Novel : Bertahan di Atas Luka – Part 6 – Tanpa sadar aku tersenyum mengingat semua obrolanku dan Marisa tentang Mas Bayu. Masih membekas rasa hangat wajahku setiap kali membicarakan lelaki dengan dagu terbelah itu.
Delapan tahun lalu, ketika akhirnya Mas Bayu melamar dan minta izin kepada Mama dan Ayah untuk menikahiku tepat setahun setelah perkenalan kami.
Lo yakin mau nikah sama Bayu, Mir? tanya Marisa dengan tatapan tak percaya. Ia menghentikan suapannya menanti jawabanku.
Aku meneguk segelas air putih dingin sebelum menjawab pertanyaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mir! desak Marisa tak sabar.
Iya, sabar! Sebentar kenapa, gue masih minum, Sa! sahutku dengan mata melotot. Rasa perih air masuk ke hidung, membuat wajahku memerah.
Gadis berambut ikal di depanku tergelak.
Puas, ya, bikin orang keselak, kataku jengkel.
Sori, Sayang. Lagian lama amat minumnya. Marisa kembali menatapku, menunggu jawaban.
Kalau ditanya yakin apa nggak nikah sama Bayu, jujur, gue juga nggak tahu. Gue hanya nggak mau pacaran lama-lama. Hati kecil gue bilang, kalau Bayu cowok yang baik dan bertanggung jawab. Jangan tanya gimana gue tahu,ya? Gue udah bilang ini dari hati kecil gue.
Tapi lo kan baru kenal dia, Mir? Lo belum tahu sifat aslinya, belum tahu latar belakang keluarganya. Nanti kalau ternyata lo ngerasa nggak cocok, gimana?
Marisa ¦, gue kenal dia udah setahun. Gue rasa cukup buat tahu sifatnya. Buat gue, agamanya bagus, orang tuanya juga baik, itu udah cukup. Meskipun awalnya orang tua Bayu agak nggak setuju dia nikah sama gue, tapi akhirnya mereka ngalah.
Aku mengangkat sendok dan memasukkan suapan terakhir ke mulut, lalu mengunyah dengan nikmat. Pedasnya sambal soto membuat wajahku basah oleh keringat.
Nah, apalagi orang tuanya sempat nggak setuju. Amira, nikah itu buat seumur hidup, lo mesti ingat itu! Nikah itu bukan perkara main-main. Nggak cukup modal cinta doang. Nikah itu nyatuin dua manusia berbeda, lo udah siap? Marisa menasihatiku panjang lebar.
Jangan khawatir, Sa. Lo doain aja gue, ya? Aku menatap wajahnya dengan sayang.
Doa mah, selalu, tapi doa aja kan nggak cukup, Mir. Gue nggak mau lo nyesal karena Bayu nyakitin lo.
Aku hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran Marisa. Gue akan baik-baik aja, Sa.
Janji, ya, Mir! Kalau ada masalah, lo tahu gue di mana, ujar Marisa lembut.
Janji itu selalu kuingat. Itulah sebabnya sebelum pulang, aku menghubungi Marisa untuk menjemputku di bandara. Mama dan kedua adik kembarku sengaja tidak kuberitahu tentang kepulangan ini.
Good evening, Mam. Mau makan apa untuk makan malam? Suara pramugari bertanya dalam bahasa Inggris, mengembalikan lamunanku.
Ada pilihan apa? tanyaku sambil menurunkan meja kecil dari kursi di depanku.
We have Chicken Pasta and Briyani Rice with Chicken. Pramugari perempuan berseragam biru itu memegang dua box makanan dalam karton aluminium foil panas.
Saya pilih … Chicken Pasta aja. Sama air mineral, ya.”
Setelah memberikan nampan berisi makanan pilihanku, ia menuangkan air putih dingin di gelas plastik bening dan memberikan padaku.
Enjoy your dinner! katanya ramah sambil meneruskan pekerjaannya.
Terima kasih. Aku menjawab dan mulai menikmati satu persatu hidangan yang ada di nampan. Selain Chicken Pasta, ada roti dan mentega, salad sayuran, dan puding. Sambi makan, aku memandang gelapnya malam dari jendela pesawat. Beruntung aku duduk di dekat jendela. Kursi di sampingku kosong, sehingga aku bisa leluasa menaikkan kaki bila terasa kaku.
Sambil makan, aku kembali teringat perjalanan kehidupan pernikahanku.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






