Kenapa kamu jadi ngungkit hal itu terus, Mas? Kamu kan sudah janji kalau setelah menikah aku masih boleh kerja? jawabku bergetar. Semuanya untuk Ibu dan kedua adikku.
Ya, tapi kamu juga harus ingat, dong! Tugas istri itu melayani suami. Masa udah siang gini belum masak juga? Mas Bayu tampak berusaha mengatur napasnya yang memburu.
Makanya kamu belum hamil juga sampai sekarang. Kamu terlalu stres dengan kerjaan kantor yang menumpuk kayak gini, sergah Mas Bayu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ya, Allah! Jahat banget kamu, Mas, seruku. Jangan bawa-bawa masalah itu. Aku belum hamil kan karena Allah belum ngasih. Memang kamu yakin semua salahku? Siapa tahu kamu yang bermasalah? Kepalang tanggung, aku terlanjur mengucapkan kata-kata yang selama ini berusaha kusimpan baik-baik.
Mas Bayu terhenyak. Ia tidak menyangka aku akan berkata seperti itu.
Kamu berani ngomong gitu ke aku? Suara Mas Bayu sedingin es.
Bukankah kamu duluan yang nyinggung soal anak? ucapku terbata-bata menahan air mata yang akan tumpah. Kamu tega nyalahin aku hanya gara-gara aku belum masak. Akhirnya jebol sudah pertahananku. Kubiarkan air mata mengalir deras di pipi.
Aku nggak nyalahin kamu, Mir! Aku hanya bilang kamu belum bisa hamil karena sibuk sama kerjaan kantor. Benar, kan aku ngomong?
Aku membisu.
Apa sebaiknya kamu mengundurkan diri aja dari kerjaan, supaya bisa konsentrasi untuk hamil, kata Mas Bayu tegas.
Bagai disambar petir aku mendengarnya.
Mataku terbelalak. Ada nyeri di ulu hati. Kucoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengilangkan rasa sesak di dada.
Kamu tega nyuruh aku berhenti kerja? tanyaku dengan suara serak.
Kenapa, nggak? Demi kebaikan rumah tangga kita. Toh, aku bisa memberikan kecukupan nafkah untukmu.
Bagaimana dengan Ibu dan dua adikku? Kamu bisa membiayai hidup mereka?
Adik-adikmu sudah dewasa, Mir. Sebentar lagi mereka kerja, punya penghasilan sendiri. Kalau hanya menanggung Ibu, aku sanggup, insyaallah.
Aku mematung. Tidak percaya rasanya harus keluar kerja. Karier adalah separuh hidupku. Tak bisa kubayangkan harus menjadi ibu rumah tangga. Sendiri di rumah, dari pagi hingga malam berkutat dengan pekerjaan yang tiada henti. Sanggupkah aku melepas semua jerih payah meniti karier selama ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku.
Mas, kamu saat ini lagi marah, jadi nggak bisa ngambil keputusan yang masuk akal. Baik, aku ngaku salah karena belum masak. Aku salah karena terlalu asyik kerja. Maafkan aku. Aku janji nggak akan bawa kerjaan ke rumah, tapi tolong, biarkan aku untuk tetap bekerja, kataku lirih sambil menyeka air mata. Aku memutuskan untuk mengaku salah supaya Mas Bayu tidak makin marah.
Lelaki terkasih itu masih diam.
Mendingan sekarang Mas mandi dan bersih-bersih, aku akan siapkan makan siang. Gimana? ucapku lembut. Kutekan rasa kesal yang masih tersisa.
Masak ayam yang kemarin aku beli. Suara Mas Bayu melunak, Kita belum selesai bicara masalah kerjaan kamu. Selesai berkata ia pun bergegas menuju kamar mandi.
Aku mengangguk, tak membantah. Namun, aku akan membujuk suamiku agar dia mengurungkan niat memintaku keluar dari pekerjaan. Kusiapkan bahan-bahan masakan lalu dengan cepat memasak makanan kesukaannya. Ayam rica-rica bumbu daun kemangi. Satu jam kemudian semua hidangan selesai. Ternyata, memasak bisa menghilangkan kesedihan karena pertengkaran kami tadi. Aku menarik napas lega. Kulihat Mas Bayu masih terlelap di sofa ruang tengah. Rupanya selesai mandi tadi ia tertidur karena kelelahan.
Perlahan kubangunkan ia untuk makan. Matanya bersinar saat melihat hidangan lezat yang tersedia di meja.
Aku sudah menebus kesalahan dengan masak cepat supaya kamu nggak telat makan siang, ujarku sambil melihat jam di nakas. Masih pukul 12.30. Mau salat Zuhur dulu baru makan, atau makan dulu baru salat?
Mas Bayu bangun dan duduk di kasur. Matanya masih terlihat sangat mengantuk. Bangunin aku setengah jam lagi, ya. Masih ngantuk banget, jawabnya sambil kembali berbaring.
Eh, salat dulu! Gimana kalau pas tidur kamu nggak bangun lagi? Belum salat Zuhur. Aku mencegahnya untuk melanjutkan tidur.
Harus ya, ngomongnya nyeremin kayak gitu? sahutnya seraya bangun dengan malas.
Aku menahan tawa dan bergegas kembali ke ruang makan.
Cepat, ya. Aku tunggu di meja makan, udah lapar juga ini.
-bersambung-
Halaman : 1 2






