Bab. 6 Menolak Perasaan Seseorang
Terlihat Amora yang baru saja memasuki ruang kamarnya dan dirinya langsung membersihkan diri, setelah itu dia lanjut menyelesaikan tugas kuliahnya seraya memakan buah-buahan serta jus di balkon kamarnya.
Setelah selesai, tepatnya dipukul 4 sore. Amora pun memutuskan untuk lanjut membuat kontrak nikah untuknya dan Daren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keesokan harinya Amora dan Daren kembali bertemu di sebuah cafe setelah Amora menyelesaikan kelasnya dan Daren menyelesaikan meetingnya di cafe yang sama.
Amora memberikan sebuah berkas yang sudah ada perjanjian serta kontrak yang telah dirinya buat semalam, dia pun memberikan berkas itu kepada Daren.
“Lo baca dulu, kalau ada yang kurang bilang, biar gue tambahin” ucap Amora.
Daren pun mengambil berkas itu dan membacanya dengan seksama, “Udah, saya setuju. Jadi deal kan kamu nerima perjodohan itu?” tanya Daren.
“Yaa, gue mau.”
Di sore harinya terlihat Amora yang berjalan di koridor rumahnya yang ada di lantai 2, dia berjalan dari kamarnya menuju sebuah ruangan berpintu coklat dengan beberapa ornamen emas.
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk aja ngga dikunci.”
Amora pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan bernuansa hitam dan emas itu, terlihat sangat simpel namun mewah.
“Pa, aku mau ngomong” ucap Amora seraya berjalan menuju Darpa yang saat itu duduk di kursi kerjanya.
“Ngomong aja, Mora. Papa bakal dengerin semuanya” jawab Darpa yang langsung menghentikan aktivitasnya.
Setelah sampai di dekat Papanya, Amora pun duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Papanya itu, “Aku setuju sama perjodohan itu, Pa” ucapnya.
Mendengar kabar itu membuat Darpa langsung memunculkan senyum sabitnya, “Beneran, Ra?”
Amora menganggukkan kepalanya seraya menghela nafasnya, “Iya, Pa.”
“Oke-oke, nanti Papa bilang ke keluarganya Om Nata, terus nanti kita tentuin bareng-bareng hari pernikahan kalian” ujar Darpa yang terpaksa dijawab senyuman oleh Amora.
Di malam harinya, tepatnya di hari Sabtu malam Minggu terlihat kedua keluarga antara keluarga Akraryan dan Sapphire yang kembali bertemu setelah persetujuan antara kedua belah pihak.
Saat itu terlihat Amora yang hanya diam seraya mendengarkan pembicaraan Darpa dan Nata yang tengah merencanakan hari baik untuk pernikahannya dan Daren.
Dan di malam itu juga, Amora dan Daren melangsungkan acara pertunangan yang hanya disaksikan oleh keluarga mereka. Sedangkan pernikahan mereka akan diselenggarakan 1 minggu kemudian, tepatnya pada hari minggu jam 11 siang di salah satu hotel mewah yang ada di kota besar itu.
Keesokan harinya di hari minggu terlihat Amora yang tengah duduk sendirian di salah satu restoran yang ada di sebuah mall mewah.
Setelah beberapa menit menunggu kehadiran seseorang, akhirnya orang itupun datang, dia adalah Marvell, “Sumpah maaf, Ra. Tadi macet banget” ucap Marvell yang lalu duduk di kursi yang ada di depan Amora.
“Iya ngga papa, Vel. Aku juga baru nunggu beberapa menit kok” jawab Amora dengan senyum tipisnya.
“Kamu udah pesan makanannya?” tanya Marvell.
Amora menganggukkan kepalanya, “Udah, habis ini dianterin kayaknya” jawabnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






