Redaksiku.com – TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi sorotan setelah kebakaran besar melanda kawasan tempat pemrosesan akhir sampah tersebut.
Hingga laporan terbaru pada awal Juli 2026, api belum sepenuhnya padam dan proses penanganan masih dilakukan oleh tim gabungan.
Kebakaran TPA Jatiwaringin berdampak luas karena menimbulkan asap tebal, mengganggu aktivitas warga sekitar, serta membuat ratusan orang harus mengungsi. Pemerintah Kabupaten Tangerang juga menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran di lokasi tersebut selama dua pekan, mulai 1 hingga 14 Juli 2026.
TPA Jatiwaringin Terbakar dan Jadi Perhatian Nasional
1. Kebakaran belum sepenuhnya padam
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebakaran TPA Jatiwaringin belum sepenuhnya padam meski proses pemadaman sudah berlangsung berhari-hari. BNPB mencatat, hingga Minggu, 5 Juli 2026, area yang berhasil dipadamkan baru sekitar 40 persen, sementara sisanya masih terus ditangani melalui jalur darat dan udara.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran di area TPA tidak mudah dikendalikan. Sampah yang menumpuk, titik api di bagian dalam timbunan, serta potensi gas mudah terbakar membuat pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang.
Karena itu, petugas tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan dan penguraian titik panas agar api tidak kembali muncul.
2. Ratusan warga harus mengungsi
Dampak kebakaran TPA Jatiwaringin terasa langsung oleh warga sekitar. Detik melaporkan sebanyak 232 orang harus mengungsi akibat kebakaran yang belum padam hingga hari keenam.
Asap tebal menjadi salah satu alasan utama warga harus menjauh dari lokasi. Dalam kebakaran TPA, asap tidak hanya mengganggu pandangan, tetapi juga bisa berdampak pada pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang memiliki riwayat penyakit.
Situasi ini membuat penanganan pengungsi menjadi bagian penting dari respons darurat. Selain memadamkan api, pemerintah juga perlu memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi.
3. Area terdampak dilaporkan mencapai 15 hektare
Kebakaran TPA Jatiwaringin dilaporkan meluas hingga sekitar 15 hektare. Detik menyebut luas area terdampak api mencapai angka tersebut pada hari kelima pemadaman.
Luasnya area yang terbakar membuat pemadaman semakin sulit. Petugas harus membagi fokus ke banyak titik, sementara angin dan kondisi timbunan sampah dapat membuat api menjalar ke area lain.
Dalam kondisi seperti ini, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Pemadaman dari darat, alat berat, penyekatan area, hingga water bombing perlu dilakukan secara bersamaan.

4. Status tanggap darurat berlaku hingga 14 Juli 2026
Pemerintah Kabupaten Tangerang menetapkan status tanggap darurat kebakaran TPA Jatiwaringin selama 14 hari, mulai 1 sampai 14 Juli 2026. Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyatakan status tersebut diterapkan untuk mengoptimalkan penanganan oleh tim gabungan.
Status tanggap darurat penting karena memungkinkan koordinasi penanganan dilakukan lebih cepat. Pemerintah daerah dapat mengerahkan personel, peralatan, logistik, serta dukungan lintas instansi dengan lebih terarah.
Selain itu, status darurat juga menjadi sinyal bahwa kebakaran ini bukan kejadian kecil. Dampaknya sudah menyentuh aspek lingkungan, kesehatan warga, keselamatan petugas, dan layanan pengelolaan sampah.
5. Helikopter water bombing dikerahkan
Penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin juga dilakukan melalui operasi udara. BNPB mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.
Detik melaporkan jumlah helikopter water bombing ditambah karena pemadaman baru mencapai sekitar 40 persen.
Water bombing menjadi penting karena area TPA memiliki medan yang sulit. Tidak semua titik api bisa dijangkau mobil pemadam, terutama jika berada di tengah tumpukan sampah atau area yang berisiko bagi petugas.
6. Asap kebakaran memicu gangguan kesehatan
Kebakaran TPA Jatiwaringin juga berdampak pada kesehatan warga. Detik melaporkan ratusan warga mengalami ISPA akibat asap dari kebakaran di area TPA.
Dampak kesehatan seperti ini perlu menjadi perhatian serius. Asap dari tumpukan sampah yang terbakar bisa mengandung partikel halus dan bau menyengat yang mengganggu saluran pernapasan.
Warga di sekitar lokasi sebaiknya menggunakan masker, menghindari aktivitas luar ruangan jika asap masih pekat, serta segera memeriksakan diri jika mengalami sesak napas, batuk berat, mata perih, atau pusing.
7. Tata kelola sampah kembali disorot
Kebakaran TPA Jatiwaringin membuat isu tata kelola sampah kembali menjadi perhatian. Walhi menilai kebakaran TPA Jatiwaringin sebagai akumulasi kegagalan tata kelola, termasuk perlunya penanganan timbunan sampah dengan cara yang lebih tepat untuk memutus suplai oksigen dan menekan pelepasan gas metana.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa persoalan TPA bukan hanya soal memadamkan api. Setelah kebakaran berhasil dikendalikan, pemerintah tetap perlu mengevaluasi sistem pengelolaan sampah, kapasitas TPA, pemilahan sampah, pengurangan sampah dari sumber, hingga metode penutupan timbunan.
Tanpa perbaikan jangka panjang, risiko kebakaran serupa bisa kembali terjadi, terutama saat musim panas, timbunan gas meningkat, atau pengawasan area TPA tidak optimal.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






