Catatan Dahlan Iskan: Memahami Konsep Desil dalam Ekonomi

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 03:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Dahlan Iskan — Ilustrasi grafik ekonomi dan simbol angka desil yang mewakili klasifikasi kekayaan masyarakat

Dahlan Iskan mengulas perspektif baru dalam memahami konsep desil pada klasifikasi ekonomi.

Redaksiku.com – Perdebatan mengenai klasifikasi ekonomi, seperti sistem desil, sering kali terjebak pada pakem formal yang kaku. Padahal, cara kita memandang angka-angka tersebut bisa sangat subjektif dan bergantung pada perspektif yang ingin dibangun. Saya pribadi lebih nyaman membalik logika umum, di mana desil satu ditempatkan untuk golongan terkaya dan desil sepuluh untuk mereka yang berada di akar rumput. Pendekatan ini terasa lebih asosiatif, mengingat satu persen penduduk sering kali menguasai kekayaan dalam jumlah yang masif, persis seperti kasta tertinggi yang secara tradisional ditempatkan di posisi pertama.

Namun, dinamika penulisan terkadang harus bersinggungan dengan respons pembaca. Dalam kolom saya sebelumnya, redaksi memilih untuk menyesuaikan alur dengan standar yang lebih umum dipahami. Menariknya, interaksi dengan para pembaca setia, atau yang kerap disebut sebagai “perusuh Disway”, justru menunjukkan bahwa mereka memiliki daya kritis yang tajam. Mereka tidak sekadar menelan mentah-mentah pandangan pemerintah, bahkan tidak segan mengkritik tulisan saya sendiri jika dirasa perlu.

Diskusi Serius dalam Muktamar Perusuh

Kritisisme tersebut mencapai puncaknya pada acara “Muktamar Perusuh” yang digelar bulan lalu. Pertemuan itu bukanlah ajang basa-basi, melainkan forum yang sangat serius. Setiap agenda yang dibahas didahului dengan pendaftaran yang ketat agar pembicaraan tidak melebar ke mana-mana. Peserta diwajibkan menyampaikan poin bahasan mereka secara padat, hanya dalam satu atau dua kalimat saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sela-sela agenda berat, saya sempat mengusulkan topik yang cukup teknis namun personal: bagaimana cara melakukan pruning atau pemangkasan pentil durian. Pohon durian di DIC Farm sedang berbunga sangat lebat, namun pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa membiarkan semua pentil tumbuh justru kontraproduktif. Dari ratusan bunga, hanya sedikit yang bertahan hingga matang, dan itu pun kualitasnya tidak optimal karena pohon kelelahan menopang beban yang terlalu banyak.

Pohon durian tersebut menghasilkan ratusan pentil, namun tahun lalu hanya 15 yang sempat menjadi buah sebelum akhirnya rontok dan menyisakan tiga buah saja yang berhasil matang.

Meskipun saya tahu secara teori bahwa membuang sebagian pentil adalah kunci agar buah yang tersisa tumbuh besar dan berkualitas, saya selalu merasa tidak tega. Ada keraguan psikologis saat harus merontokkan calon buah yang tampak segar. Akhirnya, dalam muktamar tersebut, muncul relawan dari kalangan perusuh yang bersedia melakukan tugas “berat” ini. Mereka lebih objektif dalam memilih mana pentil yang layak dipertahankan dan mana yang harus dikorbankan demi kesehatan pohon secara keseluruhan.

Tantangan Besar Koperasi di Indonesia

Selain urusan durian, muktamar tersebut membedah isu-isu makro yang lebih kompleks, seperti koperasi, kebijakan pengusaha, single data nasional, dan kondisi ekonomi terkini. Diskusi mengenai koperasi menjadi yang paling menyita perhatian. Banyak yang berpendapat bahwa koperasi adalah tulang punggung ekonomi yang ideal, namun praktiknya di lapangan sangat menantang.

Salah satu peserta dari Lumajang berbagi pengalaman suksesnya dalam membangun koperasi tani. Kuncinya terletak pada kemauan untuk terjun langsung dan menggerakkan massa. Namun, tantangan terbesarnya adalah regenerasi dan pencarian sosok penggerak yang memiliki totalitas. Kita tidak hanya butuh satu atau dua penggerak, melainkan ribuan orang yang mampu memimpin koperasi di berbagai sektor secara profesional.

Pemerintah sering kali dianggap kurang mampu menjadi motor utama dalam pembentukan koperasi yang organik dan berkelanjutan. Contoh kesuksesan seperti Koperasi Keling Kumang di Kalimantan Barat dengan skala aset mencapai triliunan rupiah adalah bukti bahwa koperasi bisa berjaya. Sayangnya, keberhasilan semacam itu masih bersifat sporadis dan belum menjadi fenomena ekonomi nasional yang merata.

Koperasi Keling Kumang di Kalimantan Barat menjadi salah satu contoh langka keberhasilan koperasi suku Dayak dengan skala aset mencapai tiga triliun rupiah.

Sering kali, koperasi yang sempat besar justru layu sebelum berkembang akibat intervensi politik atau hilangnya fokus dari pengurus utamanya. Pengalaman masa lalu dengan Koperasi Unit Desa (KUD) era Orde Baru menjadi pengingat bahwa upaya yang dipaksakan dari atas (top-down) sering kali tidak memiliki ketahanan jangka panjang. Saat ini, harapan banyak pihak seolah tertumpu pada Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai upaya serius untuk mengimplementasikan pasal 33 UUD 1945.

Pentingnya Kurikulum Koperasi yang Sebenarnya

Menanggapi kebuntuan dalam gerakan koperasi, Dr. Agus Pakpahan, Rektor Universitas Koperasi Indonesia, memberikan pandangan yang sangat fundamental. Beliau berpendapat bahwa hingga saat ini kita belum memiliki kurikulum koperasi yang benar-benar substansial. Apa yang diajarkan selama ini di bangku sekolah sering kali tidak menyentuh esensi dari ilmu koperasi itu sendiri.

Jika KDMP yang saat ini menjadi taruhan besar pemerintah ternyata belum mampu memberikan hasil yang diharapkan, maka langkah selanjutnya adalah kembali ke pendidikan dasar. Kita perlu menyusun silabus yang komprehensif, mulai dari tingkat TK hingga universitas, untuk menanamkan pemahaman tentang sistem ekonomi koperasi. Ini adalah investasi jangka panjang yang mungkin membutuhkan waktu setidaknya 25 tahun untuk membuahkan hasil nyata.

Membangun koperasi yang sehat tidak bisa instan; diperlukan pemahaman mendalam tentang ilmu koperasi melalui kurikulum pendidikan yang tepat agar masyarakat benar-benar mengerti esensi gotong royong ekonomi.

Pertemuan muktamar tersebut diakui oleh salah satu peserta senior, Sujatmiko, sebagai salah satu diskusi terbaik yang pernah ia ikuti. Fokus dan kedisiplinan para peserta dalam menyampaikan gagasan tanpa terjebak pada retorika kosong membuktikan bahwa ruang diskusi yang sehat masih sangat mungkin tercipta. Bagi saya sendiri, pelajaran dari muktamar dan pohon durian tersebut serupa: terkadang kita harus berani memangkas hal-hal yang tidak perlu agar sesuatu yang lebih besar dan berharga bisa tumbuh dengan sempurna.

Pertanyaan Umum

Apakah memangkas pentil durian benar-benar efektif untuk hasil panen?

Secara agronomis, pemangkasan pentil sangat dianjurkan agar pohon tidak kelebihan beban. Dengan menyisakan jumlah yang ideal, nutrisi pohon akan terfokus pada buah yang tersisa, sehingga ukurannya menjadi lebih besar dan kualitasnya lebih terjaga.

Mengapa gerakan koperasi di Indonesia sering kali sulit berkelanjutan?

Kesulitan utama sering terletak pada kurangnya penggerak yang memiliki totalitas, serta ketergantungan pada model yang dipaksakan dari atas. Tanpa kurikulum pendidikan yang kuat dan kemandirian pengurus, koperasi cenderung mudah goyah oleh kepentingan politik atau manajemen yang tidak profesional.

Apa maksud dari istilah “perusuh Disway” dalam konteks ini?

Istilah ini merujuk pada komunitas pembaca setia yang aktif memberikan komentar, kritik, dan masukan terhadap tulisan-tulisan di Disway. Mereka dianggap sebagai mitra diskusi yang kritis dan mampu memberikan perspektif yang beragam dalam setiap isu yang diangkat.

Catatan Dahlan Iskan: Serius Nonsense

Ringkasan

Konsep desil dalam ekonomi sering digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan pendapatan. Selain itu, artikel ini menyoroti pentingnya regenerasi penggerak koperasi dan perlunya kurikulum pendidikan koperasi yang matang untuk membangun ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kodim 0812/Lamongan Evaluasi dan Petakan Pendampingan KDKMP
Arus Peti Kemas TPS Agustus 2026 Tembus 128 Ribu TEUs

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 04:30 WIB

Kodim 0812/Lamongan Evaluasi dan Petakan Pendampingan KDKMP

Rabu, 9 September 2026 - 03:50 WIB

Catatan Dahlan Iskan: Memahami Konsep Desil dalam Ekonomi

Rabu, 9 September 2026 - 03:31 WIB

Arus Peti Kemas TPS Agustus 2026 Tembus 128 Ribu TEUs

Berita Terbaru