Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 4)

- Penulis

Sabtu, 23 November 2024 - 09:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 4)

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 4)

BAB. 4

Mengungkapkan perasaan bagi sebagian orang memang menjadi hal yang mudah. Seperti halnya diriku. Sebelum bertemu dan mengenal Haura aku telah bertemu dengan beberapa wanita yang telah berhasil aku taklukkan. Rina, Jessica, dan Sinta.

Tapi itu dulu, saat masa-masa sekolah dan belum mengenal apa itu cinta sesungguhnya. Setelah bekerja aku hanya pernah berpacaran dengan seorang gadis  yaitu Tiwi …, sebelum akhirnya aku putus kontak dengannya. Ia melanjutkan studi S-2nya di luar negeri. Setelah beberapa bulan di sana aku kehilangan jejak, hingga sekarang. Aku menganggap hubungan ini telah berakhir. Namun, setelah itu cukup sulit bagiku untuk bisa jatuh cinta lagi pada perempuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini aku mencoba membuka hati untuk bisa mencintai perempuan lain. Aku telah bertemu dengan seorang perempuan yang memikat hati. Aku merasa perempuan ini istimewa. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkannya. Entah mengapa keberanianku untuk menyatakan perasaanku seolah menghilang. Tidak seperti dulu saat masa remaja sebagai petualang cinta yang mudah saja mendapatkan seorang pacar. Ya, meski aku baru mengenal dan mendekatinya enam bulan terakhir.

Aku sadar, semakin bertambahnya usia semakin dewasa seseorang ia akan lebih bijak dalam memahami cinta. Cinta itu bukan permainan. Oleh karenanya aku tak mau mempermainkan cinta dan perempuan. Inilah aku yang sudah mulai dewasa. Laki-laki sejati harus berani setia.

 

Pagi ini, selesai mencuci motor dan memeriksa kondisi motorku aku segera membersihkan diri. Hari ini aku akan mengajak Haura jalan, makan atau ke mana pun ia mau. Aku akan menyatakan cinta kepadanya.

Aku keluar kamar, lalu menghampiri ibu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.

“Bu, Irfan pamit dulu, ya, mau jalan sama teman,” pamitku pada ibu sambil meraih tangan dan menciumnya.

“Mau ke mana, tumben banget Minggu pagi gini sudah rapi, Fan? Nggak sarapan dulu?” tanya ibu sambil menata meja makan. Ibu membersihkan tangannya, lalu, mengulurkannya padaku.

“Nggak, Bu. Gampang nanti saja Irfan sarapan di luar. Assalamu’alaikum.” Setelah berpamitan aku meninggalkan ibu di ruang makan. Lalu, pergi meninggalkan rumah.

Motorku melaju menelusuri jalan keluar dari kompleks menembus jalan utama. Suasana di depan kompleks cukup ramai. Banyak pengguna pedestrian yang berjalan kaki setelah berolah raga. Lalu lintas kini lebih lancar. Tidak banyak mobil dan motor yang berlalu lalang di hari libur seperti ini. Hatiku sedikit tidak tenang karena masih belum yakin apakah Haura mau untuk diajak ke rumah untuk bertemu dengan ayah dan ibuku. “Semoga hari ini aku berhasil membawanya ke rumah,” gumamku.

Dua puluh menit kemudian aku sampai di depan rumah Haura. Rumahnya tidak terlalu besar, tetapi terlihat indah dan asri serta nyaman untuk dihuni. Di halaman rumahnya ada taman kecil yang dihiasi bunga-bunga cantik. Yang aku dengar dari cerita Haura, dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Kakak semata wayangnya sudah pindah dari rumah itu setelah menikah. Itulah kenapa rumahnya memang terlihat sepi.

 

Ini pertama kalinya aku datang ke rumah Haura untuk menjemputnya. Setelah menepikan motor, baru saja hendak memencet bel, seorang perempuan berusia sekitar 50 tahun keluar dari dalam rumah melalui pintu samping, lalu menghampiriku.

“Mau bertemu dengan siapa, Mas?” tanya perempuan itu. Ia masih belum membuka pintu pagar dan tetap berdiri menunggu jawabanku.

“Saya mau bertemu Haura, Bu. Hauranya ada?” jawabku dengan sopan.

“Oh, temannya Neng Haura? Ada. Sebentar, ya, saya panggilkan dulu, silakan masuk,” Perempuan itu lalu membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah.

Baru saja aku hendak berbalik badan melangkah ke teras rumah, Haura keluar dari dalam rumah.

“Hai, sudah lama menunggu, ya?” Haura  tersenyum. Dia tetap terlihat anggun meski dengan setelan kasualnya. Rambutnya dibiarkan tergerai indah.

“Ah, nggak. Baru saja mau duduk di situ.” Aku menghentikan langkahku, “kita jalan sekarang?”

“Ayo!” sahutnya

“Mau ke mana, Kita?”

“Bagaimana kalau kita cari tempat nongkrong yang suasananya natural, menyatu dengan alam, yang banyak pohon-pohon gitu?”

“Baiklah. Ayo naik!” Aku mempersilakan Haura membonceng motorku setelah kuturunkan kedua foot step motorku.

Motorku melaju keluar dari kompleks tempat tinggal Haura. Kami menuju tempat ngopi yang terletak di salah satu hutan kota di Bandung. Di cafe ini kita bisa merasakan langsung menghirup oksigen yang melimpah. Meski di hutan, tapi suasananya tidak seseram yang dibayangkan. Beberapa kursi yang terbuat dari kayu tertata rapi di anatara barisan pohon pinus. Di cafe ini juga terdapat tempat-tempat duduk yang terletak di dalam cafe.

 

Aku dan Haura menikmati pertemuan ini. Kami asik mengobrol dan sesekali bercanda dan tertawa. Di balik tawa dan canda ini, aku sedang memikirkan sesuatu. Perang batin dalam diriku pun terjadi.

Isi kepala ini diliputi berbagai pertanyaan, yang aku sendiri belum tentu tahu jawabannya. Bagaimana reaksi Haura setelah aku menyatakan perasaanku kepadanya? Bagaimana kalau dia menolak? Apa tanggapannya setelah ini? Apakah ibuku akan menerima dia? Bagaimana kalau ibu tidak menyukai Haura? Bagaimana kalau ternyata dia sudah punya pacar?

 

Di sisi lain, hatiku berkata bahwa jika aku tidak kunjung menyatakan perasaan ini, lalu, mau sampai kapan akan menunggu? Bagaimana kalau karena ketidakberanianmu ini, lalu setelah ini ada orang lain yang juga menyatakan perasaan kepadanya?

“Stop Irfan itu terlalu berlebihan!” gumamku.

 

Aku tersadar dari lamunan. Untung saja Haura tidak mendengar atau memerhatikanku. Aku berusaha kembali fokus memerhatikan Haura yang sedang berbicara. Bagiku suaranya saja sangat menenangkan saat sedang berbicara, sopan dan nyaman di telinga. Senyumnya yang selalu menghiasi bibirnya membuatku semakin terpukau.

“Ra, sejak aku mengenal dan sering ngobrol sama kamu, aku merasa hidupku lebih indah. Lebih berwarna. Semua risauku hilang setelah melihat senyum manismu. Saat aku mencarimu, tapi, aku tak menemukanmu, hatiku sakit. Kamu adalah alasan untuk setiap kebahagiaan hidupku. Sejak dekat denganmu, hidupku membosankan jika itu tanpamu.” Aku menghela napas.

Haura tecengang, aku tahu ia tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Ia tersipu. Tangannya tak berhenti memainkan garpu kecil yang digunakan untuk menikmati sepiring kecil kue klepon yang ia pesan.

“Aku tak bisa membayangkan jika tak melihat senyummu dalam waktu yang lama. Mungkin duniaku akan senyap. Sunyi dan hampa. Aku ingin selalu bersamamu. Meski ragaku mungkin tidak bisa setiap hari ada di sampingmu, tapi aku ingin hatimu selalu bertaut denganku. Maukah kamu menjadi pacarku?” rayuku pada Haura.

Haura tersenyum hingga gigi putihnya yang berbaris indah sedikit terlihat. Kedua pipinya memerah. ia tersipu menahan malu.

“Baiklah, aku tak tahu apa yang ada dalam hatimu. Aku tidak akan memaksamu menjawab. Tetapi, aku mau memilih dan lakukan salah satu dari dua pilihan.”

“Apa?” tanyanya. Ia menatapku. Matanya yang bening membuatku merasa sedang dipandaang oleh bidadari.

Aku berpikir sejenak, “Kalau kamu menerima cintaku dan mau menjadi pacarku, berarti kamu harus menghabiskan kue klepon yang tersisa satu butir di piringmu.”

“Kalau aku menolak?”

“Kalau kamu menolakku, kamu berikan piring itu kepadaku, lalu, biarkan aku yang akan menghabiskan kuemu itu.”

 

Jantungku berdebar kencang saat itu. Harap-harap cemas saat aku memberikan tantangan itu. Aku takut dia menolakku. Aku tak sanggup menahan kecewa andaikan dia menolakku.

Namun, Tuhan Maha baik. Dia mendengar doaku. Doa yang aku panjatkan setiap selesai salat. Doa agar aku dipertemukan dengan perempuan baik-baik. Doaku yang meminta agar ibuku mendapatkan calon menantu yang terbaik.

“Hmm, baiklah.” Sekali lagi ia menatapku dengan senyuman yang sungguh sangat manis. Lalu, ia mengangkat piring berisi sebutir kue klepon. Aku tak sabar menunggu dibuatnya. Jantungku semakin berdebar.

“Aduh, dia mengangkat piring itu. Apa ini artinya dia menolakku?” batinku.

Lagi dan lagi Haura hanya menyuguhkan senyum manisnya. Mungkin saja bola matanya menangkap raut mukaku yang berubah penuh ketegangan. Sialnya, ia malah menggodaku.

“Fan, are you OK? Tegang banget kelihatannya.” Haura pun tertawa. “Baiklah, jujurly, karena aku juga sudah lama menyimpan rasa ini, nggak enak juga kalau dipendam terus. Jadi … aku mau jadi pacar kamu,” ucapnya, lalu ia menghabiskan kue klepon yang ada di piring di tangannya.

“Serius?”

“Ya, 1000 kali serius,”

“Terima kasih, Haura Bening. Sebagai tanda kita resmi pacaran aku mau memberimu sesuatu. Tapi, pejamkan dulu matamu,” pintaku. Haura pun menuruti permintaanku. Ia lalu memejamkan matanya. Ya Tuhan, betapa indahnya ciptaanMu. Dalam keadaan matanya terpejam pun masih tetap telihat sangat cantik. Tak henti-hentinya aku memuji kebesaran Allah.

Aku merogoh saku celanaku meraba dan mencari kotak kecil berbahan beludru di dalam saku celana, lalu mengeluarkannya. Kubuka kotak kecil itu. Lalu, kuambil sebuah cincin di dalamnya.

Aku berdiri. “Ulurkan tangan kirimu, Ra,” ucapku. Ia pun mengulurkan tangannya. Aku meraih jemarinya. Kupasangkan cincin indah bermata berlian itu di jari manis tangan kirinya. Ia tersenyum dan terlihat sangat bahagia.

“Wow, cantik sekali cincin ini, Irfan.” Sadar ia telah berteriak, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Terima kasih!” serunya. Semua kepala menoleh ke arah kami. Dengan menahan rasa malu kami pun meminta maaf pada setiap orang yang menoleh ke arah kami.

“Mulai detik ini, hari ini hatimu milikku, begitu juga hati dan cinta ini menjadi milikmu,” ucapku. Haura mengangguk tanda mengiyakan ucapanku.

“Sebelum kita pulang, bagaimana kalau  jalan-jalan keliling taman?” usul Haura.

” Sebentar, aku ke kasir dulu.”

“Oke. Aku tunggu di sini saja, ya?”

Setelah selesai membayar, aku kembali ke tempat Haura menunggu. Lalu, kami berdua keluar dari cafe. Kami pergi menuju tempat yang lain. Motorku menelusuri jalan demi jalan.

Kali ini, destinasi kami selanjutnya tertuju pada sebuah mall di tengah kota. Haura mengajakku untuk menonton di studio bioskop yang ada di mall tersebut. Tiga jam berlalu, film yang kami tonton telah usai. Sebelum pulang kami sempatkan untuk makan siang terlebih dulu. Setelah puas jalan-jalan seharian kami pun pulang. Aku mengantarnya pulang. Aku pun segera pulang karena merasa lelah setelah seharian kencan dengan Haura.

 

Benar kata orang. Jatuh cinta bisa membuat orang lebih semangat menjalani hidup. Biasanya, saat memulai aktivitas di awal pekan ada rasa sedikit malas setelah libur di akhir pekan. Ada yang berbeda di hari Senin kali ini. Hatiku diliputi kebahagiaan baru, semangat baru.

Kebahagiaan hatiku terpancar dari setiap gerak-gerikku. Hingga hal ini tanpa aku sadari ternyata ibu memerhatikan tingkahku yang berbeda dan sedikit berubah. Pagi ini aku bangun lebih awal. Bahkan, aku sempat salat Subuh di masjid. Hal yang jarang sekali aku lakukan  di hari-hari yang lainnya selain saat bulan Ramadan.

Selesai mandi dan bersiap untuk berangkat kerja aku keluar kamar dan bergabung bersama bapak dan ibu  serta adikku yang sudah lebih dulu duduk mengelilingi meja makan untuk sarapan bersama. Aku berjalan mendekat sambil bersenandung kecil dan bersiul. Jam di tanganku menunjukkan pukul 06.30.

“Assalamualaiku. Selamat pagi, semuanya.

” Waalaikumsalam. Selamat pagi …,” sahut bapak, ibu dan Nadia adikku. Mereka bertiga saling melempar pandangan seolah memberikan kode bertanya apa yang telah terjadi padaku.

“Wah, ada makanan kesukaanku, nih. Terima kasih, Ibu.”

“Sama-sama, Nak.”

Aku menyendok nasi  dan mengambil masakan ibu, lalu, memasukkannya ke dalam piringku dan memulai menyantapnya dengan lahap.

 

Mereka bertiga saling melempar pandangan dan mengangkat alis seolah memberikan kode bertanya apa yang telah terjadi padaku.

“Ibu perhatikan sejak pulang sore kemarin mukamu sumringah banget, Fan. Nggak seperti biasanya, gitu. Seperti ada semangat yang lagi membara. Anak Ibu lagi happy, ya?”

Aku hanya tersenyum.

“Nggak, Bu. Biasa saja.” jawabku. Aku tidak mengatakan apa yang sebenarnya sedang kurasakan. Aku pikir belum saatnya aku cerita pada siapa pun, karena hubunganku dengan Haura baru juga satu hari.

“Mas Irfan lagi jatuh cinta, kali, Bu,” celetuk Nadia iseng.

“Ssst! Anak kecil diam, Kau! Sekolah aja yang benar.” balasku.

Adik semata wayangku ini memang terkadang suka usil. Bukan cuma dia aja, sih. Aku pun sama. Ya, wajar saja. Namanya juga kakak beradik. Pasti selalu saling menggoda dan bercanda. Kadang akur kadang juga berantam. Tak masalah. Itulah keluarga. Tanda hubungan yang harmonis.

 

Pagi yang cerah, rutinitas awal pekan yang biasanya menjengkelkan kali ini tidak begitu berarti bagiku. Jalanan macet yang kulalui terasa tidak begitu panjang. Entahlah hanya perasaanku yang sedang sangat bahagia, atau memang keadaannya demikian.

 

Aku sampai di kantor tepat waktu. Seperti biasanya, Desta teman kantor sekaligus sahabatku selalu datang lebih awal dariku. Saat aku datang dia sedang  berbincang dengan Pak Sobirin, petugas kebersihan kantor di pantry. Aku yang tak mau mengganggu mereka yang sedang asik berbincang, langsung menuju ruang kerjaku.

 

Karyawan yang lain sedang asik mempersiapkan diri dengan beban tugas masing-masing. Aku bergabung menjadi bagian dari perusahaan ini setelah mendapat rekomendasi Desta yang sama-sama saling membutuhkan. Saat itu aku baru saja resign dari tempat kerjaku yang lama, dan kamtor ini sedang membutuhkan karyawan.

 

Aku belum lama kerja di kantorku yang sekarang. Namun, aku merasa nyaman bekerja di kantor ini. Rasa kekeluargaan dan kekompakan dari setiap karyawan sangat terjaga. Semua bekerja sesuai jobdesknya masing-masing, tapi, jika ada satu kendala semua akan saling bantu. Persaingan antar karyawan  dalam dunia kerja memang biasa terjadi. Hal itu sangat wajar jika yang terjadi adalah bersaing yang sehat.

 

Sudah waktunya jam istirahat kantor. Sebagian karyawan sudah beranjak dari meja kerjanya untuk keluar beristirahat. Sebagian lagi tetap bertahan di dalam kantor karena mereka membawa bekal dari rumah.

Bagi karyawan lain sepertiku yang belum berkeluarga, kami menghabiskan waktu istirahat untuk makan di kantin dan cafe-cafe yang ada di sekitar kantor. Maklumlah, kami belum punya istri yang mau menyiapkan bekal dari rumah. He he he.

Setelah selesai salat Zuhur, aku iseng membuka  salah satu akun sosial media dari ponselku. Beberapa saat kemudian muncul di timeline instagramku satu postingan dari akun milik Haura. Postingan sebuah foto tangan seorang perempuan yang memegang buket bunga mawar merah muda, “Aku ingin menjadi seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia sayangi, dan satu-satunya orang yang dia pikirkan. Aku mencintainya.” Tulis Haura dalam caption di postingan itu.

 

Apakah kalimat itu ditujukan untukku? Tanpa berpikir panjang, lalu, aku sentuh tanda love untuk menyukai postingan itu. Tak lama kemudian notifikasi pesanku berdenting. Sebuah pesan WA dari Haura masuk. Segera kubuka dan kubaca pesan itu.

Haura: “Terima kasih untuk semuanya, ya.”

Aku: “Sama-sama, Sayang. Eh, udah boleh panggil kamu Sayang belum, ya? He he he.

Haura: “Boleh nggak, yaa? Boleh, deh. He he he.”

Aku: “Terima kasih juga sudah menerima perasaanku padamu dan menjadi pacarku, semoga sampai menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Udah dulu, ya. Aku belum makan, nih. Jam istirahat sebentar lagi selesai. I love you.”

Setelah menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana aku dan Desta menuju kantin yang biasa  kami makan siang di sana.

“WA dari siapa, sih? Kayaknya happy banget, Lo” celetuk Desta membuatku kaget

“Mau tahu aja urusan orang. Tahu dari mana, Lo kalau gue lagi bahagia?

“Ya elah, Bro. Gue kan berteman sama Lo udah lama. Masak gue nggak paham gerak-gerik Lo?” Desta memperbaiki posisi duduknya, “Kalau punya kebahagiaan bagi-bagi, dong sama teman, jangan dinikmati sendiri aja,” celetuk Desta.

“Oke, oke. Gue habis jadian sama Haura. Kemarin gue ajak dia jalan sekalian mengungkapkan perasan gue ke dia, lalu, kencan pertama.”

“Wiih, selamat, Kawan! Nah, untuk merayakan hari bahagiamu, traktir, dong!”

“Terima kasih, Ta. Iya, iya gue traktir makan siang Lo hari ini.”

“Thank you, Brother!”

Jam istirahat usai. Aku dan Desta kembali ke kantor untuk bekerja. Sejak aku dan Haura resmi berpacaran kerjaku lebih semangat. Karena aku dan Haura sama-sama sudah dewasa. Hubungan kami bukanlah hubungan cinta anak remaja yang baru mengenal cinta monyet.

Aku harus mulai memikirkan masa depan. Aku mulai memperbaiki kualitas diri sebagai bekal utama untuk membina rumah tangga. Aku mulai belajar ilmu-ilmu tentang pernikahan dan rumah tangga. Aku juga mulai belajar ilmu parenting. Selain itu, aku mulai rutin mengikuti kajian-kajian. Semua itu kulakukan agar aku kelak bisa menjadi imam yang baik untuk Haura dan keluargaku.

Aku mulai memikirkan permintaan-permintaan orang tua yang beberapa kali mereka sampaikan padaku. Sudah beberapa kali ibuku pernah berpesan, “Irfan, kamu ini sudah mulai dewasa. Sudah cukup waktu mainmu. Usia Bapak dan Ibu sekarang semakin tua. Bapak dan Ibu ingin memiliki cucu darimu mumpung kami masih diberi umur sama Gusti Allah.”

“Iya, Bu.”

“Kalau kamu sudah punya calon untuk dijadikan istri, segera ajak kemari, kenalkan sama Bapak dan Ibu.”

“Iya, Bu. Nanti kalau aku sudah ketemu sama yang cocok, pasti kukenalkan dia sama Ibu dan Bapak.”

Bagiku, orang tua adalah segalanya. Kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaanku juga. Baktiku selama ini untuk mereka tidak bisa membalas apa yang telah mereka korbankan untukku. Aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka.

 

Beberapa bulan telah berlalu, tak terasa hubunganku dengan Haura sudah memasuki bulan keenam. Masih seumur jagung. Kata orang masa pacaran adalah masa untuk saling mengenal karakter pasangan masing-masing. Namun, aku sedikit ragu akan hal ini. Sebab, tidak semua hal bisa kita bagi atau ceritakan dengan pacar.

 

Pacar tetaplah pacar. Ia tetap saja orang lain yang tidak perlu tahu terlalu jauh tentang kita. Ada hal-hal yang tak bisa kita tunjukkan kepada orang lain. Hubungan dengan pacar tentu saja ada norma dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

 

Banyak hal yang harus aku tahu tentang Haura. Begitupun dengan Haura. Banyak hal yang belum ia ketahui tentang diriku. Sedikit-demi sedikit kami mulai memahami karakter masing-masing.

 

Haura, perempuan cerdas yang mandiri.  Namun, di keluarganya dia tetaplah anak bungsu yang sangat manja. Kedua orang tua dan kakaknya sangat menyayanginya. Haura pun seorang anak yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya.

 

Ke mana pun ia pergi, akan selalu meminta izin dan memberi kabar pada keluarganya, terlebih pada ibunya. Aku mengenal keluarga Haura yang baik dan harmonis setelah beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Ayahnya seorang dosen dan rektor di salah satu universitas terkenal di Bandung. Beliau juga seorang  pengusaha yang memiliki banyak karyawan. Beliau orang yang baik, ramah dan berwibawa. Meski memiliki karir yang bagus beliau tetap rendah hati pada tetangga di sekelilingnya.

 

Haura juga lahir dari seorang ibu yang cerdas. Dulu beliau adalah seorang wanita karir. Ibu Ranti dulu bekerja sebagai seorang dokter. Setelah menikah dan memiliki anak, beliau memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus suami dan anak-anaknya sendiri.

 

Aku sangat setuju dengan pemikiran beliau. Untuk menjadi seorang ibu, perempuan harus memiliki bekal pendidikan yang tinggi. Seorang ibu yang cerdas dan berpendidikan akan lebih mudah dalam mendidik anak-anaknya karena ia memiliki ilmu dan wawasan yang luas.

 

Oleh karena itu, aku sangat berhati-hati dalam memilih calon istri. Karena ia akan menjadi ibu dari anak-anakku. Anak-anakku harus lahir dari ibu yang lemah lembut, cerdas, dan memiliki akhlak yang baik agar anak-anakku juga menjadi generasi yang terbaik.

 

Setelah menikah nanti, aku tetap memberikan kebebasan pada istriku untuk memilih apakah dia akan tetap berkarir sekaligus menjadi ibu rumah tangga atau tetap tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga seutuhnya.

 

Sebab, dalam agama yang aku percaya karir terbaik seorang istri memang ialah di dalam rumahnya, mengurus rumah tangganya. Namun, agamaku juga tetap memberikan kebebasan bagi perempuan untuk berkarir di luar rumah, artinya bekerja di luar rumah dengan syarat niat bekerjanya bukanlah untuk mencari nafkah. Karena sesungguhnya mencari nafkah dalam keluarga adalah tanggung jawab seorang suami sebagai kepala keluarga.

 

Suatu malam dalam sebuah makan malam bersama keluarga, bapakku pernah memberikan nasihat kepadaku, menjadi seorang imam dalam keluarga itu satu tugas yang tidak mudah. Satu beban tanggung jawab yang sangat berat yang harus dipikul oleh seorang suami.

 

Beliau juga menyampaikan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan rumah tangga dimulai dari suami. Seorang suami yang baik bisa dilihat bagaimana sikapnya terhada istri dan anaknya. Bagaimana cara dia memperlakukan istrinya? Bagaimana cara suami memenuhi kebutuhan lahi dan batin bagi istri dan anak-anaknya? Bagaimana ia dalam mendidik dan membimbing istri dan anaknya? Apakah ia bisa menjadi teladan yang baik untuk keluarganya? Sebab sebuah peradaban suatu bangsa dimulai dari ruang lingkup terkecil, yaitu keluarga.

 

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB