Redaksiku.com – Trenggiling saat ini menyandang predikat sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan di dunia, melampaui popularitas gajah maupun badak dalam pusaran pasar gelap satwa liar. Meski memiliki mekanisme pertahanan diri alami yang unik dengan menggulung tubuhnya menjadi bola saat terancam, strategi tersebut justru menjadi bumerang ketika mereka berhadapan dengan pemburu manusia. Hewan nokturnal ini tidak lagi aman di habitat aslinya karena permintaan yang terus melonjak untuk konsumsi daging dan penggunaan sisik dalam praktik pengobatan tradisional yang tidak terbukti secara medis.
Kesenjangan antara fakta ilmiah dan kepercayaan masyarakat menjadi motor utama perburuan masif terhadap trenggiling. Banyak pihak di Asia Timur masih meyakini bahwa sisik trenggiling memiliki khasiat luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari masalah kulit hingga kanker, bahkan dipercaya mampu meningkatkan vitalitas. Padahal, secara medis, sisik tersebut hanyalah tumpukan protein keratin, materi yang sama persis dengan komposisi kuku dan rambut manusia. Mengonsumsi sisik trenggiling tidak memberikan dampak kesehatan apa pun, selain risiko paparan penyakit zoonosis yang mungkin terbawa oleh hewan liar tersebut.
Sejak tahun 2003, trenggiling konsisten menempati urutan pertama sebagai jenis satwa yang paling sering disita oleh aparat penegak hukum dari tangan para pelaku perdagangan ilegal di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mitos Kesehatan dan Simbol Status Sosial
Selain sisiknya, daging trenggiling juga mengalami nasib serupa karena dianggap sebagai santapan eksotis yang mewah. Di beberapa budaya, menikmati hidangan daging atau bahkan janin trenggiling bukan lagi sekadar urusan pemenuhan nutrisi, melainkan telah bergeser menjadi simbol status sosial yang tinggi. Gengsi yang dipaksakan ini menciptakan pasar gelap yang sangat menguntungkan, di mana para pemburu dan sindikat perdagangan rela menempuh segala cara untuk memenuhi permintaan pasar yang tidak masuk akal tersebut.
Dampak dari perburuan ini sangat fatal bagi kelangsungan hidup populasi trenggiling di alam liar. Karena trenggiling memiliki tingkat reproduksi yang rendah dan sangat rentan terhadap stres saat ditangkap, eksploitasi besar-besaran ini mengancam mereka menuju ambang kepunahan. Upaya konservasi sering kali terhambat oleh besarnya keuntungan finansial yang ditawarkan oleh jaringan perdagangan lintas negara, yang melibatkan rantai pasok dari Asia hingga ke Afrika.
Tidak ada bukti klinis yang mendukung klaim bahwa sisik trenggiling memiliki efek pengobatan, karena secara biologis sisik tersebut hanya terdiri dari keratin.
Dinamika Penegakan Hukum di Indonesia
Indonesia menjadi salah satu titik pantau utama dalam upaya pemberantasan perdagangan trenggiling karena kekayaan biodiversitasnya yang tinggi. Data dari Yayasan SCENTS memberikan gambaran nyata mengenai intensitas pergerakan aparat dalam menekan angka kejahatan ini. Pada tahun 2022, tercatat sebanyak 354 pelaku yang terjerat dalam 299 operasi penangkapan di seluruh wilayah nusantara. Angka ini mencerminkan betapa masifnya peredaran satwa ini di pasar gelap.
Tren penangkapan menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor di lapangan:
- Pada tahun 2023, aparat berhasil melakukan 267 operasi penangkapan dengan total 217 pelaku yang diamankan.
- Selama tiga bulan pertama tahun 2026, tercatat sudah ada 35 operasi penangkapan yang dilakukan oleh pihak berwenang.
- Upaya penegakan hukum ini terus ditingkatkan untuk memutus rantai distribusi dari pemburu di tingkat lokal hingga pengepul besar.
Masyarakat dapat membantu melindungi trenggiling dengan melaporkan aktivitas mencurigakan terkait kepemilikan atau perdagangan satwa liar kepada otoritas konservasi setempat atau kepolisian.
Perdagangan, penangkapan, dan kepemilikan trenggiling dalam kondisi apa pun merupakan tindak pidana yang diatur ketat oleh undang-undang perlindungan satwa di Indonesia.
Pertanyaan Umum
Apakah sisik trenggiling benar-benar bisa menyembuhkan kanker?
Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Sisik trenggiling tersusun dari keratin, yang secara komposisi kimiawi sama dengan kuku dan rambut manusia, sehingga tidak memiliki kandungan medis yang mampu mengobati penyakit kronis seperti kanker.
Mengapa trenggiling menjadi target utama perburuan?
Trenggiling diburu karena tingginya permintaan pasar akan sisiknya untuk bahan obat tradisional dan dagingnya yang dianggap sebagai makanan mewah atau simbol status sosial di beberapa negara Asia Timur.
Apa yang harus dilakukan jika melihat perdagangan trenggiling?
Jika Anda menemukan praktik perdagangan trenggiling, jangan mencoba melakukan tindakan sendiri. Segera catat lokasi dan detail kejadian, lalu laporkan kepada pihak berwenang seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau kantor kepolisian terdekat agar dapat ditindaklanjuti secara hukum.
Ringkasan
Sisik trenggiling tidak memiliki khasiat medis karena hanya terbuat dari keratin, sama seperti kuku dan rambut manusia. Mengonsumsi bagian tubuh hewan ini tidak memberikan manfaat kesehatan apa pun, melainkan justru mengancam populasi mereka menuju kepunahan akibat perburuan ilegal yang terus meningkat.






