Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 2)

- Penulis

Jumat, 30 Agustus 2024 - 17:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 2)

Pak Komisaris, saya penanggung jawab sajian ini. Mohon maaf atas kejadian ini, kata Erlita dengan suara bergetar. Barman hanya mengangguk. Sementara Ning, pramusaji penyebab insiden, membawa peralatan minum yang jatuh ke dapur. Keadaan kembali normal.

Dengan sedikit marah dan kecewa, Erlita mencari Ning. Diro, seorang pramusaji pria, memberitahu kalau Ning dipanggil pak Edi ke kantor.

Dir, kenapa bukan kamu yang membawa teko-teko minuman? Kenapa petugas perempuan yang membawa baki minuman yang berat itu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sasaya juga bawa, tapi ke meja lain, Mbak. Kebetulan Hendi hari ini absen, jadi petugas laki-laki kurang. Mbak Ning saat itu sudah selesai mengatur meja prasmanan, ikut membantu menggantikannya. Dia kan senior, jadi diminta menyajikan untuk VVIP, jelas Diro.

Kemana anak itu?

Ke kantor, Mbak. Dipanggil pak Edi.

Ada-ada saja. Bagaimana Aku harus mempertanggungjawabkannya? gerutu Erlika bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? sambungnya.

Diro menjelaskan kejadian di dapur. Setelah menaruh nampan di meja, Ning menangis. Dia ketakutan kalau sampai dipecat. Saat ini ibunya sedang sakit berat, sedang ayahnya hanya seorang tukang ojek online. Di sini mereka tidak punya saudara. Mereka pendatang dari desa Clekatakan.

Clekatakan Pulosari? Diro mengangguk, lalu meneruskan ceritanya. Marni, sesama pramusaji menanyakan penyebab dia jatuh.

Memang tadi kamu ngapain? Semua peralatan sudah wireless. Jadi nggak mungkin kamu kesandung kabel, kan?

Aku ¦ aku kesrimpung kakiku sendiri. Ini gara-gara pak Edi meminta kita pakai sepatu hak tinggi! jawabnya kesal sambil sesenggukan.

Oalah ¦ dasar anak kampung, kata beberapa chef yunior sambil tertawa geli. Erlika ikutan tersenyum geli meskipun wajahnya masih kusut.

Aku pasti dipecat! tangisnya sedih mengharu biru. Tiba-tiba pak Edi muncul.

Ning! Cepat ke kantor, kata pak Edi dengan ketus mengagetkan kami semua. 

Tangis Ning terhenti seketika. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, dingin berkeringat. Dengan wajah tunduk dan ketakutan dia mengekor pak Edi ke kantor hotel. Mendengar cerita Diro, Erlika berniat menyusul ke kantor. Baru saja Erlika beranjak untuk menyusul Ning, bu Rani memanggil dengan nada tinggi. 

Lika! Minuman dan snack di Meja VVIP belum dihidangkan! Cepat ganti yang tumpah tadi!

Baik, Bu.

Segera Erlita menyiapkan dua set teko terbaik milik hotel. Teko tempat teh dan kopi panas, tempat gula, susu dan creamer. Serta gelas kecil dari kristal untuk sendok dan garpu kecil. Snack ditempatkan di wadah kristal berikut tatakan kue dan tisu. 

Dia sendiri yang menghidangkan dibantu seorang pramusaji pria yang membawa nampan minuman dan seorang pramusaji wanita yang membawa nampan snack. Meskipun dengan sedikit gemetar, dengan cermat dia menghidangkannya di meja tempat Dirut baru itu duduk. 

Jantungnya berdegup tidak karuan saat Barman Heru Sumbogo, mantan Dirut yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama, memperhatikannya. Erlika berusaha tetap tenang agar bawaannya tidak tumpah.

Setelah semua tersaji, Erlika menawarkan minum kepada Pak Komisaris dan tamunya, lalu menuang minuman sesuai pesanannya.

Maaf pak Komisaris. Karena insiden tadi, minuman terlambat dihidangkan, kata Erlika santun.

Ndak apa-apa, namanya juga musibah, kata Barman menenangkan. Tatapan teduh pak Komisaris cukup menenangkan hati Erlika.

Huru hara sudah berlalu. Musik pengantar rehat diputar lembut mengiringi tamu udangan rehat kopi. Mereka minum sesuai pilihan masing-masing, menikmati snack, sambil ngobrol. Terdengar tawa yang agak tertahan. Di situ ada Komisaris utama.

Dengan anggun Toni masuk ruangan dari pintu utama, bersamaan dengan Erlika yang sedang menuju pintu samping ke ruang makan. Sekilas Toni menangkap raut wajah Erlika. Seperti ada dorongan entah dari mana, Erlika menoleh ke arah pintu utama. 

Langkah keduanya terhenti, saling bertatapan. Desir lembut mengusap relung hati sepasang muda mudi yang baru dipertemukan itu. Debaran jantung keduanya meningkat. Baby Cupid melepas anak panahnya.

Lika! Malah bengong! Cepet kerjain, bisa nggak pulang, Kamu! tegur Ridwan yang duduk di sebelah kirinya.

Setelah minum beberapa teguk untuk menormalkan jantung dari keterkejutan, Erlika mulai membuka berkas-berkas yang harus ditelitinya.

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rayap Datang Diam-Diam, Kenali 8 Tanda Sebelum Rumah Rusak

Bisnis

Rayap Datang Diam-Diam, Kenali 8 Tanda Sebelum Rumah Rusak

Jumat, 31 Jul 2026 - 15:40 WIB