Redaksiku.com – Kondisi sosial dan penegakan hukum di tanah Papua kembali menjadi sorotan melalui karya sastra terbaru yang menyoroti berbagai persoalan agraria, lingkungan, serta ancaman terhadap kebebasan sipil. Suara kritis tersebut dituangkan dalam bentuk karya sastra oleh Pastor Yanuarius Dou, Pr, atau yang lebih akrab disapa Romo Yance Dou, seorang pemuka agama dan penggiat keadilan sosial yang aktif menuliskan realitas di wilayah timur Indonesia.
Melalui karya puisinya yang berjudul Ratapan Surga yang Dikapling, ia menggambarkan bagaimana wilayah Papua mengalami tekanan akibat eksploitasi sumber daya alam yang masif. Tulisan tersebut merekam berbagai persoalan mulai dari pertambangan, perambahan hutan, hingga alih fungsi lahan yang dinilai berdampak langsung pada kehidupan masyarakat adat setempat.
Dalam karya tersebut, disoroti pula berbagai proyek skala besar dan aktivitas korporasi yang beroperasi di wilayah timur Indonesia. Dinamika pengelolaan kekayaan alam ini sering kali memicu konflik tenurial serta meminggirkan warga lokal dari ruang hidup yang telah mereka warisi secara turun-temurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karya-karya sastra dan refleksi sosial ini menyoroti kompleksitas persoalan hak atas tanah adat serta perlindungan bagi para pembela HAM di Papua.
Selain menyoroti isu lingkungan dan penguasaan lahan, refleksi lain dari penulis yang sama juga mengangkat teror yang kerap dialami oleh para pejuang kemanusiaan dan jurnalis. Melalui puisi bertajuk Api di Rumah Keadilan: Melawan Teror, Merawat Asa, digambarkan bagaimana insiden kekerasan dan ancaman terhadap institusi penegak hukum serta kantor media lokal menciderai upaya pencarian kebenaran.
Peristiwa pelemparan bom molotov dan teror terhadap lembaga bantuan hukum serta kantor media independen menjadi latar belakang keresahan yang dituangkan dalam bait-bait puisi tersebut. Situasi ini mencerminkan tantangan berat yang dihadapi oleh para jurnalis, aktivis, dan lembaga pengawas independen dalam menjalankan tugas pengawasan publik di daerah.
Latar belakang penulisan karya-karya ini berakar dari situasi sosial di Papua yang melibatkan dinamika ribuan hektar lahan dan berbagai peristiwa intimidasi terhadap institusi penggiat keadilan hingga tahun 2026.
Latar Belakang Penulis Romo Yance Dou
Sosok di balik karya-karya reflektif ini memiliki rekam jejak panjang dalam bidang pendidikan teologi dan pelayanan pastoral di wilayah Papua. Romo Yance Dou lahir di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, pada tanggal 5 September 1980.
Perjalanan pendidikannya ditempuh melalui lembaga pendidikan tinggi keagamaan di dalam maupun luar negeri. Berikut adalah rekam jejak pendidikan dan pelayanan rohani beliau:
- Menempuh pendidikan sarjana hingga strata dua di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Jayapura.
- Meraih gelar lanjutan bidang teologi moral dan spiritual dari Universitas Navarra Pamplona di Spanyol.
- Menjalankan tugas pelayanan sebagai pastor paroki serta pembina rohani di berbagai wilayah kegembalaan.
- Memegang tanggung jawab sebagai Direktur Spiritual Tahun Orientasi Rohani Regio Papua selama kurun waktu tertentu.
- Menjabat sebagai Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura sejak tahun 2025.
Melalui latar belakang keagamaan dan pengalaman pastoral yang mendalam, karya-karya yang dihasilkan tidak hanya sekadar ungkapan kekecewaan estetis, melainkan bentuk gugatan moral terhadap kebijakan pembangunan yang dinilai mengabaikan aspek kemanusiaan dan keadilan ekologis di tanah Papua.
Pertanyaan Umum
Siapa penulis puisi Ratapan Surga yang Dikapling dan Api di Rumah Keadilan?
Karya-karya tersebut ditulis oleh Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, yang lebih dikenal sebagai Romo Yance Dou, seorang rohaniawan dan pimpinan di lingkungan Keuskupan Jayapura.
Apa isu utama yang diangkat dalam karya sastra tersebut?
Tulisan tersebut menyoroti masalah eksploitasi sumber daya alam, alih fungsi hutan, perlindungan hak masyarakat adat di Papua, serta kecaman terhadap berbagai bentuk teror yang menimpa aktivis dan jurnalis.
Kapan karya-karya tersebut dipublikasikan?
Catatan dan karya reflektif tersebut bertanggal 10 September 2026, mencerminkan situasi aktual yang terjadi di Jayapura pada masa tersebut.
Ringkasan
Puisi “Api di Rumah Keadilan” karya Romo Yance Dou adalah sebuah karya sastra yang menyoroti krisis sosial, eksploitasi agraria, dan berbagai ancaman teror terhadap pembela HAM serta jurnalis di Papua.
Karya ini lahir dari keprihatinan mendalam atas konflik tenurial, alih fungsi lahan hutan, serta intimidasi terhadap lembaga hukum dan media independen di wilayah timur Indonesia.






