Masjid Istiqlal tidak hanya dikenal sebagai ikon spiritual Indonesia, tetapi juga memiliki potensi besar dalam sektor ekonomi kreatif.
Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) tengah mengembangkan inovasi baru dengan menjadikan Masjid Istiqlal sebagai pusat ekonomi kreatif dan destinasi wisata religi.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf/Wakabekraf), Irene Umar, mengungkapkan rencana ini sebagai bagian dari strategi untuk mengoptimalkan potensi Masjid Istiqlal agar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dengan menggandeng konten kreator dan komunitas ekonomi kreatif, diharapkan kunjungan wisatawan ke masjid ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kolaborasi Ekonomi Kreatif dan Wisata Religi

Peningkatan ekonomi kreatif berbasis wisata religi menjadi salah satu fokus utama Kemenekraf dalam mengembangkan Masjid Istiqlal.
Menurut Wamenekraf Irene, kunjungan wisatawan ke masjid tidak hanya sekadar melihat arsitektur megah atau beribadah, tetapi juga dapat menjadi ajang eksplorasi budaya dan kreativitas.
“Kita bisa membawa komunitas kreatif ke sini secara berkala dengan topik yang berbeda-beda. Banyak orang berpikir wisatawan hanya datang untuk melihat, tetapi sebenarnya ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Kita perlu memperkuat pemasaran agar wisatawan tahu apa saja yang dapat mereka eksplorasi di sini,” ujar Irene.
Dalam mendukung inisiatif ini, Kemenekraf berencana menghadirkan berbagai program kolaborasi, seperti:
Pameran dan bazar ekonomi kreatif yang menampilkan produk lokal, kuliner halal, serta kerajinan tangan berbasis budaya Islam.
Workshop dan pelatihan bagi komunitas kreatif untuk mengembangkan usaha mereka melalui platform digital.
Program wisata edukatif yang menggabungkan sejarah Masjid Istiqlal dengan inovasi teknologi digital seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).
Dukungan dari Kementerian Agama dan Pemerintah
Inisiatif ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Agama (Kemenag). Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Masjid Istiqlal memiliki lahan yang luas dan berpotensi menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif.
“Kami membuka kesempatan bagi Kemenekraf untuk berkolaborasi dalam memanfaatkan beberapa area di Masjid Istiqlal yang luasnya mencapai dua hektare. Dengan begitu, kita bisa menciptakan lebih banyak peluang bagi industri kreatif,” ujar Nasaruddin.
Dengan kolaborasi antara Kemenekraf dan Kemenag, diharapkan Masjid Istiqlal dapat menjadi model pengembangan ekonomi kreatif berbasis tempat ibadah di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan penguatan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Potensi Besar untuk Ekonomi Masyarakat
Masjid Istiqlal yang terletak di jantung ibu kota memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan lebih dari 2 juta pengunjung per tahun, masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata religi terpopuler di Asia Tenggara.
Jika program ini terealisasi, dampak positif yang diharapkan antara lain:
Peningkatan pendapatan bagi pelaku ekonomi kreatif, seperti pengrajin batik islami, pengusaha kuliner halal, dan produsen suvenir religi.
Lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar yang terlibat dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Peningkatan daya saing produk lokal melalui pemasaran di platform digital dan event internasional.
Selain itu, digitalisasi juga akan menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi kreatif di Masjid Istiqlal. Kemenekraf menargetkan adanya aplikasi atau platform khusus yang menghubungkan wisatawan dengan produk ekonomi kreatif yang tersedia di area masjid.
Masa Depan Masjid Istiqlal sebagai Pusat Kreativitas
Transformasi Masjid Istiqlal menjadi pusat ekonomi kreatif bukan hanya sekadar rencana, tetapi langkah nyata untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Dengan menggabungkan unsur religi, budaya, dan kreativitas, masjid ini dapat menjadi contoh bagaimana tempat ibadah bisa berperan lebih besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dukungan pemerintah, komunitas kreatif, dan masyarakat luas akan menjadi faktor utama keberhasilan proyek ini.
Jika terlaksana dengan baik, Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi tempat ibadah terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga pusat inovasi ekonomi kreatif yang mampu mengangkat citra Indonesia di tingkat global.
Dengan inovasi ini, diharapkan Masjid Istiqlal dapat menjadi simbol harmonisasi antara spiritualitas, seni, dan ekonomi kreatif, yang memberi manfaat besar bagi seluruh masyarakat. (*)
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






