Redaksiku.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan di tanah Papua kini memasuki babak baru melalui penerapan teknologi pertanian modern di Kabupaten Keerom. Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Febriel Buyung Sikumbang bersama Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri secara langsung meninjau progres cetak sawah di Kampung Woselay, Distrik Senggi, pada Senin (7/9).
Kunjungan strategis ini menjadi penanda keseriusan pemerintah dan TNI dalam mengubah wajah pertanian tradisional di Papua menjadi model usaha tani yang lebih produktif. Lokasi di Kampung Woselay dipilih sebagai percontohan karena memiliki potensi lahan yang luas dan strategis untuk dikembangkan dengan dukungan sistem pertanian terkini.
Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, menjelaskan bahwa kehadiran pimpinan daerah dan militer di lapangan bukan sekadar seremoni. Ini adalah bentuk nyata sinergi lintas sektor untuk memastikan lahan yang telah dibuka dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Menuju Pertanian Modern
Salah satu fokus utama dalam pengembangan lahan di Kampung Woselay adalah penerapan sistem advanced agriculture system. Pemerintah menargetkan lahan seluas 50 hektare sebagai pilot project penerapan model pertanian yang memanfaatkan teknologi presisi.
Penerapan teknologi pertanian modern ini ditargetkan mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan, dari rata-rata 4 hingga 5 ton menjadi sekitar 10 ton per hektare.
Penggunaan drone untuk pemantauan lahan dan alat tanam Tabela (Tanam Benih Langsung) menjadi instrumen kunci dalam efisiensi pengelolaan. Dengan teknologi ini, diharapkan produktivitas petani lokal dapat terangkat sekaligus memangkas biaya operasional yang selama ini menjadi kendala di wilayah terpencil.
Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjamin bahwa seluruh program pembangunan sawah dan inisiatif strategis nasional tidak akan mengalihkan kepemilikan tanah adat kepada pihak lain.
Aspirasi Masyarakat dan Keberlanjutan
Dalam pertemuan dengan para pejabat, masyarakat Kampung Woselay yang diwakili oleh Ondo Senggi, Dance Demotou, menyampaikan sejumlah harapan krusial. Selain dukungan fisik berupa pupuk, benih, dan perbaikan irigasi, masyarakat menekankan pentingnya perlindungan terhadap hak-hak ulayat.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Papua menegaskan bahwa status kepemilikan tanah tetap berada di tangan suku dan marga setempat. Peran pemerintah dan TNI di sini adalah sebagai pendamping dan fasilitator dalam penyediaan sarana produksi serta transfer ilmu pengetahuan.
Masyarakat adat diharapkan menjadi pelaku utama dalam pengelolaan lahan, sementara tenaga ahli dari luar dapat berperan dalam memberikan pendampingan teknis dan pelatihan keterampilan bagi para petani lokal.
Menjamin Rantai Pasok dan Ekonomi Lokal
Produktivitas tinggi tidak akan berarti tanpa adanya kepastian pasar bagi para petani. Oleh karena itu, pengembangan sektor pertanian di Keerom juga mencakup integrasi dengan pihak Bulog dan pemerintah daerah untuk menjamin penyerapan hasil panen, baik padi maupun jagung.
Langkah ini diambil untuk menekan inflasi di wilayah Papua serta memastikan bahwa petani mendapatkan harga yang layak atas hasil kerja keras mereka. Sinergi antara TNI yang mengawal keamanan dan logistik, serta pemerintah daerah yang mengelola kebijakan pasar, menjadi fondasi utama agar program ini tidak sekadar menjadi proyek jangka pendek.
Kodam XVII/Cenderawasih berkomitmen untuk terus mengawal keberlangsungan program ini di lapangan. Fokus utamanya adalah bagaimana hasil panen nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga petani di Kampung Woselay secara mandiri dan berkelanjutan.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari kunjungan Pangdam Cenderawasih ke Kampung Woselay?
Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung progres cetak sawah dan mendorong penerapan sistem pertanian modern agar ketahanan pangan di Papua, khususnya di Kabupaten Keerom, semakin kuat dan produktif.
Bagaimana nasib kepemilikan lahan masyarakat adat dalam program cetak sawah ini?
Pemerintah telah menegaskan bahwa program ini tidak akan mengalihkan kepemilikan tanah. Lahan tetap menjadi milik masyarakat adat, suku, dan marga setempat, sementara pemerintah memberikan dukungan fasilitas dan teknologi untuk pengelolaannya.
Apa saja bentuk bantuan yang diberikan pemerintah untuk mendukung petani di sana?
Pemerintah memberikan dukungan berupa penyediaan bibit unggul, pupuk, obat-obatan, peralatan pertanian modern, perbaikan sistem irigasi, serta pendampingan teknis dan kepastian pemasaran hasil panen melalui kerja sama dengan Bulog.
Ringkasan
Pangdam XVII/Cenderawasih dan Gubernur Papua meninjau proyek cetak sawah di Kampung Woselay, Keerom, untuk mendorong ketahanan pangan melalui teknologi pertanian modern seperti drone dan sistem Tabela. Program ini menargetkan peningkatan produksi padi hingga 10 ton per hektare dengan tetap menjamin hak kepemilikan tanah adat oleh masyarakat setempat.






