Aksi Jual Doa yang Ikut Disorot
Dalam waktu bersamaan dengan video lamanya yang kembali muncul, cuplikan baru ustaz Yusuf Mansur juga beredar luas. Dalam tayangan live, ia tampak menjanjikan doa khusus bagi pengikut yang berdonasi sejumlah uang tertentu.
Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp20 juta, dengan fasilitas doa istimewa bagi penyumbang besar.
Belum ada yang Rp10 juta ini? Saya Fatihahin khusus nih, Bismillah, ucapnya dalam video yang kini tersebar di berbagai platform. Pernyataan itu memicu gelombang kritik dari publik yang menilai dakwahnya sudah terlalu komersial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Klarifikasi Ustaz Yusuf Mansur
Menanggapi tudingan soal praktik jual doa, ustaz Yusuf Mansur kemudian buka suara lewat siaran langsungnya. Ia mengatakan bahwa semuanya hanyalah bentuk candaan dan eksperimen sosial untuk melihat reaksi publik.
Itu cuma bercanda, lagi ngetes aja, ujarnya.
Menurutnya, ia hanya ingin mengajak orang berdonasi sambil berdoa bersama. Namun, publik keburu menilai negatif sebelum memahami konteksnya.
Sayangnya, penjelasan tersebut justru menambah polemik karena sebagian orang menganggap candaan itu terlalu jauh bagi seorang tokoh agama.
Netizen Antara Lucu dan Miris
Beragam reaksi pun membanjiri komentar di platform media sosial. Ada yang menilai ustaz Yusuf Mansur hanya sedang mencari sensasi, tapi tak sedikit pula yang menanggapinya dengan tawa dan candaan.
Beli YouTube? Setelah itu mau beli Google, terus dunia? tulis salah satu komentar yang disertai emoji tertawa.
Namun, sebagian netizen menilai hal ini menunjukkan betapa publik sudah jenuh dengan pernyataan-pernyataan kontroversial dari figur publik yang seharusnya lebih menyejukkan. Kalau mau jadi presiden, mulai dulu dari logika sehat, ujar akun lainnya.
Fenomena ustaz Yusuf Mansur kembali membuktikan bahwa media sosial punya daya ledak luar biasa satu pernyataan kecil bisa memunculkan badai komentar.
Dari wacana jadi Presiden hingga klaim ingin membeli YouTube, publik seakan dihadapkan pada realitas antara hiburan dan keresahan.
Di sisi lain, momen ini juga memperlihatkan bahwa batas antara dakwah dan drama semakin tipis di dunia digital. Mungkin bagi Yusuf Mansur itu hanya bentuk ekspresi, tapi bagi publik, ucapannya sudah menjadi bahan refleksi dan lelucon nasional.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels
Halaman : 1 2






