Redaksiku.com – Pertandingan pembuka musim NFL di Melbourne, Australia, yang mempertemukan San Francisco 49ers dan Los Angeles Rams, diwarnai oleh momen yang memicu perdebatan di luar lapangan. Sebelum peluit pertama dibunyikan di Melbourne Cricket Ground, liga memberikan panggung kepada Aunty Joy Wandin Murphy, seorang tetua Wurundjeri dari Kulin Alliance, untuk melakukan upacara tradisional Welcome to Country. Namun, apa yang seharusnya menjadi sambutan ramah bagi tim tamu dan penonton internasional berubah menjadi pidato yang menyoroti kepemilikan lahan historis, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai bentuk retorika politik yang tidak relevan dengan semangat pertandingan olahraga.
Aunty Joy merupakan sosok yang dihormati di kalangan pemerintah Australia dan sering dilibatkan dalam berbagai acara resmi di Melbourne untuk memberikan penghormatan kepada penduduk asli. Dalam konteks budaya Australia, praktik ini bertujuan untuk mengakui penduduk asli sebagai penjaga tradisional tanah tersebut sebelum pemukiman kolonial. Meski demikian, kehadiran ritual ini dalam siaran langsung NFL yang ditonton jutaan orang di Amerika Serikat menimbulkan pertanyaan mengenai batasan antara penghormatan budaya dan penyampaian pesan ideologis yang bersifat konfrontatif.
Momen ini berlangsung tepat sebelum peringatan hari peringatan 25 tahun tragedi 9/11 yang digelar di stadion tersebut, menciptakan kontras suasana yang sangat tajam bagi para penonton di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kritik utama muncul ketika Aunty Joy menyampaikan narasi mengenai tanah yang ia sebut telah dihuni selama 60.000 tahun oleh penduduk asli. Baginya, pidato tersebut bukan sekadar sambutan, melainkan pengingat bahwa tanah tempat stadion berdiri bukanlah milik warga kulit putih Australia. Bagi banyak penonton yang terbiasa dengan hiburan olahraga murni, penyisipan wacana mengenai “tanah curian” di tengah seremoni pembukaan NFL terasa seperti kuliah sejarah yang dipaksakan daripada sebuah penyambutan yang inklusif.
Ketegangan semakin terasa ketika Aunty Joy melakukan kesalahan teknis dalam pidatonya. Saat berupaya menyapa kedua tim yang bertanding, ia justru menyebut “Los Angeles Char-Rams,” sebuah kekeliruan yang mencampurkan nama Los Angeles Chargers dengan Los Angeles Rams. Kesalahan ini, dikombinasikan dengan nada pidato yang bernada menyindir, membuat sebagian penonton merasa bahwa liga telah kehilangan fokus pada tujuan utamanya, yakni menyajikan pertandingan sepak bola Amerika yang kompetitif di pasar internasional.
Penggunaan istilah “Naarm” sebagai nama asli Melbourne dalam pidato tersebut menegaskan upaya untuk mengganti narasi kolonial dengan identitas penduduk asli yang kini semakin masif dilakukan di Australia.
Dalam ritual yang ia sebut sebagai simbol perdamaian, Aunty Joy memetik daun dari tanaman yang tampak layu dan menawarkannya sebagai gestur simbolis. Ia menyatakan bahwa menerima daun tersebut berarti tamu diterima untuk menikmati segala sesuatu mulai dari puncak pohon hingga akar bumi. Namun, bagi pengamat, ritual paganistik ini terasa asing di tengah gemuruh stadion yang dipenuhi oleh penggemar olahraga yang menantikan aksi para pemain di lapangan.
Kehadiran seremoni ini dalam ajang NFL menunjukkan bagaimana organisasi olahraga besar saat ini sering kali terjebak dalam arus politik identitas global. Meskipun niatnya mungkin untuk menunjukkan keberagaman, eksekusinya justru menciptakan gesekan dengan audiens yang merasa bahwa ruang olahraga harusnya netral dari agenda politik yang memecah belah. Persoalan kepemilikan tanah di Australia memang merupakan isu sensitif, namun membawa perdebatan tersebut ke dalam siaran NFL yang bersifat global dianggap sebagai langkah yang kurang bijaksana oleh banyak pihak.
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada kebijakan nyata dari pihak berwenang untuk mengembalikan lahan tersebut kepada penduduk asli, sehingga banyak yang menilai pidato ini hanya bersifat performatif.
Pada akhirnya, publikasi ini menyoroti diskoneksi antara manajemen liga dengan ekspektasi penggemar. Ketika tim-tim harus terbang selama 16 jam untuk bertanding di belahan dunia lain, perhatian seharusnya terpusat pada strategi permainan dan rivalitas antar divisi. Alih-alih mendapatkan sambutan yang murni tentang persahabatan antarnegara, penonton justru disuguhi narasi yang memicu perdebatan mengenai siapa yang berhak atas tanah tersebut, sebuah topik yang mungkin lebih relevan jika didiskusikan di ruang akademik daripada di tengah lapangan hijau.
Pertanyaan Umum
Mengapa NFL mengizinkan pidato tersebut dalam seremoni pembukaan?
NFL tampaknya berupaya menyesuaikan diri dengan protokol budaya lokal di Australia, di mana pengakuan terhadap penduduk asli (Welcome to Country) telah menjadi standar dalam banyak acara resmi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi setempat.
Siapa sebenarnya Aunty Joy Wandin Murphy?
Aunty Joy adalah seorang tetua dari komunitas Wurundjeri Woiwurrung, suku asli yang mendiami wilayah Melbourne. Ia dikenal luas sebagai tokoh adat yang sering diminta untuk memimpin seremoni pembukaan di berbagai acara kenegaraan dan internasional di Australia.
Apakah pidato ini memengaruhi jalannya pertandingan?
Secara teknis, pidato tersebut tidak memengaruhi durasi pertandingan, namun secara psikologis, hal ini menciptakan suasana yang kurang nyaman bagi sebagian penonton yang merasa pesan tersebut bersifat politis dan tidak relevan dengan konteks pertandingan olahraga NFL.
Ringkasan
Upacara Welcome to Country oleh Aunty Joy Wandin Murphy sebelum laga NFL di Melbourne memicu perdebatan karena dianggap menyisipkan narasi politik mengenai hak atas tanah ke dalam acara olahraga. Ritual ini dinilai sebagian penonton tidak relevan dan memecah fokus dari pertandingan.






