Kamu nggak mau balik ke sini? Itu kemauanmu? tanyanya tegas.
Toh, nantinya kita juga akan berpisah. Jadi sekarang aja kita pisah, sambil nanti aku urus di sini surat-suratnya.
Kamu sadar sama omonganmu, Mir? Bukannya kita udah janji mau sama-sama memperbaiki hubungan kita? Aku juga sudah berusaha untuk mengikuti kemauanmu, berusaha untuk mengubah sifat-sifat jelekku. Aku sudah banyak mengalah, sekarang tiba-tiba kamu bilang nggak mau balik ke sini,” ucap Bayu terdengar menahan emosi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku tahu kamu sudah berusaha untuk berubah, Mas. Aku hargai itu. Aku juga senang kamu mau mengikuti keinginanku, tapi.
Tapi apa? Apa masih kurang semua yang sudah aku lakukan? Aku harus gimana lagi, Amira Dzakiya? Suara Mas Bayu mulai tinggi.
Aku takut, semua yang kamu lakukan sekarang hanya karena terpaksa. Kalau nanti aku membatalkan keinginan untuk berpisah, apa kamu yakin nggak akan kembali ke sifatmu yang dulu? tanyaku bergetar. Aku belum yakin, Mas ¦, aku masih butuh ¦,
¦waktu? Itu yang mau kamu minta? Waktu? Sampai kapan? sergah Mas Bayu memotong omonganku.
Jujur, aku juga nggak tahu, Mas. Seperti biasa, setiap kali bicara soal hubungan kami, selalu ada rasa sakit di hati dan butiran air mata yang tak bisa kutahan.
Amira, tolong dengarkan aku! Kamu boleh nggak percaya kalau aku sungguh-sungguh, kamu boleh curiga kalau aku nanti akan kembali seperti dulu, tapi tolong kasih aku kesempatan.Tolong kamu pulang dulu ke sini, biar aku buktikan semua omonganku bukan janji kosong.
Kalau kamu ketakutan terus dan nggak ngasih aku kesempatan, gimana aku bisa ngeyakinin kamu kalau aku udah berubah? Gimana kamu bisa lihat kalau nggak balik ke sini?
Aku mulai terisak. Luka itu kembali basah. Aku hanya ingin bahagia, kenapa susah sekali? Kalau bahagia itu dengan cara berpisah, kenapa Mas Bayu nggak bisa ngerti? Apa aku harus memberikan Mas Bayu kesempatan seperti janjiku dulu?
Amira! Tolong, Mir! Pulanglah dulu ke sini. Aku dulu memintamu baik-baik ke Ayah. Sekarang kalau kamu tetap tidak mau bersamaku lagi, izinkan aku mengembalikanmu baik-baik juga ke Ibu. Paling tidak, kita coba dulu memperbaiki semuanya.
Kata-kata Mas Bayu seperti suara angin yang berhembus lembut, antara terdengar dan tidak. Aku memang harus jujur pada diri sendiri, saat ini alasan ingin berpisah itu apakah murni karena luka yang bertahun-tahun terpendam atau karena ada faktor lain? Apakah bukan karena rasa sayang yang mulai muncul pada Pras? Cinta lamaku yang tak sampai?
Karena Mas Bayu harus ke kantor, aku segera mengakhiri sambungan telepon.
Mas, maafin aku. Beri waktu aku untuk berpikir, ya? Kalau nanti aku sudah tenang, aku akan hubungi kamu. Mas baik-baik di sana. Jangan terlalu sibuk kerja, jaga kesehatan!
Kerjaanku nggak bikin sakit, Mir, tapi bayangan akan kehilangan kamu yang bikin aku tertekan ¦, baiklah, kamu pikirkan lagi semuanya baik-baik dengan tenang. Kalau memang kamu tetap memaksa untuk berpisah, paling tidak kamu pulang dulu ke sini, pamit baik-baik ke taman-teman dan bawa barang-barang kamu pulang. Suara Mas Bayu sudah lebih tenang.
Iya, Mas.
Mas Bayu segera menyudahi pembicaraan dan menutup telepon.
Aku termangu. Terus terang, aku tidak bisa berpikir, bahkan menjadi ragu, apakah keputusan minta berpisah sudah tepat? Apa aku tidak akan menyesal kelak? Kalau misalnya ternyata aku menikah dengan Pras, apakah aku akan bahagia dan tidak terluka lagi? Aku sudah lama tidak berhubungan dengan Pras, mungkinkah ia telah berubah? Apalagi ia pernah punya istri, pasti ia akan membandingkan dengan istrinya.
Bermacam pertanyaan timbul di benak tanpa aku tahu jawabannya.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.