meski aku memohon sekalipun, waktu tetap bergerak maju, tak mau berhenti.  

Waktu tak pernah mau tahu apa yang telah ia tinggalkan di belakangnya, apakah itu harapan, ataukah penyesalan ¦ seperti yang kurasakan.

Kurasa sia-sia saja memohon maaf dari Papa, karena aku tak pernah punya waktu untuk menemuinya. Tak akan pernah punya. Dan selamanya aku akan hidup bersama perasaan bersalah itu. Dan selamanya adalah satu-satunya hal yang takkan pernah bisa terukur oleh waktu. 

*** 

 

Aku sudah terlalu banyak menangis. Aku menangis saat mendengar kabar Papa kritis, aku menangis saat menunggu pesawat yang tak kunjung lepas landas, aku menangis saat tak sempat menjumpai Papa di saat-saat terakhirnya. Namun, aku tidak menangis saat peti Papa masuk ke lubang kuburnya. 

Saat tanah merah pertama dijatuhkan ke atas peti, aku tidak menangis. Saat kelopak-kelopak daun berjatuhan mewarnai makamnya, aku tidak menangis. Saat berjalan pulang meninggalkan area pemakaman, aku tidak menangis. Aku tidak bisa menangis. Aku tidak bisa berpikir, aku tidak bisa merasa. Aku hanya bisa diam.

Aku diam saat Mama menyesalkan sikap bodohku. Aku diam saat Bang Hadi memaki-maki kelakuan minusku. Aku diam saat mereka menyebutku sebagai penyebab kepergian Papa. Mereka bilang seharusnya hidupku mudah, tinggal jalani saja semua yang dititahkan, jangan banyak ulah, tidak usah banyak tingkah, jadilah anak yang penurut.

Maka aku jalan ketika mereka menyuruhku jalan. Aku makan ketika mereka menyuruhku makan. Aku tidur ketika mereka menyuruhku tidur. Aku menuruti semua yang mereka inginkan. Aku mengikuti segala yang mereka titahkan. Tapi ¦ ketika mereka menyuruhku berpisah dari Reivan ¦.

Setelah kehilangan Alston, lalu kehilangan Papa ¦ sungguh aku tidak sanggup jika harus kehilangan Reivan juga. Kenapa harus semuanya? Padahal hubungan kami sudah baik-baik saja, padahal Reivan juga sudah bilang kalau dia cinta, aku pun sudah mengakui hal yang sama kepadanya. Namun, jika mereka memaksa, apa boleh buat. 

Kurasa sebelum semua itu terjadi, lebih baik aku saja yang pergi. 

***

 

Stres berlebih dapat berakibat buruk bagi kandungannya ¦.

Dia minum obat keras terlalu banyak ¦.

¦ kondisi ibunya jelas tidak sehat ¦.

¦ kandungannya tidak terlalu kuat ¦.

 Reivan mau pertahankan pernikahan ini ¦.

¦ kamu bukan ayahnya ¦.

Ayahnya sudah titip Ishana ¦.

¦ ini keputusan Reivan.

Aku mendengar suara-suara dalam tidurku. Suara itu datang silih berganti, mengetuk gendang telingaku berkali-kali. Pada akhirnya, suara-suara itu membuatku terjaga.

Hal pertama yang kulihat adalah layar teve yang menyala. Berikutnya, kusadari ada tirai yang bergoyang perlahan dipermainkan angin. Di balik tirai itu, kudengar beberapa suara saling menyahut. Suara-suara itu kukenali sebagai suara milik Reivan, Mama, dan Bu Nawang. 

Coba pikirkan lagi, kata Bu Nawang. Ibu enggak mau kamu menyesal nantinya.

Mbak Nawang, gimana kalau kita serahkan saja semuanya ke anak-anak

Iya, Tri, Mbak setuju. Tapi Mbak kepingin anak Mbak berpikir dengan jernih, dia sudah dimanfaatkan selama ini, uangnya, tenaganya, pikirannya ¦ bahkan sampai fisiknya! Anak saya mana pernah saya biarkan sampai babak belur begitu

Bu! Reivan sudah putuskan, Reivan enggak akan bercerai sama Ishana. Titik. Tolong Ibu hormati keputusan Reivan. Pernikahan ini juga, kan, dulu kemauan Ibu

Tapi bukan untuk dijadikan main-mainan seperti ini, Reivan! Ibu sayang sama Hana, Ibu lebih sayang lagi sama kamu! Ibu tahu gimana sulitnya kehidupan kamu waktu kecil, kamu berhak bahagia, Nak!

Kugigit kuat-kuat bibirku. Kutahan isakanku. Untuk membuatnya makin tidak terdengar, aku bahkan menutup mulutku menggunakan kedua telapak tangan. 

Kenapa? Kenapa tidak ada keinginanku yang berjalan sesuai rencana? Seharusnya aku mati setelah menelan semua obat penahan nyeri milik Reivan tanpa sepengetahuannya. Seharusnya aku langsung terbangun di neraka, bukannya terjaga di rumah sakit dan mendengarkan perselisihan Reivan dengan ibunya.

Bu ¦ Reivan bahagia, Bu.

Bahagia gimana, Nak? Lelaki mana yang mau terima istrinya mengandung anak dari lelaki lain ¦.

Kata-kata Bu Nawang hilang oleh suara tangisan. Ia terisak-isak ditingkahi suara menyayat hati dari Mama, ibuku, yang memintakan permohonan maaf untukku.

Saya sudah gagal mendidik anak perempuan saya satu-satunya. Maafkan saya, Mbak, maafkan Hana. Maafkan ayahnya juga, kakaknya, maafkan keluarga kami. Saya malu, saya malu ¦ sekali. Tapi saat ini saya cuma bisa minta tolong sama Reivan, dia satu-satunya harapan saya, orang yang bisa menjaga Hana selain papanya.

Mendengar Mama memelas seperti itu, rasanya seperti ada ribuan pisau yang menikam jantungku secara bersamaan. Kapan terakhir kali aku mendengar Mama menangis sepilu itu? Setahun lalu? Sebulan lalu? Sepertinya baru beberapa hari lalu, ketika Papa pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Lalu mengapa Mama menangis lagi? Mengapa aku membuatnya terluka, lagi dan lagi?

Sudah, Ma, sudah ¦.

Maafkan Mama, Reivan. Mama salah

Enggak, Ma. Kalau mau cari siapa yang salah, Reivan yang paling bersalah. Kalau Reivan nolak permintaannya untuk nikah satu tahun, kalau Reivan enggak ngusir Ishana dari rumah, ini pasti enggak akan terjadi. Tapi ini semua sudah terjadi, ya sudah biar Reivan sama Ishana jalani aja.

Kamu enggak akan bisa sayang sama anak itu, Reivan

Bu, Reivan ini bukan anak kandung Ibu, kan? Tapi Ibu tetap sayang sama Reivan, kan? Ibu tetap ngerawat Reivan dengan baik, kan?

Suasana hening sejenak tanpa ada seorang pun yang bicara. Hanya suara terisak-isak yang masih terdengar meningkahi kesunyian di kamar itu. 

Bu ¦ Reivan tahu Ibu marah, Ibu sakit hati. Reivan minta maaf. Tapi, Bu, Ishana sekarang ini enggak punya siapa-siapa lagi. Seandainya Alston mau tanggung jawab, Reivan pasti rela ninggalin Ishana. Pasti Reivan enggak akan ragu untuk pergi, sesuai kemauan Ibu. Ibu selalu nyuruh Reivan jadi laki-laki pemberani, ingat, kan, Bu? Ya ini, saat ini Reivan sedang berusaha jadi laki-laki pemberani. Reivan mau bertanggung jawab sama Ishana. 

Bu, karena semua keributan ini, Papa sampai pergi dari kita. Reivan enggak mau Ishana ikut pergi juga. Coba Ibu pikir, Ishana sudah ditolak pacarnya, ditinggal papanya, diabaikan kakaknya, kalau Reivan pergi juga, siapa yang mau nguatin Ishana, Bu? Reivan suaminya, Reivan sudah janji di depan Tuhan, di depan papanya, di depan semuanya. Reivan mau jaga Ishana. Reivan sudah pikirkan baik-baik. Tolong, ya, Bu, tolong Ibu restui keputusan Reivan ¦.

Tangisanku makin kencang mendengar itu. Mengapa Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia sebaik Reivan untukku? Untuk aku, perempuan yang tidak pernah menghargai keberadaannya dan tidak pernah mensyukuri perhatiannya?

Tirai tersibak. Reivanbengkak di matanya mulai berkurangburu-buru menghampiriku.

Ishana?

Aku tidak mampu sembunyi-sembunyi lagi. Begitu Reivan mendekat dan berada dalam jangkauanku, aku menarik lalu menciumi tangannya. 

Maaf ¦.

Ishana

Maafin aku, Reivan. Maafin Hana, Ma ¦. Maafin Hana, Bu. Hana salah. Hana nyesel. Maafin Hana, tolong maafin Hana. Maafin Hana.

Air mata yang kutahan-tahan sejak kepergian Papa, rupanya mereka hanya bersembunyi untuk sementara. Hari itu, mereka berhamburan lagi, berlarian keluar dari kelopak mataku, membasahi semua permukaan yang mereka lalui dengan penyesalan sepenuh hati. 

Tangisanku makin tak terkendali ketika satu per satu orang-orang kesayanganku datang dan melayangkan pelukan. Mama, Bu Nawang, lalu Reivan. Dan di tangan orang terakhirlah aku benar-benar merasakan perlindungan. 

Aku aman, kami aman. Semua akan membaik perlahan-lahan. []

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru