Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tiba-tiba menjadi sorotan publik usai pernyataannya yang dianggap menyindir gaya kepemimpinan salah satu tokoh Jawa Barat viral di media sosial.
Dalam sebuah forum resmi, Luthfi menyinggung tentang pemimpin daerah yang selalu membawa media saat turun ke lapangan, seolah setiap gerak-geriknya harus dikawal kamera.
Ia menilai gaya semacam itu justru tidak efektif dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, bahkan terkesan pencitraan semata dibanding upaya konkret.
Meski tidak menyebut nama secara langsung, publik segera mengaitkan sindiran itu dengan Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta yang kini dikenal aktif sebagai Gubernur Jawa Barat dan figur publik populer di media sosial, terutama TikTok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ungkapan Luthfi yang beredar dalam bentuk video klip singkat itu pun mengundang komentar tajam dari warganet.
Banyak yang menilai kritik tersebut bersifat personal dan menyudutkan, mengingat Dedi Mulyadi memang dikenal sering mendokumentasikan kegiatannya saat membantu warga miskin, menyapa masyarakat desa, hingga menanggapi laporan warga secara langsung.
Namun, alih-alih merespons dengan emosional, Dedi memilih menanggapi dengan gaya khasnya: santai, halus, dan tetap menyelipkan pesan tegas melalui video TikTok.
Gaya Responsif Dedi Mulyadi dan Balasan Satir yang Ramah

Dalam video berdurasi sekitar satu menit yang ia unggah di akun TikTok pribadinya, Dedi Mulyadi menanggapi sindiran tersebut dengan kalimat satir namun tetap sopan.
Buat wargi Jabar dan seluruh warga net, mohon maaf yah kalau Kang Dedi jadi gubernur hanya bisa menyelesaikan satu masalah setiap hari, ucapnya dengan nada kalem.
Pernyataan tersebut seolah menyindir balik Ahmad Luthfi yang sebelumnya menyindir efektivitas pemimpin yang tampil di media.
Dedi menegaskan bahwa meski hanya satu masalah yang bisa ditangani setiap hari, setidaknya dia tahu masalah itu dan berusaha menyelesaikannya secara langsung.
Tapi nggak apa-apa kan? Daripada Kang Dedi jadi gubernur gak ngerti masalah, ujarnya dengan ekspresi yang tetap ramah namun menyimpan makna mendalam.
Respons tersebut menuai banyak pujian dari para pengikutnya.
Mereka menilai Dedi tidak hanya mampu mengontrol emosi saat dikritik, tetapi juga mampu membalikkan situasi tanpa harus melukai perasaan lawan.
Gaya komunikasinya yang membumi, lugas, dan menyentuh langsung ke akar masalah masyarakat membuat banyak orang merasa dekat dengannya.
Tak sedikit pula yang menyebut bahwa justru kehadiran media saat ia bekerja menjadi bukti transparansi, bukan sekadar ajang pencitraan.
Siapa Ahmad Luthfi, Gubernur Jawa Tengah Saat Ini?
Ahmad Luthfi sendiri bukan tokoh baru di dunia pemerintahan maupun keamanan.
Ia adalah purnawirawan Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Jenderal (Komjen).
Kariernya di institusi kepolisian terbilang moncer dan stabil, terutama di wilayah Jawa Tengah.
Luthfi memulai karier melalui jalur Sekolah Perwira Militer Sukarela bidang intelijen keamanan dan melanjutkan ke jenjang Sekolah Lanjutan Perwira.
Ia juga merupakan lulusan SESPIM Polri tahun 2005 dan sempat menimba ilmu di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada 2017.
Berbagai jabatan penting pernah diembannya, mulai dari Kapolres di beberapa daerah, Wakapolresta Surakarta, Wadir Intelkam Polda Jateng, hingga puncaknya menjadi Kapolda Jawa Tengah.
Sebelum menjabat sebagai gubernur, ia juga dipercaya sebagai Inspektur Jenderal di Kementerian Perdagangan.
Dengan latar belakang yang kuat di bidang hukum dan keamanan, gaya kepemimpinan Luthfi cenderung bersifat teknokratis dan sistematis.
Ahmad Luthfi mengedepankan pendekatan birokratis dalam menyelesaikan persoalan daerah dan tampak lebih berhati-hati dalam menjaga citra.
Konflik Gaya Kepemimpinan: Media atau Aksi?
Sindiran Ahmad Luthfi terhadap gaya kepemimpinan yang membawa media sebenarnya mencerminkan benturan dua pendekatan dalam membangun citra pemimpin publik.
Di satu sisi, pendekatan formal-birokratis seperti yang diusung Luthfi menekankan efisiensi dan struktur kerja yang minim ekspos.
Sementara di sisi lain, pendekatan populis-partisipatif ala Dedi Mulyadi justru menjadikan media sebagai sarana keterlibatan publik dan kontrol sosial.
Dedi Mulyadi memang tidak bisa dilepaskan dari imej sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat kecil.
Lewat akun media sosialnya, ia mendokumentasikan proses-proses kecil namun nyata: dari memperbaiki rumah warga miskin, memberi bantuan langsung, sampai menjemput keluhan masyarakat secara spontan.
Bagi sebagian kalangan, ini bisa dianggap sebagai ajang pencitraan.
Namun bagi pendukungnya, itu adalah bentuk keterbukaan dan akuntabilitas.
Terlebih di era digital seperti saat ini, masyarakat justru menuntut keterbukaan dan informasi yang mudah diakses mengenai kerja para pejabat publik.
Kesimpulan: Gaya Boleh Beda, Tujuan Tetap Sama
Perselisihan halus antara Ahmad Luthfi dan Dedi Mulyadi menjadi potret kecil dari dinamika demokrasi lokal di Indonesia.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






