Udah deh, nggak usah mulai. Aku cemberut, masih dengan wajah merona.
Aku mengikuti langkah Mas Bayu menuju tempat parkir. Cuaca sejuk langsung terasa saat kami keluar dari bandara. Meskipun siang hari dan matahari bersinar terik, tetapi hawa dingin masih terasa menggigit. Kami segera masuk ke mobil setelah Mas Bayu menyimpan koperku di bagasi. Tak lama kemudian sedan Toyota Camry putih milik kami melaju membelah kota Riyadh.
Satu jam kemudian Mas Bayu menghentikan mobil di depan sebuah bangunan bertingkat tiga yang mewah. Bangunan putih dengan bentuk segiempat serupa apartemen, tapi hanya memiliki tiga lantai itu kelak akan menjadi tempat kami bernaung beberapa tahun ke depan. Di bagian depan rumah tertutup gerbang yang menjulang tinggi, dengan dua buah pintu masuk. Aku turun dan menatap bangunan di depanku. Inilah yang akan menjadi rumahku di masa-masa yang akan datang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ayo masuk! Jangan bengong gitu, ajak Mas Bayu melihatku terpaku di depan rumah. Ia lalu mendorong kedua koperku dan membuka pintu gerbang.
Aku melangkah masuk dan terpana melihat situasi di dalam, tidak menyangka kalau di balik gerbang tinggi itu ada sebuah halaman kecil di depan dengan dua pintu masuk ke rumah. Satu pintu rumah kami, satu lagi menuju tetangga. Menurut Mas Bayu, tetangga kami juga orang Indonesia. Lantai dua dihuni oleh orang Saudi dan lantai tiga ada dua keluarga dari Afrika. Untuk menuju lantai atas, ada tangga yang terletak di depan gedung dengan pintu gerbang berbeda.
Jadi, bisa dikatakan, rumah kami nyaman karena tidak bercampur dengan orang lain.
Mas Bayu membuka pintu ruang tamu dan meletakkan koper-koperku di samping sofa rendah yang mengelilingi ruangan. Menurutnya sofa ini adalah ciri khas Saudi. Rendah menyentuh lantai dan mengelilingi ruangan.
Aku meneruskan langkah menuju kamar tidur utama. Kamar kami terlihat sangat nyaman dengan tempat tidur besar di tengah dan diapit dua nakas. Satu lemari besar menjulang hingga ke langit-langit kamar. Lantai marmer putih bersih dan dinding yang juga putih membuat kamar terasa lebih luas. Aku segera berjalan menuju tempat tidur besar yang ditutup seprei hijau muda dan bedcover hijau tua bermotif bunga.
Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga ke sini, ya Mas. Aku memandang Mas Bayu yang sedang berganti baju.
Ia balas memandangku dengan mesra.
Mau istirahat dulu atau cari makan? tanyanya dan duduk di sampingku.
Rasa penasaran ingin melihat-lihat kota ini membuat rasa lelahku hilang.
Yuk, cari makan aja. Kamu nggak balik ke kantor, kan?
Mas Bayu menggeleng.
Aku khusus izin karena mau jemput istri tercinta. Jadi, satu hari ini kita bisa jalan-jalan lihat kota Riyadh atau ngelepas kangen di tempat tidur. Mas Bayu menggodaku.
Wajahku terasa memanas dengan detak jantung yang semakin kencang. ˜Kenapa sih ini, kami kan bukan pengantin baru, ngapain coba jadi berdebar nggak karuan kayak gini,™ batinku. Aku salah tingkah, apalagi Mas Bayu ternyata masih menatapku dengan penuh kerinduan.
Akhirnya kami tidak jadi mencari makan, tetapi menuntaskan rasa rindu yang menggebu. Rindu yang terpendam selama setahun kami berpisah. Setelah itu aku dan Mas Bayu masih bermalas-malasan di tempat tidur sambil bercerita tentang segala hal. Aku merasa sangat bahagia. Selesai salat Magrib, kami keluar untuk mencari makan malam.
Riyadh di waktu malam, penuh dengan kerlap kerlip lampu yang menerangi jalan. Tidak seperti di Jakarta, di sana setiap toko selalu terang benderang karena cahaya lampu. Kami melaju di jalan yang luas dan halus dengan pemandangan pohon kurma sebagai pembatas jalan. Sebelum makan, kami mencari masjid untuk salat Isya. Selama musim dingin, malam menjadi lebih panjang, sehingga waktu salat menjadi lebih awal. Salat Isya bisa jam 18.00 sore, padahal biasanya kalau musim panas azan Isya hampir jam 20.00.
Keuntungan hidup di negara Islam, kami mudah menemukan masjid untuk salat berjamaah. Uniknya lagi, setiap waktu salat, semua toko, mall, dan pasar akan tutup. Kegiatan berhenti sejenak untuk menunaikan kewajiban umat Islam itu. Selesai salat mereka baru buka kembali.
Kami makan malam di sebuah restoran Saudi. Mas Bayu mengenalkan berbagai makanan asli Timur Tengah kepadaku. Dari mulai swarma, nasi biryani, nasi bukhori, salatah, dan masih banyak lagi. Malam itu kami seperti pengantin baru. Mas Bayu juga mengajakku untuk belanja bahan makanan dan keperluan sehari-hari. Menjelang tengah malam, kami baru pulang.
Mir! Kamu belum tidur? Suara Ibu memutus lamunanku.
Aku pun kembali ke dunia nyata, setelah puas mengingat kenangan manis saat pertama tiba di Riyadh.
-bersambung-
Halaman : 1 2






