Novel: Nayanika (Part 7)

- Penulis

Minggu, 29 September 2024 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 7)

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua bulan sejak Arya datang memintaku di malam itu. Selama itu juga aku membereskan semua pekerjaanku di Jakarta begitu memutuskan untuk menerima lamarannya, karena tidak mungkin kami hidup terpisah setelah menikah. Sama saja aku tidak berperan menjadi istri dan seorang ibu.

Selama itu pula aku tidak pernah bertemu dengan Ghani lagi. Laki-laki itu sibuk menyiapkan album baru bersama band-nya. Terakhir aku telepon, dia memintaku untuk membiarkannya terbiasa tanpaku.

Cari aku, kalau kamu tidak bahagia bersamanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku tidak bisa lebih terharu lagi saat dia mengatakan itu. Ghani teramat baik padaku. Aku bahkan mungkin bisa belajar untuk menyayanginya lebih dari ini lagi andai saja dia bisa memeluk masa lalunya. Semoga suatu saat dia bisa berdamai dengan lukanya.

Sekarang aku fokus dengan hidupku. Sudah tiga hari aku di Surabaya. Malam ini keluarga Arya akan datang melamarku secara resmi. Meski begitu lamaran dilakukan secara sederhana, didatangi oleh keluarga inti saja, toh masing-masing keluarga sudah saling mengenal.

Walau begitu, ini adalah pengalaman pertamaku. Tentu saja aku didera oleh rasa khawatir. Aku begitu berbeda dengan hal perangai, meski kami tumbuh bersama sejak dalam kandungan.

Sedari tadi aku mondar-mandir. Dari meja makan, kembali ke kamar, lalu kembali ke meja makan. Ibu yang menyiapkan makanan di dapur bahkan dengan iseng menghitung frekuensi aku bolak-balik.

Yang tenang, Nay. Keluarga Arya nggak gigit kok.

Aku makin cemberut ketika Mama menggodaku. Ibunya galak nggak, Ma?

Mamaku mengangkat bahu. Tergantung siapa yang dihadapinya kayakanya, Nay. Kalau orangnya nggak mau diam dan suka panikan gitu kayaknya bakal dijutekin.

Mamaaa. Ih. Bukannya bikin anaknya tenang malah dibecandain.

Wanita yang tampak bahagia itu tertawa renyah, lalu mendekatiku dan merapikan pinggiran kebayaku. Lagian, apa yang kamu khawatirkan sih, Nay? Ini persiapannya udah lengkap, keluarga yang datang juga bukan orang baru, kamu pun udah cantik begini. Apa lagi yang kurang?

Aku memegang tangan kanan Mama, seolah ingin mengambil sebagian kekuatan darinya. Takut tiba-tiba orangtua Mas Arya batalin lamaran, Ma.

Hush! Nggak boleh ngomong gitu. Arya udah ngomong kok kalau ibu dan ayahnya setuju dengan kamu. Acara ini kan inti sebenarnya keluarga mau nentuin tanggalnya, tapi nggak enak kalau kamu belum diminta secara resmi. Sudah, percaya diri saja.

Mamaku benar-benar menularkan energi positifnya. Aku jadi sedikit tenang meski masih sedikit gugup. Tidak lama kemudian, rombongan keluarga Arya datang. Disambut oleh pamanku, saudara dari Ayah. Laki-laki yang juga dulu menikahkan Diandra.

Diam-diam aku melirik Arya. Malam ini laki-laki itu begitu tampan, meski biasanya memang tampan. Rambut-rambut halus didagunya dicukur, hingga meninggalkan warna kehijauan di kulitnya yang sawo matang. Masih maskulin. Hanya saja aura maskulinnya sedikit intimidatif, padahal dia mengenakan batik berwarna dasar abu muda, bukan warna hitam atau putih seperti biasanya. Untungnya aku mengenakan kebaya berwarna ice blue, tampak serasi padahal kami tidak seragaman dan tidak janjian.

Ren dan Hime tidak bisa datang. Kata Arya jika keduanya ikut, dikhawatirkan akan rewel dan meminta tidur saat acara masih berlangsung, padahal aku tidak keberatan, toh mereka bisa tidur di kamar Diandra.

Setelah berbasa-basi seperti menanyakan kabar, mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ruang tamu rumah ini cukup lapang untuk menampung kursi sebanyak tiga puluh, sedangkan dari pihak Arya hanya membawa sepuluh orang, dan dari pihakku ada empat belas termasuk aku.

Kami duduk berhadap-hadapan, dengan aku diatur untuk berada di tengah-tengah, begitu pun dengan Arya. Tidak lama kemudian, ayah Arya mulai berbicara, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Beberapa saat kemudian, terjadi diskusi waktu pernikahan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga, lalu ditutup dengan melemparkan candaan. Singkatnya, proses lamaran ini berjalan dengan baik.

Kecuali satu. Ibu Arya tidak pernah tersenyum ketika melihatku.

***

Arya lebih dulu menyelesaikan makannya. Dia menghampiriku yang ikut membantu Mama menyiapkan makanan ringan di meja ruang tamu. Meminta ijin ke Mama untuk mengajakku berbicara di teras depan.

Kenapa, Mas? Tanyaku kembali gugup. Entah kenapa setelah kejadian saat Arya datang ke Jakarta menjadikanku mudah gugup saat bersamanya.

Kita nggak duduk dulu?

Aku meringis, tanpa sadar menggigit bibir bawahku. Nggak enak sama orang di dalam. Mereka masih makan dan ngumpul, sementara kita malah ngobrol di sini.

Arya hanya mengangguk ringan. Karena tanggal nikahnya udah ditentuin, aku mau diskusiin soal WO. Kamu sepakat kan? Kalau kita pakai jasa mereka aja?

Aku ngikut aja, Mas. Keluarga kan nggak mungkin juga bisa ngurus semua. Aku nggak mau mereka capek.

Mungkin kamu ada saran atau kenalan orang WO?

Aku menggeleng. Kalau di sini aku nggak tahu, Mas. Aku serahin semuanya ke kamu. Boleh?

Boleh. Kebetulan aku masih menyimpan kontak WO yang kemarin. Nggak pa-pa?

Oh, kontak WO yang meng-handle pernikahannya dengan Diandra kemarin? Tidak masalah. Aku tidak akan sentimentil pada hal sekecil itu.

Nggak pa-pa.

Arya hanya terdiam, menatap wajahku lekat-lekat. Seperti menginspeksi hal-hal yang tidak simetris di sana.

Aku spontan memegang wajah. Kenapa? Make up-ku jelek ya? Alisku nggak sama?

Tadinya aku memang ragu memakai jasa makeup rekomendasi Mama. Tahu sendiri, selera ibu-ibu jaman dulu terkadang tidak up to date.

Bukannya menjawab, Arya justru tersenyum sambil mengulum bibirnya, seperti menertawakanku. Jadilah aku membalikkan badan, menatap jendela di belakangku. Sialnya tidak terlihat jelas wajahku di sana.

Mas, ada apa sih? Aku kembali menghadapnya. Gemas karena sedari tadi dia cuma tersenyum menyebalkan.

Nggak ada apa-apa.

Trus kenapa ketawa?

Arya pura-pura bingung. Memang nggak boleh ketawa?

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru