Redaksiku.com – Kisah tragis motif ayah tiri bunuh Alvaro menyita perhatian publik setelah polisi mengungkap kalimat mengejutkan dalam chat pribadi sang pelaku.
Pesan digital itu menjadi bukti kunci yang menegaskan bahwa pembunuhan Alvaro bukan tindakan spontan melainkan pelampiasan dendam terhadap ibunya sendiri, Arumi.
Alvaro Kiano Nugroho, bocah enam tahun yang sempat dinyatakan hilang pada Maret 2025, ternyata menjadi sasaran kemarahan Alex Iskandar, ayah tirinya.
Setelah dibekap hingga meninggal, jasad Alvaro dibuang dengan teganya ke wilayah Tenjo, Bogor, dan ditemukan tak lagi utuh pada 23 November 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus ayah tiri yang tega bunuh Alvaro anak tirinya ini langsung viral karena menggabungkan tiga fakta kelam dendam perselingkuhan, kekerasan terhadap anak, dan kematian pelaku yang berujung bunuh diri setelah ditangkap polisi.
Motif Dendam Jadi Akar Pembunuhan
Saat polisi membuka detail kasus, terungkap bahwa motif ayah tiri bunuh Alvaro berawal dari kecurigaan Alex bahwa istrinya, Arumi, berselingkuh selama menjalani hubungan jarak jauh. Arumi bekerja di Malaysia, sementara Alex berada di Indonesia dan mengasuh Alvaro.
Kecurigaan itu berubah menjadi kemarahan yang menumpuk. Alih-alih menyelesaikan persoalan dengan istrinya, Alex justru menjadikan anak tirinya sebagai pelampiasan. Hal ini diperkuat oleh percakapan digital yang ditemukan penyidik.
Dari HP yang diamankan, pelaku menuliskan kalimat ˜gimana caranya gue balas dendam™ berulang kali, ungkap Kombes Pol Budi Hermanto.
Chat Pribadi Jadi Bukti Mengerikan
Temuan chat pribadi menjadi pengungkap paling jelas terkait motif ayah tiri bunuh Alvaro. Dalam percakapan itu, Alex berulang kali menyinggung rencana balas dendam serta kemarahan yang ditujukan kepada istrinya.
Kalimat-kalimat penuh emosi itu menunjukkan bahwa pelaku sudah menyimpan sakit hati mendalam dan berniat melukai pihak tertentu.
Sayangnya, pelampiasan itu justru diarahkan kepada Alvaro anak tiri yang tidak punya keterlibatan apa pun dalam konflik rumah tangga tersebut.
Bukti digital ini membuat konstruksi kasus semakin kuat, menegaskan bahwa pembunuhan dilakukan secara sadar, bukan karena emosi sesaat.
Bentuk Pelampiasan Penculikan dan Pembekapan
Rekonstruksi kejadian menunjukkan bagaimana motif ayah tiri bunuh Alvaro berubah menjadi tindakan keji. Alvaro diculik dari sebuah masjid di Pesanggrahan, Jaksel. Bocah itu menangis sepanjang perjalanan, namun pelaku tetap membawa korban ke sebuah lokasi tertutup.
Ketika tangis Alvaro semakin keras, Alex membekapnya hingga meninggal dunia. Tak ada upaya penyelamatan. Tak ada penyesalan. Semuanya berhenti pada satu tindakan brutal pembunuhan seorang anak yang bahkan memanggilnya ayah.
Setelah memastikan Alvaro tak bernyawa, Alex membungkus jasadnya dengan plastik hitam dan menyimpannya di garasi selama 72 jam sebelum membuangnya ke bawah Jembatan Cilalay, Tenjo.
Hilang Berbulan-bulan, Ditemukan Tak Utuh
Setelah Alvaro dilaporkan hilang sejak 6 Maret 2025, keluarga menjalani masa pencarian panjang tanpa hasil. Publik turut membantu, namun waktu terus berjalan tanpa petunjuk jelas.
Baru sembilan bulan kemudian, jasad korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Fakta ini membuat publik terpukul karena membayangkan lamanya waktu keluarga menunggu kepastian.
Temuan itu langsung mengarah ke satu titik kecurigaan terhadap orang terdekat. Tak butuh lama bagi penyidik untuk menangkap Alex dan menghubungkan semuanya dengan motif ayah tiri bunuh Alvaro.
Penangkapan Pelaku dan Runtuhnya Kebohongan yang di sampaikan
Setelah ditangkap pada 19 November 2025, Alex akhirnya mengakui perbuatannya. Ia mengungkap dendamnya, kecemburuannya, hingga alasannya memilih anak tirinya sebagai target pelampiasan.
Korban adalah anak kandung istrinya, bukan anak kandung pelaku. Itu yang membuatnya menjadi sasaran, ujar Kasat Reskrim AKBP Ardian Satrio Utomo.
Pengakuan itu membuat publik semakin marah. Bagaimana mungkin seorang dewasa menjadikan anak yang tidak punya salah apa pun sebagai korban?
Namun babak gelap kasus motif ayah tiri bunuh Alvaro ini belum berakhir.
Pelaku Bunuh Diri di Ruang Konseling Polisi
Beberapa jam setelah status tersangka ditetapkan, Alex justru mengakhiri hidupnya. Ia bunuh diri dengan cara gantung diri di ruang konseling Polres Jaksel.
Menurut keterangan polisi, tersangka memang ditempatkan di ruangan terpisah karena proses pemeriksaan medis belum selesai. Namun di tempat itulah ia mengambil keputusan tragis tersebut.
Autopsi dari RS Polri memastikan penyebab kematian adalah gantung diri, tanpa tanda kekerasan lain. Kematian pelaku menutup pintu pengadilan, tapi tidak menutup luka panjang bagi keluarga korban.
Kasus dengan motif ayah tiri bunuh Alvaro ini meninggalkan jejak luka mendalam di publik. Seorang bocah enam tahun menjadi korban balas dendam orang dewasa yang tak mampu mengendalikan emosinya.
Bukti digital berupa chat menjadi pintu pembuka kebenaran kemarahan Alex bukan hanya meledak, tetapi direncanakan, diarahkan, dan dieksekusi dengan kejam.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels






