Kampung Hias Merah Putih – Di setiap momen HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, kreativitas masyarakat Indonesia selalu bikin kagum.
Tahun ini, ada cerita seru datang dari Dusun Biyodo, Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Warga di sana sukses menyulap kampungnya jadi destinasi wisata dadakan dengan nuansa merah putih yang penuh semangat nasionalisme. Kampung hias ini nggak cuma viral di media sosial, tapi juga membawa dampak ekonomi positif buat warganya.
Lorong Merah Putih yang Bikin Takjub
Sejak awal Agustus 2025, suasana Dusun Biyodo berubah drastis. Setiap sudut jalan dipenuhi dengan dekorasi serba merah putih yang bikin mata terpesona. Lampu warna-warni menghiasi gapura, taman, dan lorong jalan, seolah menciptakan vibe lorong cahaya yang Instagramable banget.
Nggak berhenti di situ, warga juga bikin miniatur ikonik yang mencuri perhatian. Mulai dari Tugu Pahlawan, Jembatan Surabaya, hingga patung Bung Karno dan Bung Hatta ikut hadir sebagai simbol perjuangan dan penghormatan terhadap sejarah bangsa. Jadi, nggak heran kalau kampung ini langsung jadi spot favorit buat foto-foto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Simbol Toleransi yang Menguatkan Persatuan
Salah satu hal yang paling nyentuh adalah hadirnya karya megah berupa Garuda Jaya dari rotan yang dipamerkan di RT 14. Burung Garuda itu nggak sekadar hiasan, tapi simbol kerukunan dan toleransi warga yang hidup berdampingan meski berbeda keyakinan.
Ini kesepakatan warga RT 14. Burung Garuda Jaya jadi simbol kerukunan. Meski berbeda keyakinan, toleransi di sini tetap terjaga, jelas Suparlan, salah satu warga setempat.
Kebersamaan ini jadi bukti kalau semangat kemerdekaan bukan cuma soal bendera dan lomba 17-an, tapi juga tentang menjaga persatuan dalam keberagaman.
Semua Berawal dari Swadaya Warga
Keindahan kampung hias ini nggak lepas dari kerja keras dan gotong royong warga Dusun Biyodo. Sejak Juli, mereka mulai menabung bersama demi mewujudkan konsep kampung impian.
Menurut Kepala Dusun Biyodo, Kohar Abdullah, semua biaya berasal dari swadaya masyarakat. Setiap keluarga rela menyisihkan Rp40 ribu sampai Rp50 ribu setiap minggu. Dalam sebulan, satu kepala keluarga bisa mengeluarkan sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Biaya tiap RT pun bervariasi, antara Rp10 juta sampai Rp25 juta, tergantung konsep yang dipilih. Kalau ditotal, biaya keseluruhan mencapai Rp200 juta. Nominal yang nggak kecil, tapi hasilnya bener-bener memuaskan.
Dari Kerja Keras Jadi Wisata Populer
Kerja keras warga akhirnya terbayar. Malam hari, kampung ini dipenuhi ribuan pengunjung, bukan cuma dari Gresik, tapi juga dari Surabaya, Sidoarjo, sampai Lamongan. Mereka datang buat jalan-jalan, foto-foto, dan merasakan vibes kemerdekaan yang kental banget.
Bahkan, suasana malam di kampung ini terasa eksotis dengan sorotan lampu warna-warni yang bikin tiap sudut terlihat fotogenik. Wajar kalau tempat ini viral di media sosial karena emang aesthetic banget buat konten.
UMKM Ikut Kebanjiran Rezeki
Viralnya Dusun Biyodo ternyata membawa berkah tersendiri bagi UMKM lokal. Para pedagang diberikan ruang khusus buat berjualan di area kampung hias. Mulai dari jajanan tradisional, minuman segar, sampai makanan kekinian, semua laris manis diborong pengunjung.
Sementara itu, pengunjung yang datang cukup membayar parkir dengan harga terjangkau, Rp5 ribu untuk motor dan Rp10 ribu untuk mobil. Aturan lain yang diterapkan adalah pedagang dari luar kampung tidak diizinkan berjualan, biar UMKM lokal bisa merasakan dampak ekonominya secara maksimal.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






