Aba, Uma, Fa™al pamit dulu, ya. Tadi sudah ada janji ketemu seseorang, ujar Fa™al setelah menghabiskan makanannya dan melihat piring sang istri yang sudah kosong tanpa makanan. Meski baru jam 9 kurang ia buru-buru berangkat.
Lho, kenapa buru-buru pergi? tanya Amirah yang sedari tadi menyuapi putranya yang masih ngambek.
Iya, Kak. Fa™al ada perlu sama istri, jawab Fa™al sembari tersenyum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Uma Aminah dan Kiai Muflih tidak banyak bertanya. Mereka hanya mengangguk sembari tersenyum. Fa™al dan Shima segera keluar setelah pamit dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Ia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan sepanik itu karena harus ketahuan oleh sang kakak. Bukan tidak mau terbuka dengan keluarga yang lainnya hanya saja, ia belum siap dengan reaksi keluarganya.
Fa™al dan Shima berjalan menuju mobil. Setelah masuk dan Fa™al menyalakan mesin, mobil itu melaju keluar area pondok pesantren. Selama di perjalanan tidak ada yang bersuara, Fa™al sibuk dengan pikirannya sendiri.
Shima memainkan ujung jilbabnya. Ia pun tidak berani bertanya ketika mimik wajah suaminya mode serius. Pria itu fokus menatap jalan. Sesekali terdengar mendesis ketika ada motor yang menyalipnya tanpa memerhatikan sekitar atau ada angkot yang tiba-tiba menepi dengan bebas di pinggir jalan untuk menaikan atau menurunkan penumpang.
Setelah 30 menit perjalanan, mobil menepi di area parkir yang luas. Fa™al tidak mengambil jalur umum ia mengambil jalur khusus sehingga padatnya area parkir tidak ia rasakan. Seorang tukang parkir membantunya memarkirkan mobil lalu memberi Fa™al kartu parkir. Terima kasih, ucap Fa™al ketika menerima kartu itu.
Shima dan Fa™al berjalan ke area loby rumah sakit. Saat masuk, mereka merasakan ruang resepsionis yang rapi dan nyaman. Mereka disambut resepsionis dengan ramah. Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu? tanyanya dengan ramah.
Selamat pagi. Saya mau betemu dengan dokter Maryam. Kami sudah membuat janji, jawab Fa™al sembari menggenggam tangan istrinya.
Baik, boleh saya tahu nama dan waktu janji temunya?
Saya, Fa™al Hasam Ismam. Janji temu saya pukul 10.40 pagi hari ini,
Terima kasih, Pak. Saya cek dulu sebentar, ya. Setelah mengatakan itu, ia langsung melihat komputer untuk memeriksa jadwal dokter Maryam.
Betul, Pak. Anda sudah memiliki janji dengan dokter Maryam, tapi ini masih Pukul 10 kurang. Apa tidak akan terlalu lama Anda menunggu, Pak? Soalnya dokter Maryam sedang ada pasien, resepsionis itu berkata dengan raut khawatir.
Tidak apa-apa, Mbak. Boleh kami menunggu di ruangan dokter Maryam? tanya Fa™al.
Mas, kenapa kita nggak jalan-jalan dulu? Di luar banyak yang menjual makanan, ujar Shima yang pasti bosan menunggu selama itu. Padahal siomay, batagor dan dimsum sudah terbayang di depan mata.
Mau beli apa? Kita pesan saja nanti, ya, ujar Fa™al tersenyum menatap Shima.
Shima pun menurut karena di sini dirinyalah yang memerlukan pemeriksaan. Ia merespon ucapan suaminya hanya dengan anggukan pelan. Setelah resepsionis mengonfirmasi ke ruang praktek dokter Maryam, Shima dan Fa™al pun di arahkan ke lantai 8. Di sana ada nama ruangan vaginal center. Dokter Maryam salah satu penggagas vaginal center Indonesia. Ia juga seorang dokter yang menangani pasien bukan hanya warga dari dalam negeri saja tapi, dari luar negeri juga, seperti Malaysia, Thailand, Australia, Singapura, Cina, jepang Switzerland, Jerman, Inggris dan Belanda.
Setelah di beritahu nama dokternya, Fa™al segera mencari tahu siapa dokter Maryam. Ternyata beliau seorang dokter yang sangat berpengalaman dalam menangani pengidap vaginismus. Rencananya setelah konsultasi dengan dokter dan tahu ada di tingkat berapa penyakit vaginismus Shima, Fa™al akan berdiskusi mengenai langkah apa yang harus, ia lakukan untuk kesembuhan istrinya.
Fa™al bernapas lega. Ia tidak khawatir lagi akan bertemu kakaknya karena sudah berada di ruang tunggu dokter Maryam. Mas, sudah banyak tahu tentang kenapa Adek selalu sakit ketika kita akan ¦, tanya Shima menggantung karena rasanya begitu malu untuk mengatakan kegiatan Rajang di depan umum walaupun tidak ada orang lain.
Hanya sedikit. Nanti kita diskusikan masalah ini dengan dokter, ya. Fa™al menggenggam tangan istrinya sembari menatap wajah lembut nan meneduhkan Shima. Semuanya akan baik-baik saja, imbuhnya tersenyum.
Amin, terima kasih, Mas. Shima membalas erat genggaman tangan suaminya sembari tersenyum juga. Ada ketenangan dalam hatinya ketika menatap sang suami, bahkan sampai tidak sadar kalau pasien Dokter Maryam sudah keluar mungkin karena tidak melewati mereka yang sedang saling tatap.
Suara deheman mengagetkan, Shima. Seketika ia melepaskan tangan suaminya. Ehem ¦, dengan Bapak Fa™al Hasam Ismam? panggilnya setelah mengatur suara dengan deheman.
Eh, maaf, Sus, ujar Shima tersyum malu, bahkan mendunduk.
Fa™al segera menjawab yang membuat suster menatap bergantian antara dirinya dan sang istri. Tadi, Fa™al tidak mendaftarkan pasien atas nama istrinya untung di ruang resesionis tidak banyak di tanya-tanya. Suster pun langsung mengajak masuk ke ruang dokter Maryam.
Selamat pagi, Ustaz Fa™al. Kata rekan sejawat saya bakal ada ustaz dan istrinya konsultasi, ternyata Anda, anak bungsunya Kiai Muflih, ya? ujar Doketr Maryam menyambut dengan ramah. Silakan-silakan ¦ duduk-duduk, ustaz dan siapa nama istrinya? tanya Dokter Maryam dengan ramah.
Selamat pagi juga, Dok. Iya, Dok saya anak bungsunya beliau, jawab Fa™al tersenyum, sedikit canggung karena ia tidak begitu mengenal siapa Dokter Maryam. Nama istri saya, Shima, Dok, sambungnya sembari melihat ke sampingnya di mana Shima duduk. Shima tersenyum mengangguk.
Kami ke sini mau konsultasi mengenai istri saya yang sering kesakitan ketika kami akan berhubungan suami istri, ujar Fa™al dengan serius.
Baik, terima kasih sudah datang dan berbicara tentang hal ini. Mbak Shima, bisa menjelaskan lebih lanjut tentang rasa sakit yang Anda rasakan? Setelah mendengar cerita dari Fa™al Dokter Maryam langsung meminta Shima menjelaskan rasa sakit yanag dialaminya.
Iya, Dok. Setiap kali kami menccoba berhubungan suami istri, saya merasa tegang, dan ketika mencoba penetrasi, rasanya sangat sakit seperti ada yang menahan. Kadang-kadang saya merasa takut karena kami mencoba hampir dua minggu, bahkan suatu malam saya menendang suami saya saking sakitnya. Setelah menceritakan itu, Shima langsung mendunduk karena malu, bahkan telapak tangannya samapai berkeringat.
Saya mengerti. Apa yang Anda rasakan bisa jadi tanda dari suatu kondisi yang disebut vaginismus. Ini adalah kondisi di mana otot-otot di sekitar area vagina berkontraksi secara tidak sadar, saat Aanda mencoba penetrasi yang bisa menyebabkan rasa sakit. Dokter Maryam menjelaskan kondisi Shima dengan tenang sembari menatap reaksi Shima setelah itu kemudian ia berkata lagi, tidak perlu khawatir, Mbak. Ini adalah kondisi yang bisa diatasi dengan perawatan yang tepat.
Apakah sakit itu akan hilang, ketika kami akan melakukan itu? Shima bertanya dengan suara pelan, tetapi masih terdengar oleh Dokter Maryam.
Tentu. Namun, harus melewati serangkaian terapi. Langkah pertama adalah melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan tidak ada masalah lain yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Setelah itu, kita mulai dengan terapi, yang melibatkan kombinasi antar terapi fisik, latihan relaksasi dan konseling untuk membantu mengatasi faktor emosional. Saya juga akan memberikan beberapa informasi dan latihan di rumah untuk membantu. Dokter Maryam menjelaskan dengan tenang. Fa™al pun menyahut untuk bertanya, apakah saya juga harus ikut dalam terapi ini, Dok?
Tentu, peran Anda sangat penting dalam mendukung kesembuhan istri. Terapi pasangan sering kali sangat membantu karena komunikasi dan dukungan dari pasangan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi, papar Dokter Maryam.
Masih ada harapan untuk bisa mejadi perempuan normal. Melayani suami, memiliki anak dan hidup bahagia. Semoga bisa berjalan sesuai rencana, batin Shima penuh harap. Hidupnya yang selama dua minggu lalu seperti awan kelabu kini mulai terlihat cerah.
Mau langsung ke langkah awal? Kita pemeriksaan fisik dulu? tanya Dokter Maryam memastikan, sayang jika hanya konsultasi bukan sekalian pemeriksaan.
Tentu, Dok. Lebih cepat pemeriksaan lebih baik, jawab Fa™al dengan antusias seakan dirinya yang akan melakukan pemeriksaan.
Halaman : 1 2






