Fakta Trenggiling: Bukan Obat dan Bukan Makanan Kesehatan

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 02:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seekor trenggiling yang menggulung tubuhnya menjadi bola sebagai mekanisme pertahanan diri di habitat aslinya.

Trenggiling kini menjadi mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia.

Redaksiku.com – Trenggiling saat ini menyandang predikat sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan di dunia, melampaui popularitas gajah maupun badak dalam pusaran pasar gelap satwa liar. Meski memiliki mekanisme pertahanan diri alami yang unik dengan menggulung tubuhnya menjadi bola saat terancam, strategi tersebut justru menjadi bumerang ketika mereka berhadapan dengan pemburu manusia. Hewan nokturnal ini tidak lagi aman di habitat aslinya karena permintaan yang terus melonjak untuk konsumsi daging dan penggunaan sisik dalam praktik pengobatan tradisional yang tidak terbukti secara medis.

Kesenjangan antara fakta ilmiah dan kepercayaan masyarakat menjadi motor utama perburuan masif terhadap trenggiling. Banyak pihak di Asia Timur masih meyakini bahwa sisik trenggiling memiliki khasiat luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari masalah kulit hingga kanker, bahkan dipercaya mampu meningkatkan vitalitas. Padahal, secara medis, sisik tersebut hanyalah tumpukan protein keratin, materi yang sama persis dengan komposisi kuku dan rambut manusia. Mengonsumsi sisik trenggiling tidak memberikan dampak kesehatan apa pun, selain risiko paparan penyakit zoonosis yang mungkin terbawa oleh hewan liar tersebut.

Sejak tahun 2003, trenggiling konsisten menempati urutan pertama sebagai jenis satwa yang paling sering disita oleh aparat penegak hukum dari tangan para pelaku perdagangan ilegal di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mitos Kesehatan dan Simbol Status Sosial

Selain sisiknya, daging trenggiling juga mengalami nasib serupa karena dianggap sebagai santapan eksotis yang mewah. Di beberapa budaya, menikmati hidangan daging atau bahkan janin trenggiling bukan lagi sekadar urusan pemenuhan nutrisi, melainkan telah bergeser menjadi simbol status sosial yang tinggi. Gengsi yang dipaksakan ini menciptakan pasar gelap yang sangat menguntungkan, di mana para pemburu dan sindikat perdagangan rela menempuh segala cara untuk memenuhi permintaan pasar yang tidak masuk akal tersebut.

Dampak dari perburuan ini sangat fatal bagi kelangsungan hidup populasi trenggiling di alam liar. Karena trenggiling memiliki tingkat reproduksi yang rendah dan sangat rentan terhadap stres saat ditangkap, eksploitasi besar-besaran ini mengancam mereka menuju ambang kepunahan. Upaya konservasi sering kali terhambat oleh besarnya keuntungan finansial yang ditawarkan oleh jaringan perdagangan lintas negara, yang melibatkan rantai pasok dari Asia hingga ke Afrika.

Tidak ada bukti klinis yang mendukung klaim bahwa sisik trenggiling memiliki efek pengobatan, karena secara biologis sisik tersebut hanya terdiri dari keratin.

Dinamika Penegakan Hukum di Indonesia

Indonesia menjadi salah satu titik pantau utama dalam upaya pemberantasan perdagangan trenggiling karena kekayaan biodiversitasnya yang tinggi. Data dari Yayasan SCENTS memberikan gambaran nyata mengenai intensitas pergerakan aparat dalam menekan angka kejahatan ini. Pada tahun 2022, tercatat sebanyak 354 pelaku yang terjerat dalam 299 operasi penangkapan di seluruh wilayah nusantara. Angka ini mencerminkan betapa masifnya peredaran satwa ini di pasar gelap.

Tren penangkapan menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor di lapangan:

  • Pada tahun 2023, aparat berhasil melakukan 267 operasi penangkapan dengan total 217 pelaku yang diamankan.
  • Selama tiga bulan pertama tahun 2026, tercatat sudah ada 35 operasi penangkapan yang dilakukan oleh pihak berwenang.
  • Upaya penegakan hukum ini terus ditingkatkan untuk memutus rantai distribusi dari pemburu di tingkat lokal hingga pengepul besar.

Masyarakat dapat membantu melindungi trenggiling dengan melaporkan aktivitas mencurigakan terkait kepemilikan atau perdagangan satwa liar kepada otoritas konservasi setempat atau kepolisian.

Perdagangan, penangkapan, dan kepemilikan trenggiling dalam kondisi apa pun merupakan tindak pidana yang diatur ketat oleh undang-undang perlindungan satwa di Indonesia.

Pertanyaan Umum

Apakah sisik trenggiling benar-benar bisa menyembuhkan kanker?

Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Sisik trenggiling tersusun dari keratin, yang secara komposisi kimiawi sama dengan kuku dan rambut manusia, sehingga tidak memiliki kandungan medis yang mampu mengobati penyakit kronis seperti kanker.

Mengapa trenggiling menjadi target utama perburuan?

Trenggiling diburu karena tingginya permintaan pasar akan sisiknya untuk bahan obat tradisional dan dagingnya yang dianggap sebagai makanan mewah atau simbol status sosial di beberapa negara Asia Timur.

Apa yang harus dilakukan jika melihat perdagangan trenggiling?

Jika Anda menemukan praktik perdagangan trenggiling, jangan mencoba melakukan tindakan sendiri. Segera catat lokasi dan detail kejadian, lalu laporkan kepada pihak berwenang seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau kantor kepolisian terdekat agar dapat ditindaklanjuti secara hukum.

Ringkasan

Sisik trenggiling tidak memiliki khasiat medis karena hanya terbuat dari keratin, sama seperti kuku dan rambut manusia. Mengonsumsi bagian tubuh hewan ini tidak memberikan manfaat kesehatan apa pun, melainkan justru mengancam populasi mereka menuju kepunahan akibat perburuan ilegal yang terus meningkat.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenal Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Pulau Batanta Raja Ampat
Sidang 15 Terdakwa Perdagangan Gading Gajah di Pelalawan
Warga Kudus Serahkan Burung Rangkong Peliharaan ke BKSDA Jateng
Kasus Penemuan 5 Bayi Orangutan Indonesia di Hutan India
Mengapa Tidak Ada Jembatan di Sungai Amazon Sepanjang 6.000 Km?
Fosil Ular Purba 15 Meter Ditemukan di Tambang India
Ancaman Nyata Kucing Liar yang Luput dari Perhatian Dunia
Kaitan Kasus Kukang Tersengat Listrik dengan Krisis Iklim Menurut Dokter Hewan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:40 WIB

Mengenal Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Pulau Batanta Raja Ampat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Sidang 15 Terdakwa Perdagangan Gading Gajah di Pelalawan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:37 WIB

Warga Kudus Serahkan Burung Rangkong Peliharaan ke BKSDA Jateng

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Kasus Penemuan 5 Bayi Orangutan Indonesia di Hutan India

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:24 WIB

Mengapa Tidak Ada Jembatan di Sungai Amazon Sepanjang 6.000 Km?

Berita Terbaru

Film horor found footage Infirmary karya Nicholas Pineda kini tayang di layanan streaming Shudder.

Movie Reviews

Ulasan Film Infirmary: Horor Rekaman Temuan yang Membosankan

Kamis, 8 Okt 2026 - 14:51 WIB

Aktor kawakan India Nana Patekar meninggal dunia pada usia 75 tahun akibat serangan jantung.

Shooting

Kisah Nana Patekar Raih Medali Menembak Berkat Film Prahaar

Kamis, 8 Okt 2026 - 14:49 WIB

Pasar mobil bekas menawarkan beragam pilihan kendaraan keluarga dan city car dengan harga sekitar Rp80 jutaan.

Otomotif

Pilihan Mobil Bekas Rp80 Jutaan Terbaik Oktober 2026

Kamis, 8 Okt 2026 - 14:46 WIB

Berbagai inovasi jam tangan berbahan stainless steel kini hadir di pasaran untuk menunjang penampilan formal maupun santai.

Life Style

Rekomendasi Jam Tangan Stainless Steel Terbaru 2026

Kamis, 8 Okt 2026 - 14:45 WIB

error: Content is protected !!