Proyeksi Target IHSG Akhir 2026 di Tengah Koreksi Pasar

- Penulis

Minggu, 6 September 2026 - 16:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di tengah proyeksi target IHSG akhir 2026

Sejumlah perusahaan sekuritas memproyeksikan target IHSG akhir 2026 berada pada rentang 7.000 hingga 8.100.

Redaksiku.com – Sejumlah perusahaan sekuritas masih memproyeksikan adanya peluang pemulihan bagi pasar saham Indonesia hingga penghujung tahun 2026, terlepas dari tekanan yang masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang tahun berjalan. Proyeksi yang dipasang oleh para analis pun cukup beragam, dengan rentang target yang berkisar antara level 7.000 hingga mencapai 8.100 dalam skenario paling optimistis.

Pada akhir pekan perdagangan Jumat, IHSG tercatat ditutup di zona merah dengan pelemahan tipis 0,47 persen ke posisi 6.636,475. Kondisi tersebut membuat pergerakan indeks secara year to date masih mengalami koreksi sekitar 23,25 persen.

Tekanan jual dari investor asing turut menjadi salah satu faktor penekan utama di pasar domestik. Hingga awal September 2026, tercatat aksi net sell asing telah mencapai angka Rp 68,05 triliun atau setara dengan kisaran US$ 3,85 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pandangan Optimis dari PT Kiwoom Sekuritas Indonesia

Meskipun sentimen pasar secara keseluruhan masih diliputi berbagai tantangan, PT Kiwoom Sekuritas Indonesia memilih untuk tetap mempertahankan target level IHSG di kisaran 7.250 hingga 7.700 sampai akhir tahun nanti. Keputusan tersebut didasari oleh keyakinan bahwa fundamental ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang cukup solid.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menjelaskan bahwa koreksi tajam yang terjadi lebih diakibatkan oleh dinamika arus dana serta sentimen pasar global, alih-alih penurunan kinerja fundamental ekonomi nasional.

“Kami memilih tidak menurunkan target karena menilai koreksi tajam sepanjang tahun lebih banyak digerakkan oleh arus dana dan sentimen, bukan pelemahan fundamental,” ujar Audi.

Pertumbuhan ekonomi domestik yang terjaga di kisaran 5,29 persen pada kuartal II-2026 memberikan keyakinan tambahan bagi sekuritas ini untuk mempertahankan proyeksi pasar saham.

Proyeksi Konservatif hingga Moderat oleh Mirae Asset dan RHB

Pendapat yang relatif serupa juga disampaikan oleh PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang mematok target dasar IHSG pada level 6.800. Dalam pandangan mereka, pergerakan pasar dalam beberapa pekan terakhir mulai memperlihatkan tanda-tanda yang jauh lebih konstruktif.

Chief Economist Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, mengungkapkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah serta kembalinya aksi akumulasi oleh investor asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sinyal positif yang meredakan risiko penurunan.

Di sisi lain, RHB Sekuritas Indonesia menetapkan target dasar di level 7.300 dengan memperhitungkan valuasi pasar yang dinilai masih cukup menarik bagi para investor jangka panjang.

Head Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menyatakan bahwa posisi valuasi saat ini berada jauh di bawah rata-rata historis lima tahunan, sehingga masih menyisakan ruang yang cukup lebar bagi potensi ekspansi valuasi.

Valuasi IHSG yang berada di kisaran 10 hingga 11 kali proyeksi laba tahun 2026 dinilai masih sangat atraktif untuk menarik minat pelaku pasar kembali masuk.

Sikap Hati-Hati dari J.P. Morgan Sekuritas

Berbeda dari kebanyakan sekuritas lokal yang cenderung mempertahankan target mereka, J.P. Morgan Sekuritas mengambil langkah penyesuaian yang lebih konservatif dengan memangkas proyeksi akhir tahun menjadi 7.000.

Keputusan tersebut mencerminkan kehati-hatian pihak analis terhadap potensi perlambatan momentum pertumbuhan laba emiten pada semester kedua tahun ini, serta tingginya tingkat imbal hasil obligasi global yang masih menekan pasar keuangan berkembang.

Pilihan Sektor dan Saham Unggulan Analis

Menghadapi dinamika pasar yang penuh tantangan ini, para analis merekomendasikan investor untuk tetap berfokus pada emiten berfundamental kuat yang mayoritas berasal dari sektor perbankan pelat merah, telekomunikasi, serta komoditas pilihan.

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pilihan utama di sektor perbankan besar.
  • Sektor telekomunikasi dan aneka industri turut diisi oleh saham-saham unggulan seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).
  • Emiten komoditas pertambangan dan energi seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga masuk dalam radar rekomendasi sekuritas.

Pertanyaan Umum

Apakah IHSG masih berpeluang pulih pada akhir 2026?

Sebagian besar sekuritas masih meyakini adanya potensi pemulihan dengan target indeks beragam antara 7.000 hingga 8.100, didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang solid.

Faktor apa saja yang memengaruhi pergerakan pasar saham saat ini?

Arah pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh arus modal asing, stabilitas nilai tukar rupiah, hasil evaluasi indeks global seperti MSCI, serta kebijakan suku bunga bank sentral.

Sektor apa saja yang paling diunggulkan oleh sekuritas?

Sektor perbankan berkapitalisasi besar, telekomunikasi, serta sejumlah emiten di sektor energi dan pertambangan tetap menjadi pilihan utama para analis.

Ringkasan

Sejumlah perusahaan sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang pulih di akhir tahun 2026 dengan target antara 7.000 hingga 8.100, meskipun saat ini masih tertekan oleh aksi jual investor asing dan koreksi pasar.

Di tengah tantangan global, analis menilai fundamental ekonomi domestik dan pertumbuhan PDB yang terjaga di kisaran 5,29 persen masih solid. Para investor direkomendasikan untuk berfokus pada emiten berfundamental kuat, khususnya dari sektor perbankan besar, telekomunikasi, serta komoditas pilihan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Lelang Beras Bulog Turun Mutu Jadi Bahan Tepung
NAB Reksadana Naik Tipis dan Net Redemption Rp 8,5 Triliun Agustus 2026
Saham Pilihan Saat Asing Masuk Kembali ke Pasar Bursa
Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi US$146,5 Miliar pada Agustus 2026
Kemenkeu Usulkan Pagu Anggaran Rp49,8 Triliun untuk 2027
BEI Tetapkan TOBA Sebagai Green Equity Transition Pertama di Indonesia
Saham BUMI Melejit 6,67% Usai Akuisisi Perusahaan Australia
Panduan Pajak Dividen: Aturan dan Cara Hitung Terbaru

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 16:23 WIB

Pemerintah Lelang Beras Bulog Turun Mutu Jadi Bahan Tepung

Senin, 7 September 2026 - 16:22 WIB

NAB Reksadana Naik Tipis dan Net Redemption Rp 8,5 Triliun Agustus 2026

Senin, 7 September 2026 - 16:21 WIB

Saham Pilihan Saat Asing Masuk Kembali ke Pasar Bursa

Senin, 7 September 2026 - 14:30 WIB

Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi US$146,5 Miliar pada Agustus 2026

Senin, 7 September 2026 - 14:23 WIB

Kemenkeu Usulkan Pagu Anggaran Rp49,8 Triliun untuk 2027

Berita Terbaru

Pemerintah melelang beras Bulog yang mengalami penurunan mutu untuk dijadikan bahan baku tepung.

Keuangan

Pemerintah Lelang Beras Bulog Turun Mutu Jadi Bahan Tepung

Senin, 7 Sep 2026 - 16:23 WIB

Investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia, membuka peluang bagi saham berkapitalisasi besar.

Keuangan

Saham Pilihan Saat Asing Masuk Kembali ke Pasar Bursa

Senin, 7 Sep 2026 - 16:21 WIB